Sejak awal tahun ini gue sadar bahwa gue hanya bisa menulis saat terinspirasi. Dan saat terinspirasi yang bisa gue lakukan hanya menulis. Seolah tanpa kata-kata gue bukan apa-apa. Bisa disimpulkan (dengan anehnya) bahwa saat gue menulis gue merasa ada sesuatu yang bermakna yang gue temui, sekecil atau sebesar apapun hal tersebut.

Jadi, kalau selama ini gue begitu jarang menulis, artinya gue gak merasa hidup gue memiliki makna memadai untuk menginspirasi diri gue sendiri.

Anehnya, gue mulai menulis lagi. Dan perubahan yang terjadi dalam keseharian gue hanya satu: sejak dua minggu lalu gue mulai membaca lagi, karena ada banyak waktu luang dan gue tak terlalu lelah.

Maka, apa hanya cerita yang gue anggap berharga? Kalau iya, orang macam apa gue ini?

Di Sudut Toko Buku, Aku Menemukan….

Sebelumnya aku ingin minta maaf. Momen itu seharusnya diketahui dua orang dan Tuhan saja. Jadi, sekali lagi, maaf atas kelancangan aku yang tak tahu diri. Aku hanya ingin menikmatinya–membuat ingatan itu terpatri. Hanya itu saja. Tak ada maksud apa-apa.

Ah! Kalian tentu termangu menerka apa yang sedang kubicarakan? Mari, kujelaskan.

Sederhana. Saat sedang menyesap segelas kepahitan yang ditawarkan hidup (iya, iya, kopi) aku merasa bosan. Syahdan kedua kaki dan otak berkoordinasi, membawaku ke hadapan toko buku. Tak ayal aku melangkah masuk layaknya mengunjungi rumah teman akrab, atau bahkan domisili sendiri.

Melewati deretan buku dalam negeri, mataku mencari rak penyangga karya dari negeri di seberang lautan. Setelah menemukannya, lantas aku mulai melihat-lihat. Seperti biasa. Sejauh ini, tak ada yang istimewa.

Lalu, aku mendengarnya.

Sayup-sayup telingaku menangkap suara tawa dan kata “polisi”. Sontak aku menoleh, refleks rasa penasaran akan apa yang sedang terjadi. Tak ayal, apa yang kulihat selanjutnya berhasil mengukir senyuman.

Ada seorang ibu duduk bersila. Di lengannya sang anak bertumpu. Ia sedang membacakan komik Tin-Tin untuk anaknya. Membuat suara-suara para tokoh dan bhakan efek suara yang ada. Sesekali ia menunjuk ke arah gambar agar si anak mengerti sudah sampai mana ia bercerita. Kali lain ia melirik sang buah hati untuk memastikan ia memperhatikan. Melihatnya terpaku pada cerita, ia tersenyum.

Sederhana. Yang ada hanya sejauh itu. Saat aku menorehkan kata dengan pensil yang kalian lihat dalam ulangan berbentuk ketikan, aku bahkan sudah tak ingat apa yang mereka kenakan. Padahal satu jam pun belum berlalu. Tetapi memang bukan kenangan yang ditinggalkan, melainkan kesan.

Bagi yang belum tahu, mari, kujelaskan sesuatu. Yang sudah tahu, sabarlah membaca. Berhenti di sini juga tak apa-apa.

Aku sudah bisa lancar membaca lebih dini dari anak kebanyakan. Majalah anak seperti Bobo dan AMI (Anak Manis Indonesia) kulahap dengan rakus seolah tulisan tersebut akan ngambek dan menghilang jika tak segera ku baca. Namun hal yang mungkin banyak orang tua syukuri itu ada sebabnya.

Begini, wahai pembaca budiman. Aku membaca karena tak ada yang membacakannya untukku. Menyedihhkan? Sedikit. Mungkin.

Layaknya anak usia belia lain, mungkin saat itu imajinasiku berada di puncaknya. Syahdan aku menjadi seperti orang gila mencari apa saja untuk dijadikan bahan khayalan. Orang tua lelah kuteror. Susterku tak sudi. Setelah berkontemplasi kuputuskan membacanya sendiri. Orang lain hanya ku ganggu jika aku tak memahami makna suatu kata. Demikian cuplikan masa kecilku.

Nah, melihat si ibu tadi, timbul rasa haru dan iri. Haru, karena di era teknologi modern si ibu yang bisa “menelantarkan” anaknya dalam genggaman media hiburan mau repot-repot bersembunyi di sudut toko buku dan meluangkan waktu membaca untuk anaknya. Iri, karena memori seperti itu adalah kesempatan yang tak pernah aku dapatkan. Rasanya hati ini terenyuh.

Rasanya aku berlebihan menyikapi apa yang terlihat selampau pandangan. Apa begitu menurutmu? Tetapi memang itu yang kurasakan. Salahkah? Kurasa tidak.

Tanpa sadar aku sudah menulis sebanyak ini. Ternyata aku lebih melankolis dari yang kukira. Mungkin itu hal baik. Entahlah.

Perlu kau tahu, si anak merangkak ke dalam pangkuan ibunya. Mungkin jika aku erus mengamati aku akan sempat melihatnya terlelap. Mungkin tidak. Aku takkan pernah tahu. Yang pasti si ibu langsung bersikap sedikit lebih waspada melihatku. Maaf, Bu. Aku akan pergi sebelum terkena laknan karena menerobos privasi momen ibu dan anak.

Tetapi, tak sempat ku ucapkan terima kasih. Karena kau membuatku percaya lagi. Bahwa masih ada orang yang rela–bahkan mau–membacakan cerita untuk anaknya. Bahwa ada yang cukup peduli.

Mungkin aku takkan melihat adegan serupa untuk waktu yang lama. Tak apa-apa. Ini sudah cukup. 🙂