Ketakutan Gue (Bagian Satu)

Maaf kalau post ini gaje. Gue menulisnya lewat jam tiga subuh dengan setengah kesadaran tanpa niat menyuntingnya, hahaha….

Apa ada sesuatu yang kau takuti tanpa alasan yang jelas? Pernahkah ketakutan itu begitu erat melingkupimu hingga kau bahkan tak tahu mengapa sebenarnya kau takut?

Gue pernah mengalami hal itu. Bertahun-tahun lalu, dan belum lama ini. Gue akan menceritakan tentang yang dulu saja, ya? Setidaknya untuk sekarang.

Saat kecil, gue sering terjatuh. Ada tanda di lutut kiri gue yang bertahan sejak TK hingga SMA. Baru dua tahun terakhir ini tanda itu perlahan-lahan menghilang. Tapi gue jarang sekali menangis. Gue tak pernah menangis melihat darah atau luka.

Hal-hal bersifat fisik memang membuat gue menangis—otot tertarik, kram parah, kepala benjol terantuk besi karena kecerobohan. Namun hal-hal yang gue tangisi itu… aneh.

Ada satu kenangan yang entah mengapa merasuki otak gue subuh yang gelap ini. Saat SD gue sering main polisi-maling. Suasana pasti ribut, untuk memanggil seseorang harus berteriak-teriak. Dalam satu permainan saat gue menjadi kelompok maling, gue melihat ada titik yang tidak dijaga dan bisa digunakan untuk membebaskan setidaknya dua orang. Lalu gue berteriak-teriak pada maling-maling lain yang berkeliaran. Tak ada yang mendengar. Yang ada di markas pun tak bereaksi, padahal dia pas di sebelah gue.

Entah mengapa gue tiba-tiba menangis. Lalu semua yang melihat panik. Butuh waktu yang lama sebelum gue sadar bahwa gue merasa suara gue tak didengar. Memang waktu itu hanya permainan, dan teman-teman gue terlalu hanyut dalam keseruan yang ada.

Tetapi takut yang gue rasakan itu nyata. Apa suara gue memang begitu tak berharga? Apa gue yang tidak berharga sehingga tak didengar?

Banyak kejadian berbeda dengan benang merah—suara gue terbuang bahkan tanpa didengar—yang semakin membuat gue terpuruk tanpa gue sadari. Apa gue gila perhatian? Entah. Tetapi yang gue minta hanyalah untuk mendengar apa yang gue katakan. Kalau setelah itu gue dimarahi karena apa yang gue katakan tidak sopan atau ditertawakan karena konyol, silakan. Tetapi apakah sekedar mendengar terlalu sulit? Rasanya tidak.

Akhirnya gue memutuskan untuk diam. Menilik kembali masa lalu lewat sejumlah foto, gue menemukan wajah gue cukup jujur—kecuali foto wajib seperti foto kelas atau pas foto, gue hanya mau tersenyum saat memang gue senang. Selama sekitar 4 tahun wajah gue hampir tak pernah tersenyum. Yah, demikianlah wajah seseorang yang selalu menggerutu, tetapi tak bersuara. Semuanya dipendam, takut kalau dikeluarkan hanya menyakiti diri sendiri saja.

SMP tiba. Ada sebuah tugas Biologi. Tiap murid harus membawa satu artikel ilmiah dan menjelaskan isinya dalam satu menit. Kalau bisa benar-benar pas enam puluh detik. Penilaiannya? Ha! Murid yang mendapat giliran harus membalikkan badan, lalu seisi kelas akan menilai melalui suara terbanyak, dari rentang 60 – 100.

Karena giliran maju sesuai absen, dan nama gue berada di urutan bawah, gue bisa melihat bahwa hanya ada beberapa anak yang objektif, dan sisanya memberi nilai sesuka hati. Jika mereka tak menyukai orang tersebut, anak itu bisa mendapat nilai pas-pasan walau presentasinya bagus. Beberapa kali si guru menguap, bahkan terlihat setengah tidur.

Artikel gue berhubungan dengan lumba-lumba dan telinga. Gue sendiri sudah lupa apa isinya. Artikel itu gue dapatkan dari teman yang memang membawa artikel lebih, dan gue cepat-cepat membacanya. Presentasi yang gue berikan pun sekedarnya. Saat menghadap papan dan menunggu voting, gue mengira-ngira akan mendapat nilai berapa. Gue bukan anak yang banyak bergaul, tapi masih cukup ramah. Dan presentasi tadi lumayan. Yah, delapan puluh, mungkin?

“Loh, kok nilainya segitu?” suara si guru terdengar.

Waduh, maksudnya apaan, nih?

“Kali ini saya buat pengecualian. Kamu saya kasih seratus,” kata si guru seraya menghadap gue yang saat itu langsung melongo. Pasalnya, gue melihat si guru memperhatikan saat detik-detik pertama, namun memain-mainkan kertas untuk seterusnya dan hanya menengok sekilas ke arah jam untuk menghitung jumlah detik yang gue habiskan setelah gue selesai.

Oke. Ini mungkin terdengar konyol. Setelah bertahun-tahun “bisu”, kejadian sekecil itu bisa membuat gue percaya diri kembali. Bahwa ada orang-orang yang memang mendengar, namun tidak terlihat.

Tak sampai hal itu saja… si guru membuat pengecualian untuk gue. Pengecualian. Artinya ia memperhatikan, bukan sekedar mendengar.

Jujur, itu salah satu kejadian dalam hidup gue yang sudah membantu memupuk rasa percaya diri gue. Saat memberi presentasi itu, gue berbicara lantang dan jelas, bukan dengan bisikan. Gue berdiri dengan tegak dan mata menatap penonton, tidak dengan tubuh bungkuk seraya melihat ke bawah.

Separah itukah gue takut bersuara? Dulu, ya. Kalau berkenalan dengan orang asing dan membuka mulut, terkadang tak ada suara sama sekali yang keluar dari kerongkongan gue. Separah itu.

Lalu gue merenung. Apa gue sudah memperjuangkan pendapat gue? Rasanya tidak. Gue diam saja ketika dipotong, dan hanya menjawab “oh” saat usulan gue ditolak. Bahkan saat ditanyakan pendapat, gue memilih diam karena tak mau repot-repot mengeluarkan suara yang saat itu gue yakini akan sia-sia.

Tapi… penolakan itu masih akan ada, kan?

Jadi gue bertanya lagi pada diri sendiri. Bertanya baik-baik.

“Apa hal terburuk yang pernah terjadi saat lo tidak didengar?”

Sedih. Marah. Kecewa. Merasa tak berharga. Merasa tak dianggap. Bla… bla… bla… apa lagi?

Dengan daftar yang gue miliki dan semua hal buruk (dalam skala anak ababil) yang gue alami, apakah dunia gue berakhir? Apakah hidup gue musnah dan masa depan cerah sirna? Apa gue ditendang keluar rumah atau dicemooh masyarakat luas? Dan walau semua hal di atas yang gue takuti sudah terjadi, bukankah gue tetap bisa merasa senang saat memakan es krim dan bahagia mendapat hadiah ulang tahun?

Jadi apa lagi yang harus gue takuti?

Kalau harus melalui hal-hal itu, gue memang akan tetap sedih. Tapi selama ini gue mampu menghadapinya, kan?

Bagaimana dengan opsi yang lain—bersuara terus?

Riskan. Kalau gue mencoba terus dan hasilnya tetap mengecewakan, gue akan semakin terpuruk, semakin tak percaya diri, semakin merasa diri gue tak berharga. Tetapi, setidaknya, gue tetap bisa mengeluarkan isi pikiran gue, kan?

Hmm… selalu ada malu. Malu kalau salah bicara, kalau bicara tetapi dianggap konyol. Hal-hal seperti itu. Namun gue sendiri memang tak tahu malu, jadi apa masalah sebenarnya? Apakah ada masalah sama sekali?

Di titik ini, ketakutan gue mulai terlihat konyol. Maka gue memutuskan untuk mengatasinya. Mulai dari memupuk percaya diri di depan kelas, saat orang-orang memang harus mendengarkan gue, lalu mulai sering memberi masukan saat kerja kelompok.

Lama-lama, gue senang. Gue tak harus memaksakan diri terlalu lama sebelum terbiasa untuk berbicara. Gue tahu tak harus memaksakan pendapat, dan sebagiannya adalah karena gue tahu rasanya jika pendapat gue ditolak mentah-mentah. Gue menemukan bahwa ternyata gue bisa luar biasa cerewet saat senang. Ternyata gue mampu menghadapi kritik habis-habisan karena selama gue membisu, gue sebenarnya membiasakan diri gue untuk mendengar orang lain.

Sekarang? Setidaknya gue nggak mati kutu kalau harus berhadapan dengan orang asing. Bisa memaksakan diri menghadapi penonton kecil walau gugup.

Lalu gue mengingat dulu, saat gue gelagapan jika ditanya-tanya oleh orang yang baru gue kenal. Astaga… sebenarnya apa yang gue takutkan dulu?

Advertisements

Peribahasa; Sekeping Kenangan dan Dua Pelajaran

Dulu, zaman seragam lima hari seminggu gue antara pelaut dan merah-putih, guru gue punya cara menarik untuk mengajak murid-muridnya belajar. Setiap pelajaran Bahasa Indonesia, ia akan menyuruh kami membuka buku kumpulan peribahasa kami, lalu membuat lomba. Siapa yang terlebih dahulu menebak arti suatu peribahasa dengan benar (walau bukan “menebak” juga karena dibantu kamus) ia akan mendapat poin.

Tidak seperti kamus biasa, kamus peribahasa tak memiliki batasan-batasan huruf. Dan ini yang menyebabkan permaninan kami berlangsung seru. Keberuntungan ikut dibawa pula, soalnya. Sampai suatu hari gue melakukan sesuatu….

Gue mengambil selembar kertas origami dan mengguntingnya kecil-kecil, lalu menempelnya dan menuliskan huruf-huruf sebagai penanda. (Sungguh gue baru-baru ini menemukan buku itu lagi, masih utuh satu dekade kemudian. Hanya sedikit berdebu dan usang. Tetapi gue malas memotretnya, hahaha….) Dan seperti yang bisa ditebak, beberapa hari berikutnya kelompok gue hampir selalu menang. Lalu kelompok lain ada yang menuding gue curang.

Nah, gue bingung, sebingung sekarang. Kan itu hasil kerja gue, sesederhana apapun. Tak ada larangan, bahkan tak ada yang dipertaruhkan dalam permainan. Kenapa mereka harus marah? Kalau mereka mau, mereka juga bisa berbuat yang sama. Lagi; kenapa mereka harus marah?

Lalu gue belajar bahwa sepuluh menit gue menghabiskan waktu bisa memberi keuntungan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Siapa tahu kejadian itu salah satu alasan kenapa gue begitu menjunjung tinggi kepraktisan dalam hidup? Tak apa susah sedikit di awal kalau memang banyak manfaat kedepannya.

Hal lain yang gue pelajari; orang-orang selalu melupakan usaha dan terlalu berfokus pada apa yang kini mereka miliki. Jika seseorang bercerita tentang perjalanan hidupnya sendiri, ia akan memberi proporsi yang lebih besar terhadap masa-masa sulitnya ketimbang jika orang lain yang menceritakan. Kalau orang ketiga yang membawakan, perhatikan bagaimana wajahnya berubah menjadi setengah berangan saat menceritakan kekayaan atau prestasi yang diraih si subjek pembicaraan.

Apa gue juga begitu? Entahlah. Tetapi kabar baiknya gue selalu bisa berubah. 🙂

Terkadang hidup begitu. Kita iri pada orang lain, menganggap mereka “curang” dalam kehidupan. Sepertinya jatah keberuntungan mereka lebih besar dari orang lain pada umumnya. Padahal, bisa saja itu karena mereka dikaruniai talenta dalam bidang apapun itulah. Bisa saja mereka juga sudah lebih banyak berusaha, tetapi kita tidak mengetahuinya.

Kalau begitu, apa bisa dibilang curang?

Di Sudut Toko Buku, Aku Menemukan….

Sebelumnya aku ingin minta maaf. Momen itu seharusnya diketahui dua orang dan Tuhan saja. Jadi, sekali lagi, maaf atas kelancangan aku yang tak tahu diri. Aku hanya ingin menikmatinya–membuat ingatan itu terpatri. Hanya itu saja. Tak ada maksud apa-apa.

Ah! Kalian tentu termangu menerka apa yang sedang kubicarakan? Mari, kujelaskan.

Sederhana. Saat sedang menyesap segelas kepahitan yang ditawarkan hidup (iya, iya, kopi) aku merasa bosan. Syahdan kedua kaki dan otak berkoordinasi, membawaku ke hadapan toko buku. Tak ayal aku melangkah masuk layaknya mengunjungi rumah teman akrab, atau bahkan domisili sendiri.

Melewati deretan buku dalam negeri, mataku mencari rak penyangga karya dari negeri di seberang lautan. Setelah menemukannya, lantas aku mulai melihat-lihat. Seperti biasa. Sejauh ini, tak ada yang istimewa.

Lalu, aku mendengarnya.

Sayup-sayup telingaku menangkap suara tawa dan kata “polisi”. Sontak aku menoleh, refleks rasa penasaran akan apa yang sedang terjadi. Tak ayal, apa yang kulihat selanjutnya berhasil mengukir senyuman.

Ada seorang ibu duduk bersila. Di lengannya sang anak bertumpu. Ia sedang membacakan komik Tin-Tin untuk anaknya. Membuat suara-suara para tokoh dan bhakan efek suara yang ada. Sesekali ia menunjuk ke arah gambar agar si anak mengerti sudah sampai mana ia bercerita. Kali lain ia melirik sang buah hati untuk memastikan ia memperhatikan. Melihatnya terpaku pada cerita, ia tersenyum.

Sederhana. Yang ada hanya sejauh itu. Saat aku menorehkan kata dengan pensil yang kalian lihat dalam ulangan berbentuk ketikan, aku bahkan sudah tak ingat apa yang mereka kenakan. Padahal satu jam pun belum berlalu. Tetapi memang bukan kenangan yang ditinggalkan, melainkan kesan.

Bagi yang belum tahu, mari, kujelaskan sesuatu. Yang sudah tahu, sabarlah membaca. Berhenti di sini juga tak apa-apa.

Aku sudah bisa lancar membaca lebih dini dari anak kebanyakan. Majalah anak seperti Bobo dan AMI (Anak Manis Indonesia) kulahap dengan rakus seolah tulisan tersebut akan ngambek dan menghilang jika tak segera ku baca. Namun hal yang mungkin banyak orang tua syukuri itu ada sebabnya.

Begini, wahai pembaca budiman. Aku membaca karena tak ada yang membacakannya untukku. Menyedihhkan? Sedikit. Mungkin.

Layaknya anak usia belia lain, mungkin saat itu imajinasiku berada di puncaknya. Syahdan aku menjadi seperti orang gila mencari apa saja untuk dijadikan bahan khayalan. Orang tua lelah kuteror. Susterku tak sudi. Setelah berkontemplasi kuputuskan membacanya sendiri. Orang lain hanya ku ganggu jika aku tak memahami makna suatu kata. Demikian cuplikan masa kecilku.

Nah, melihat si ibu tadi, timbul rasa haru dan iri. Haru, karena di era teknologi modern si ibu yang bisa “menelantarkan” anaknya dalam genggaman media hiburan mau repot-repot bersembunyi di sudut toko buku dan meluangkan waktu membaca untuk anaknya. Iri, karena memori seperti itu adalah kesempatan yang tak pernah aku dapatkan. Rasanya hati ini terenyuh.

Rasanya aku berlebihan menyikapi apa yang terlihat selampau pandangan. Apa begitu menurutmu? Tetapi memang itu yang kurasakan. Salahkah? Kurasa tidak.

Tanpa sadar aku sudah menulis sebanyak ini. Ternyata aku lebih melankolis dari yang kukira. Mungkin itu hal baik. Entahlah.

Perlu kau tahu, si anak merangkak ke dalam pangkuan ibunya. Mungkin jika aku erus mengamati aku akan sempat melihatnya terlelap. Mungkin tidak. Aku takkan pernah tahu. Yang pasti si ibu langsung bersikap sedikit lebih waspada melihatku. Maaf, Bu. Aku akan pergi sebelum terkena laknan karena menerobos privasi momen ibu dan anak.

Tetapi, tak sempat ku ucapkan terima kasih. Karena kau membuatku percaya lagi. Bahwa masih ada orang yang rela–bahkan mau–membacakan cerita untuk anaknya. Bahwa ada yang cukup peduli.

Mungkin aku takkan melihat adegan serupa untuk waktu yang lama. Tak apa-apa. Ini sudah cukup. 🙂

It’s over. I can’t believe this.

My high school life is done. No more studying in class. No more talks about countries’ silly affairs and historical figures’ wackiness. No more protesting in class, begging a teacher to postpone a certain feared exam. No more hanging out at the canteen during recess.

byehighschool

This is just depressing. Like, I know this day was coming, but I just didn’t see it coming this fast. Time went by like a blur. Over the last few months it’s been monotone and boring, with try outs and motivational quotes and the stacks of questions teachers gave us for practice. But I enjoyed parts of it nonetheless. There’s always a laugh I could look for, moments to be forever encrypted into memory. Sure, they’ll be twisted into perfection, because we tend to savor the sweet things and focus on them more. That doesn’t change the fact they’re what I’ll have left. That, a yearbook, and various trinkets I’ve kept over the last three years or so.

I’m angry. I didn’t do my best. Both in studies and in life, though I’m mostly angry for the latter. I could’ve done a lot of things differently. Make time for my real friends more, drop the fake ones sooner. Stood up for what I loved doing harder. It’s too late for that now, and I’m happy where I am. It’s just my “what if” instinct kicking in, I guess.

They say you’ll never know how valuable something is until you lose it. I disagree. I know the days I’ve gone through are valuable. I just didn’t think I’ll be this sad once it’s over.

Well, there’s always memories. 🙂

Flashback

Once upon a time, I lived
without a care of what society wants.
Once upon a now I’ve seen
how people could be so mean,
how they love to daunt.

Once long ago I smiled to see faces
of loved ones and those I haven’t seen in ages.
Not so long ago I’ve started smiling at things
pieces of surreal reality that hold no meaning.

There was a time when I was afraid and loss,
their clutches so terrifying,
I endured, my goals I sought.
Now is a time when I’m not so afraid
to let go and give up the battles, half-fought.
“Maybe it’s for the best,” an excuse I believe as a thought.

There are memories of me.
Reminders of what could’ve been.
Projections of what should’ve been.

There was everything in store for me.
Now the bag of options is close to empty.

Once upon a time, I was a child in childhood.
Once upon a now, I’m a teenager drawing near adulthood.

Once upon a time, I could just be me.

In a time in the future, all that would be none than a memory.

I Wish….

You know how people would say no if they were asked if they’d change anything if they could? Those who believe “Everything’s for the best.”?

Yeah. I’m not one of those people.

I think some of those people are just too in the moment. Or too afraid to find out what difference they would’ve made. Still, I’m not supposed to judge.

I know that everything I did (and didn’t do–that matters too) shapes the “me” I am today, but I still genuinely (and maybe naively, I don’t care) believe I could’ve done some things to make my present life better.

I wish I didn’t waste half of my elementary and junior high school years with people whose company I didn’t even enjoy. The ones who’d shun me out if I didn’t agree to everything they looked upon as important. And what a fool I was for being scared of being left alone.

I wish I’d read more back then too. I had the proper time to actually sit for two hours until my back ached, my eyes got sore, and my hands hurt from opening pages with sharp paper.

I wish that in the months I spent at junior high, staying late way past the last school bell’s ring, I had mustered up enough courage to go explore the senior high building, whether with or without others from POPS. Sooner or later I would’ve discovered my seniors practicing debate. I would’ve fallen in love sooner and…

I wish I had. I never knew how much I wish to be immersed in it. I would’ve fought for it harder. Cried more. Fought with my parents back and forth more often and earlier on. They would’ve given up sooner. And I’d have more experience than what I have now.

I wish every CNY in the last five years I was more open to the elderly in my extended family. God knows (He does. I’m not using His name in vain here) they’re interested in what their descendants are up to. They have so much stories to tell. I’ll truly miss their genuine smiles when the time’s come.

I wish I’d learnt another language when I was younger. No, not Chinese, probably, though it wouldn’t have done me harm if I’d given it a chance. Or a musical instrument. But there’s still time for both. So no (major) regrets in these two fields.

I wish when I was a child my parents really put me in… what’s it called in English? I don’t know… let’s just call it a naughty child’s institution. That’s what it is anyway. One time they almost dropped me there, but I hid in the back of the car and kept moving around, so they couldn’t catch me. If I’d been through all that I’d probably be a more mature person, and I have a good reason for my parents to let me take on an education in a slightly farther place from home.

I wish I’ve told some people how I feel about them. Platonic love, hatred, whatever the feeling is. I’ll take too much of your (and my) precious time and gadget battery if I have to explain each and every person.

I wish I’d asked some questions, and hadn’t asked some others. Though, while I admit that knowing something might bring me harm, sometimes I need to know it. So, this one’s not that big of a deal.

I wish when I was little I just nodded when Mom actually agreed to buy two Shih Tzu pups. I didn’t want them for two reasons; I liked (and still prefer, to this day) big dogs, and the two pups were in a bit of a fight. No, not a playing kind of fight. One with growls and aggressive barking and really trying to hurt each other. But that fault would’ve been Mom’s. And I’d at least know what it’s like to have two little fur-balls in the house.

Well, those are the main things I’d like to change in a nutshell.

I wish I could.

So, do you have anything you regret? Feel like sharing? I’m up for random chats. 🙂

“Siapa yang ngajarin?”

Bagi yang bingung kenapa ada tag “Education” di post ini, gue merasa bahwa mereka yang bisa membaca di antara alinea bisa mengambil pelajaran. Atau setidaknya teori yang bisa diocehkan lalu dipelajari orang lain. Mungkin tidak ada apa-apa disini. Entahlah. Semua tergantung mata sang pembaca.

*  *  *

Ini kisah nyata tentang saya yang kurang ajar dan Ibunda yang kurang mengajar.

Suatu hari setelah ketahuan berbohong, gue dimarahi. Kasusnya? Mengambil camilan dari kulkas tanpa izin. Sepele memang, sejujurnya. Gue udah lupa apa camilan itu, yang gue ingat Mama sudah wanti-wanti jangan makan dulu. Apa daya, iman gue setipis lembaran tisu. Hahaha….

Singkat cerita (dan ini gue persingkat ceramah selama 30 menit menjadi satu kalimat kesimpulan), nyokap gue berkata, “Siapa, sih, yang ngajarin kamu bohong?”

Dan gue menjawab dengan setengah takut-takut, “Mama.”

*  *  *

Kenapa gue dengan begonya menyahut balik? Kebiasaan. Dulu waktu TK pun gue pernah dimarahi guru karena terlalu detil. Kasusnya guru gue marah karena kelas yang ribut, lalu menyuruh semua diam dan hanya boleh bicara kalau mengangkat tangan terlebih dahulu lalu ditunjuk. Lantas gue menunjuk tangan.

“Kenapa, Shannon?”

“Kecuali Miss, kan? Kalau Miss yang ngomong gapapa, kan?”

Dikira kurang ajar (bahasa halus dari nyolot) gue dimarahi. Orang tua pun sempat diberitahukan. Sejujurnya gue beneran nanya. Lagian, kalau dia harus angkat tangan juga, siapa yang ngasih izin bicara? Masak kepala sekolah harus masuk kelas dulu?

*  *  *

Kembali ke cerita awal, bisa dilihat kebiasaan itu belum berubah. Sekarang pun gue masih suka mendapat tatapan tidak percaya rekan-rekan sependeritaan di sekolah lantar termasuk “berani ngomong” ke guru. Toh, mereka manusia juga. Dan selama gue gak kelewatan, gak ada yang salah, kan?”

Nyokap gue shock saat gue jawab dengan sisa-sisa kepolosan saat itu. Rentetan ocehan kembali terdengar, dan percayalah, suaranya tak merdu.

Akhirnya gue jelaskan jawaban gue itu.

*  *  *

Saat itu gue lagi asik nonton TV. Telpon rumah berdering. Gue angkat.

“Adek, mamanya ada?”

“Sebentar, ya.”

Ada orang dari bank mau ngomong. Nyokap suruh gue bilang aja dia lagi mandi. Gue gamau. Setelah ancaman singkat gue menurut juga. Lalu gue nangis.

*  *  *

Fakta menyedihkan. Sekarang pun, walau sudah belajar untuk berani dibenci karena beropini, terkadang gue masih berbohong. Dan gue paling banyak bohong (atau menyembunyikan kebenaran, setidaknya) dari orang tua. Oke, mungkin sama banyaknya dengan yang gue sembunyikan dari teman. Tapi idealnya ortu paling tahu, kan?

Sekarang kalau fakta itu tersinggung, nyokap marah. Dia bilang, gue ingat-ingat kesalahannya. Lha, kan gue bukan sengaja menyinggung karena benci, tapi emang itu adanya. Apa bedanya dengan dia yang menganggap gue akan selalu mengulang hal yang sama? Yang menginggung tiap kejadian terakhir dimana gue melakukan apa yang dia nggak suka tiap kali gue melakukannya lagi?

*  *  *

Sejujurnya, banyak ortu jaman sekarang yang mungkin sedih, marah, atau keduanya melihat anak-anak kini. Nyatanya, kemungkinan besar mereka mengambil andil, walau tak ada maksud di baliknya.

“Kenapa, sih, anak-anak sekarang mau aja dibego-begoin?”
Siapa yang mengajarkan–bukan, menyuruh–kami diam saat dulu kami bertanya dan menambahkan “nurut aja”?

“Siapa yang ngajarin begitu?”
Lihat dulu, apa kau melakukan apapun itu di depan anakmu? Lalu dapatkah kau menyalahkan hanya dirinya jika ia meniru?

“Jangan gampang percaya orang lain!”
Siapa yang dulu menyuruh kami berhenti mempertanyakan segala hal?

“Kok kamu ikut-ikutan orang lain, sih?”
Siapa yang dulu membanding-bandingkan? Apakah sepenuhnya salah kami jika menemukan panutan? Karena di mata ortu dan anak suatu benda tak terlihat sama. Layaknya seorang manusia.
Siapa yang dahulu berkata “Andai kamu seperti dia.”? Dan kami pun meniru. Hanya saja meniru yang salah. Kalian inginkan yang baik, kami tiru yang buruk. Dan kami belajar meniru siapa yang kami idolakan. Dan terkadang idola itu bisa menyesatkan.

“Kenapa harus nyontek?”
Karena kami diajarkan untuk mendapat nilai bagus. Karena kami takut dimarahi. Takut mendapatkan tatapan kekecewaan. Dan terkadang kami terlalu bodoh untuk menyadari banyak hal yang lebih penting, seperti kejujuran dan kepercayaan. Tetapi kami juga perlu kata-kata seperti “Seenggaknya kamu belajar.” dan bukan hanya “Kamu harus dapat nilai lebih tinggi di ulangan berikutnya!”

“Kenapa mau aja nurut sama teman?”
Karena kami tak lagi diajarkan untuk mempertanyakan. Dan kami butuh penerimaan. Bukan berarti kalian tak memberi, tapi kami juga perlu penerimaan dari orang lain. Dan terkadang apa yang ada tak mencukupi. Sesederhana itu. Serumit itu.

“Siapa yang ngajarin ngomong kasar begitu!? Mulut kayak tong sampah!”
Apakah menyamakan mulut kami dengan tong sampah tak salah? Apakah itu tak kasar? Apa air mata yang kami teteskan di mata kalian tak kasat?

“Malu-maluin!”
Maka dari itu, LUANGKAN WAKTU! Ajar apa yang memalukan dan apa yang tidak! Jangan mentang-mentang kami mulai dewasa, kalian berharap “terima jadi” saja. Yang kami pelajari lewat sosialisasi tak selamanya bisa memenuhi ekspektasi. Mengertilah hal tersebut.

“Siapa yang kasih tau harus sembunyi-sembunyi dari Papa-Mama, hah!?”
Kalian. Saat tiap kesalahan dimaki. Tiap kali kami tersandung malah diinjak. Lalu saatnya tiba saat kami memutuskan sembunyi dan pada akhirnya tak memikirkan apakah yang kami lakukan itu benar di mata kalian. Toh, kalian tidak akan tahu?

*  *  *

“Kenapa nggak pernah cerita sama Papa-Mama? Ama teman melulu! Pilih teman atau orang tua?

Bukankah itu kalimat ancaman favorit? Hingga layak mendapat bagiannya sendiri.

Kalimat yang membuyarkan begitu banyak rencana jalan-jalan. Yang mengakibatkan begitu banyak kemarahan dan bantingan pintu. Kasihan pintunya. Nanti rusak. Mahal, woy!

Sejujurnya, keduanya sama saja. Tapi kalau harus memilih, gue akan memilih teman. Untuk alasan-alasan yang tak perlu gue jelaskan. Orang tua gue sudah tahu. Percayalah, pada mereka sudah gue katakan hingga mulut bagai berbusa.

Tetapi pikirkan saja hal ini: Apa yang membuatmu, jika kau orang tua, lebih “layak” dipilih ketimbang teman-teman anakmu? Dan tolong jangan berpikir, “Gue yang bayarin hidup dia! Masak dia lebih milih teman?”

Jangan pikirkan apa yang kalian telah beri, melainkan apa yang ia terima. Karena nasehat yang diberi bisa diterima sebagai tusukan ke hati. Demikian hal-hal lain.

*  *  *

“Siapa yang ngajarin?”

Kalian, orang tua. Baik ada atau tidak. Dengan ada namun tidak mengerti mengajarkan benci. Dengan tidak ada mengajarkan arti perhatian. Rasa kehilangan.

Tak selamanya hal itu buruk. Terkadang bisa dijadikan pelajaran.

Sekarang gue dilabelkan orang yang blak-blakkan. Ada unek-unek bersama yang ingin dikeluarkan? Oh, gue menjadi salah satu kandidat utama untuk menyampaikan. Dan itu menjadi imaji diri ini. Bahkan bagian. Apa gue menyesal?

Sama. Sekali. Tidak.

Tapi gue menyayangkan apa yang harus gue lalui untuk mencapai sedikit sifat positif yang gue miliki. Haruskah ada tahap membenci orang tua dalam proses tersebut?

Lalu, buat para anak, jangan juga mau mengikut arus. Orang tua pun tak sempurna. Begitu pula kita. Tapi tak ada salahnya berusaha. Terkadang kekurangan mereka akan tercermin dalam diri kita. Biasanya menurun. Gue sendiri sudah menemukan hal itu. Dan sedang berpikir bagaimana caranya mengubah hal-hal tersebut. Atau setidaknya memanfaatkannya untuk sesuatu yang berguna.

Sulit. Benar-benar sulit.

Tetapi orang tua gue juga yang mengajarkan bahwa hal sulit itu tidak mustahil. Terkadang kita yang terlalu cepat menyerah. Atau “tak rela” berubah. “Pasrah” dengan alasan “Memang gue begini apa adanya. Kenapa lo gak bisa terima gue aja?”

Sejujurnya, banyak yang bisa gue pelajari dari satu hal itu.

Katia

Katia is a bitch.

No, seriously. She’s a bitch. And a dead one. She’s a Rottweiler my uncle had when I was little. Of course, she’s dead by now. I haven’t seen her since elementary school. Seriously, I miss her.

Actually, I was brought to thinking of her while reading Anna Karenina. There’s a girl in a story called Kitty, and in the second part I found out Katia’s her real name. So, yeah. This is actually me reminiscing about a bitch.

She’s nowhere near a dream pet for most people. She doesn’t recognize people like a dog/bitch should. I mean, it’s normal if dogs bark when a guest appears in front of your house, right? But even when my parents are inside she keeps barking from time to time, as if they’ve suddenly appeared inside and need announcing or something.

Rotties are more of a one man’s pet. They tend to attach themselves to one person they like best. Most probably the one who takes care of them or who spends time with them the most.

In spite of not being both, I was her favorite.

One time I walked her with my uncle. Our path crossed with a cat’s. Of course Katia wanted to chase the feline, and being the strong bitch that she is, made my uncle sweat trying to hold her back. I was five at the time, and I squatted next to her, patting her on the head. She calmed down in a few seconds.

Another time, when she had her litter of pups, I actually managed to pick one up without her even getting up. The litter weren’t even washed yet. They still had slime on them. Katia showed her canines, but I just stayed there. The whole family was shocked, since she was really protective of her pups.

I miss Katia, really. Maybe because I’m her favorite person. Maybe because she was the one I played with most from all the dogs my uncles had, aside Cipluk (a golden another uncle of mine had). Maybe because I’m one of the few people she recognizes, and I feel special because of that. Maybe it’s because I love dogs so much, and I loved them even back then. I have fur allergies (one of the few but serious reasons for me not owning one) and spending time with her, just sitting together on the floor, me watching TV and she just lazily sleeping beside me.

For whatever reason, I just love her.

Oh, I’d like to just share this with any random reader. When I was in junior high, I had to go to a classmate’s house to work on a task. She had loud music that could be heard a few feet from her fence. Since I’d been outside for five minutes, shouted and texted and called to no avail, the fence was unlocked, plus it was starting to rain, I just stepped inside.

I didn’t realise there was a cage with a Rottweiler in it. And the cage was left open. He saw me and wanted to go towards me, but stopped at the edge of the cage. It was like he’s confused of what to do.

Suddenly my classmate appeared, shocked to find me there safe and alive. She said her dog’s bitten a few people already, so I was stunned to know her dog didn’t even go near me. He didn’t even bark at me. Just one short growl, as if he was acknowledging my presence.

I do believe the love animals give you goes with you wherever you go. While I’m no pet handler, and still get nervous from time to time when dealing with animals known to be aggressive, I get a positive feedback from them in general.

I guess, in a way, Katia taught me about love. The kind of love that transcends to others. I mean, animals have instincts about how people might treat them. I’m glad to know most dogs I’ve encountered don’t find me a threat. Maybe it’s because I’ve learnt how to just keep loving them.

And it’s all thanks to a Rottweiler who loved me for loving her.