Selusin Soal

Selusin pertanyaan untuk selusin tahun, umur GagasMedia. Dan pembaca selama setengah dari lusin itu akan menjawab demi satu dari selusin paket buku.


1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!

Pertanyaan yang sulit bagi siapapun yang senang dibuai cerita. Setelah mengobrak-abrik ingatan, Goodreads, dan inventori buku, akhirnya muncul juga 12 judul di bawah ini.

  1. Animal Farm — George Orwell
    Satire tentang situasi politik yang serupa dengan 1984. Novel ini dapat dikatakan versi yang lebih pendek dengan tokoh-tokoh hewan.
  2. A Study in Scarlet — Sir Arthur Conan Doyle
    Bagi pemggemar Sherlock Holmes judul ini tak asing. Novel ini memang karya pertama dari ratusan kisah Doyle yang menghadirkan detektif paling terkenal sepanjang masa.
  3. A Thousand Splendid Suns — Khaled Hosseini
    Karya kedua Khaled Hosseini, sayangnya tak seterkenal The Kite Runner. Bercerita tentang kehidupan wanita di Afganistan.
  4. Bumi Manusia — Pramoedya Ananta Toer
    Novel pertama dari Tetralogi Buru yang sangat terkenal. Menceritakan kehidupan Minke, seorang pria Jawa yang terjebak dalam aneka kasta sosial dan munculnya benih-benih perlawanan di dalam dirinya.
  5. Dunia Sophie — Jostein Gaardner
    Novel fiksi yang kental dengan filsafat, dikemas dalam bentuk yang menarik. Bukan bacaan yang tergolong ringan (mungkin karena terjemahan maka bahasanya agak kaku), namun menjadi bahan perenungan otak yang menyenangkan.
  6. Entrok — Okky Madasari
    Mengangkat kisah seorang perempuan yang lahir tanpa apa-apa dan berjuang mendapatkan kemakmuran, juga ketidakadilan yang menimpanya dan konflik dengan anaknya. Tak hanya itu, karya ini juga mengupas masalah feminisme, kepercayaan, dan politik.
  7. Gods and Kings — Lynn Austin
    Buku pertama dari seri Chronicles of the Kings (yang sayangnya tak kumiliki, hiks!). Fiksi Alkitab, mengangkat kisah hidup Hizkia.
  8. I Know Why the Caged Bird Sings — Maya Angelou
    Salah satu utobiografi Maya Angleou. Mengisahkan masa kecilnya yang menarik dan juga masalah keluarga serta pemerkosaan yang menimpanya.
  9. Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang — Erni Aladjai
    Novel ini puitis tapi tak muluk. Penokohannya baik, dan alur ceritanya kompleks namun tidak memusingkan. Kei bercerita tentang perang saudara yang terjadi di Maluku. Novel ini menjadi pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012.
  10. Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children — Ransom Riggs
    Buku pertama dari seri yang belum rampung (Riggs sedang menulis buku ketiganya). Konsep seri ini menarik sekali. Bukan hanya tokoh-tokohnya adalah anak-anak berkemampuan khusus, tetapi ide tiap tokoh diambil dari foto polaroid lama yang juga ditampilkan sebagai ilustrasi dalam buku.
    Example pictures from the book. There’s a graphic novel version too, but I haven’t gotten my hands on one.
  11. Sang Penyamar: Memoar Masa Perang — Rita la Fontaine de Clercq Zubli
    Buku ini bercerita tentang penyamaran Rita sebagai pria pada saat pendudukan Jepang di Indonesia. Selama 3 tahun lebih ia harus berubah dari seorang gadis cilik yang polos menjadi seorang pemuda yang cakap bekerja. Saat itu, Rita yang baru belasan tahun mengalami banyak hal. Ia menceritakan kengerian dan juga momen-momen menyenangkan yang kadang bisa terselip walau ancaman penyerangan dan identitas aslinya terungkap selalu membayangi.
  12. The Time Keeper — Mitch Albom
    Buku yang sungguh puitis. Kisahnya tentang seseorang yang pertama kali menemukan cara mengukur waktu lalu terperangkap dalam keabadian, dan mendapat cara menebus diri dengan menolong dua orang dengan masalah waktu yang berbeda: yang satu ingin mengakhiri waktunya di bumi, yang satu lagi tak pernah mau waktunya habis.

2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?

Semua karya Khaled Hosseini (A Thousand Splendid Suns, The Kite Runner, And the Mountains Echoed). Jika pernah membaca karyanya, siapapun akan setuju dengan kepiawaian sang penulis menarik-ulur emosi pembaca melalui adegan-adegan kecil tak terduga.

Oh, dan surat Dira dalam novel Dealova (Dyan Nuranindya). Surat manis itu terdengar begitu tulus, dan sampai sekarang masih bisa terlihat dampaknya dalam tulisan-tulisanku.

3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?

Karena sedang libur, dan iseng, sekalian sajalah dibuat desainnya.

nowflake

Kutipan ini mengajarkan tentang toleransi dan pengertian terhadap mereka yang kurang beruntung, dan bersikap tegas terhadap mereka yang melakukan kesalahan/berperilaku buruk karena ketidakpedulian.

4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari?

Mr. Darcy dalam novel Jane Austen yang berjudul Pride and Prejudice. Kami akan cocok karena bisa menjadi teman bicara yang seru dan sama-sama keras kepala tanpa harus bertengkar. Aku dapat membantu meringankan kebiasaannya berprasangka dan tak memerlukan gestur-gestur romantis yang “menye” sehingga tak membebaninya yang memang tidak begitu emosional. Mr. Darcy lebih memilih membantu dengan cara nyata. Ia juga orang yang jujur, sifat yang sangat kuhargai dalam seseorang.

5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!

Entrok karya Okky Madasari. Akhir novelnya berhubungan dengan bagian awal buku dan benar-benar tak terduga. (Lebih baik jawaban ini jangan dilanjutkan supaya tidak menjadi spoiler.)

6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?

Let Go oleh Windhy Puspitadewi. Dibeli 25 Juli 2010 dengan harga Rp 35.000,-

Alasan memilih buku ini? Penasaran. Let Go adalah buku pertama yang kutemui yang berkesan cukup ringan sehingga bisa dibaca saat santai, dan tak terpusat hanya pada masalah percintaan. Setelah beberapa kali mengunjungi Gramedia dan perhatianku selalu kembali ke buku itu, akhirnya Let Go menjadi pengantar ke dunia GagasMedia bagiku.

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?

Judul-judul buku yang menarik bagiku adalah judul yang memberi visualisasi surreal, judul yang menggunakan majas personifikasi pada benda abstrak. Misalnya “The Time Keeper” karya Mitch Albom, “Pasung Jiwa” karya Okky Madasari, dan “Sunshine Becomes You” karya Ilana Tan.

Aku juga menyukai judul yang agak panjang namun menceritakan sedikit konsep cerita, misalnya “Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” karya Ransom Riggs dan “One Hundred Years of Solitude” karya Gabriel García Márquez.

8. Sekarang, lihat rak bukumu… cover buku apa yang kamu suka, kenapa?

Sampul buku-buku hard cover yang kumiliki kebanyakan bagus. Memang media yang tebal memberi ruang kreativitas lebih.

Maaf, aku terlalu malas mengeluarkan buku ini dari pojok dalam rak. :’|

Sampul ini cantik dan memiliki perincian indah. Tulisannya berwarna perak. Sampulnya juga sangat melambangkan isi buku—karya-karya Poe yang suram, terkadang seram, indah dalam tragedi. Sama seperti hidup pengarangnya.

9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?

Buku-buku yang mengangkat permasalahan sosial seperti To Kill A Mockingbird (Harper Lee) dan Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer). Menyenangkan untuk dapat mempelajari budaya dan konflik sosial, apalagi dilihat dari sudut pandang yang begitu menarik.

Juga buku-buku yang berdasarkan kisah nyata seperti Sang Penyamar: Memoar Masa Perang (Rita la Fontaine de Clercq Zubli). Memoar dan kisah nyata menarik karena memberi kesempatan pada pembaca untuk belajar buku dan membayangkan kehidupan orang-orang yang benar-benar mengalami apa yang mereka baca.

10. Siapa penulis yang ingin kamu temui? Kalau sudah bertemu, kamu mau apa?

Pramoedya Ananta Toer. Aku ingin mendengarnya bicara dan bercerita tentang banyak hal. Aku ingin belajar darinya dan kehidupannya. Aku ingin mendalami kepribadian penulis Indonesia yang menghasilkan permata literatur. Aku ingin menyeruput segelas kopi atau teh sambil mendengar perasaannya saat tahu buku-bukunya lebih mudah ditemukan dalam tulisan bahasa asing dan buku bajakan ketimbang di rak-rak toko buku besar.

Aku ingin tahu bagaimana ia berhasil menyelesaikan Tetralogi Buru kendati semua kesulian yang dialami. Dan aku sangat ingin berterima kasih atas sumbangsihnya sebagai anak bangsa. :’)

11. Lebih suka baca e-book atau buku cetak, kenapa?

Buku cetak. Selalu buku cetak. Terlepas dari harga dan kesulitan mencari stok judul-judul tertentu, fakta bahwa buku cetak mudah hilang dan sobek, akan menguning seraya menua, bisa terkena jamur dan entah apalagi, menurutku semuanya worth it.

Aku menyukai bau dan tekstur kertas. Aku suka merasakan debar kecil saat membuka bungkus plastik sebuah buku baru. Rasa puas menemukan buku di tumpukan/rak dengan mengenali sampul diikuti perjuangan kecil saat mau menariknya keluar dan merasa memiliki jari-jari sebesar gajah. Tulisan kecil dan selipan-selipan bagai harta karun yang terdapat dalam buku bekas, lipatan penanda halaman yang mengandung kata-kata yang menyentuh hati si empunya.

Sungguh… bisakah e-book menggantikan semua itu?

12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia!

GagasMedia
Kini umurmu genap
Selusin tahun

Terima ini
Kubuatkan haiku
Kado untukmu


 

Astaga, ternyata menjawab 12 soal cukup memakan waktu. Lewat 3 jam sudah, hahaha….

Semoga kalian yang menyempatkan diri membaca ini tak bosan, dan semoga rekomendasi buku-buku di atas berguna. Sekali lagi, selamat ulang tahun, GagasMedia! Semoga kalian suka dengan kadonya. 😉

“It’s risky, falling in love.”

“I know that,” I answered. “I’ve been in love before. It’s like a narcotic. At first it brings the euphoria of complete surrender. The next day, you want more. You’re not addicted yet, but you like the sensation, and you think you can still control things. You think about the person you love for two minutes, and forget them for three hours.

“But then you get used to that person, and you begin to be completely dependent on them. Now you think about him for three hours and forget him for two minutes. If he’s not there you feel like an addict who can’t get a fix. And just as addicts steal and humiliate themselves to get what they need, you’re willing to do anything for love.”


“So we should only love those who can stay near us,” I said.


Both quotes are Pilar’s dialogue from Paulo Coelho’s “By the River Piedra I Sat Down and Wept”.

Untuk Disimpan: Aksaratua

Hari ini saya menemukan seuntai kicauan dari aksaratua yang mendeskripsikan kondisi dan resolusi saya dengan baik. Maka, saya putuskan memposnya, sekedar untuk kemudahan mencari dalam kintaka blog. Silakan diintip pula blognya jika pembaca berkenan.

https://twitter.com/aksaratua/status/575673193760841728

https://twitter.com/aksaratua/status/575673662415618048

Semua karya yang ada dalam link merupakan hasil karya administrator aksaratua (A) yang saya kagumi dalam diam dan dalam postingan ini.