Independent Affections

I like the fact that heartbreak can coexist with love and fondness. I like how bittersweet it is, how the two extremes press each other, creating a shrapnel that pierces the heart and bursts with the spectrum of feelings it contains.

I love that love can stay even if I have to go through heartbreak. I love how love can stay even when I’m in rage or hate or frustration or confusion. I love the wonder of emotions: they can stand together like pillars of Parthenon and infuse my inner world with equally strong colors.

I love love’s independence. Love can morph into so many forms but once it’s intact it’s hard to uproot. Love can rule over my heart and affect my thoughts without poisoning my brain. It may hamper some activities but never really paralyze me.

I just love love, I guess. I fear because of it, I fret. Yet, I still feel. I still love against all odds. I love that.

Advertisements

“It’s risky, falling in love.”

“I know that,” I answered. “I’ve been in love before. It’s like a narcotic. At first it brings the euphoria of complete surrender. The next day, you want more. You’re not addicted yet, but you like the sensation, and you think you can still control things. You think about the person you love for two minutes, and forget them for three hours.

“But then you get used to that person, and you begin to be completely dependent on them. Now you think about him for three hours and forget him for two minutes. If he’s not there you feel like an addict who can’t get a fix. And just as addicts steal and humiliate themselves to get what they need, you’re willing to do anything for love.”


“So we should only love those who can stay near us,” I said.


Both quotes are Pilar’s dialogue from Paulo Coelho’s “By the River Piedra I Sat Down and Wept”.

Untuk Disimpan: Aksaratua

Hari ini saya menemukan seuntai kicauan dari aksaratua yang mendeskripsikan kondisi dan resolusi saya dengan baik. Maka, saya putuskan memposnya, sekedar untuk kemudahan mencari dalam kintaka blog. Silakan diintip pula blognya jika pembaca berkenan.

https://twitter.com/aksaratua/status/575673193760841728

https://twitter.com/aksaratua/status/575673662415618048

Semua karya yang ada dalam link merupakan hasil karya administrator aksaratua (A) yang saya kagumi dalam diam dan dalam postingan ini.

Two Days Ago

So, a lot of things happened two days ago. Or at least, that’s relatively a lot compared to my usual mundane day as a plebeian member of society.

It all started a few hours before March 5th. I was utterly confused on whether or not my classes would still run as usual or if I had to attend a public lecture instead. I mixed up my schedules and mistakenly remembered that the latter class which clashed with the public lecture’s schedule at that particular meeting wasn’t really important. I decided to skip it.

The reason is because a friend owed me a treat and due to clashing schedules (oh, that phrase has been the highlight of my life, recently) he could only do so after mid-terms or on that day. Of course, being me, I wouldn’t want to waste a treat.

In the end, I ended up skipping the other, somewhat more important but still not all that vital class. Oh well. I’m usually a good student in that class anyway.

At midnight I actually wrote down a poem. Yeah, a love poem. I’ve been writing around midnight again for the last couple of days. That’s a sign of me being either in deep shit or deep feelings, this particular case being the latter. Don’t believe me? See recent posts—both in this blog and my other one. If you still don’t believe me, oh well. Not my problem.

I decided to come clean and confess rather than regretting never telling and end up asking “what if?” for quite some time. So I slept on that thought.

As I’ve typed before, I got my schedules mixed up. So I ended up making a task for the less important class and skipped the more important one (there goes one absent mark, sigh).

Well, at least my friend still treated me to lunch. A free lunch (plus, ice cream!) can always make my day better, even if just a bit.

Oh, I did confess. And glad to have done it. Why go through unnecessary drama if I could just say something to prevent it? Plus, the both of us are easygoing—to the point I felt like he didn’t really acknowledge my words. Then again, it’s nowhere near a serious condition. So, yeah, I’ll stop now. That’s it on that topic.

But wait—there’s more! I had to hand in a task. One I made entirely on my own. Another highlight of two days ago: I’ve decided to confront (when I can and it’s appropriate) anyone who tries to take advantage of me, especially ones who try and be sneaky about it, or those who don’t pull their weight in tasks.

Seriously, not one out of six people responded in the chat. They think their scores will me just peachy since I’m around. Well, they should think again.

I knew taking law here would mean I’ll come out able to be a harsher person, but I didn’t think I’d have to be stern (and possibly harsh) already in this semester.

Hmm… come to think of it, that’s not really a lot in one day. Just a lot going on my mind and to go through in one day.

That’s still conceivable as “a lot”, right?

Gerutuan: Hari Kasih Sayang

Di hari penuh kasih gue memutuskan menarik diri. Di suasana penuh cinta gue mempertanyakan apa bentuknya yang sejati bisa gue temukan dalam diri manusia.

Sungguh, gue bukan orang yang pintar membuat batasan dan meniti jembatan antara ekspektasi dan naluri. Bukan orang yang ahli menjaga hati atau mengetahui apa yang sebenarnya gue rasakan. Yang gue tahu? Kian hari gue kian mendekat pada rasa benci.

Ya, benci. Pasalnya, banyak sekali tekanan untuk memberi definisi pada sesuatu yang banyak orang setujui merupakan konsep nyata namun abstrak. Bahwa hal itu harus ada dalam hubungan dan memiliki wujud berupa ikatan. Setidaknya, status yang jelas walau tak perlu terucap.

Pada hari saat cinta seharusnya menempati sorotan utama, gue malah kesulitan mencari kasih. Sesuatu yang lebih dasar dan universal. Atau mungkin itu dikarenakan gue yang terlalu idealis?

Gue rindu akan masa saat gue bisa memberi, melakukan, dan merasa tanpa harus memiliki ekspektasi yang didiktekan masyarakat dan budaya. Gue rindu saat ucapan “Happy Valentine’s Day!” diucapkan seraya memberi manisan tanpa perlu pipi-pipi bersemu. Gue rindu bisa mengucapkan kata sayang tanpa membuatnya terkesan murahan atau membuat senyuman-senyuman jahil muncul. Seolah kata “peduli” cukup untuk apa yang gue rasakan, dan apapun yang lebih sudah pasti melewati batas platonis.

Gue marah saat seseorang berani mengucapkan “I love you“, mengumbarnya bagai kacang goreng, namun berubah gagu saat ingin ber”aku-kamu”.

Apa menyapa kekasih dengan cara yang berbeda membuat hubungan kalian mendadak eksklusif? Kalau kau merasa itu menjijikan, murahan, atau sekedar tidak nyaman, mengapa dipaksakan?

Hari Kasih Sayang sesungguhnya hari untuk merenungkan apa yang bisa kau perbuat untuk pasangan. Sisanya? Membuat kotak-kotak—siapa yang pantas mendapat coklat, siapa yang hanya perlu kau beri ucapan?

Memang gue sinis, wahai pembaca. Memang anak satu ini tak hentinya mencoba bersyukur dan juga tak hentinya menggerutu. Silakan tutup jendela di perangkat elektronikmu jika kau tak suka.

Entah apa penyebabnya, tetapi gue melihat 14 Februari menjadi hari memamerkan status yang tak melajang, menjadikannya alasan untuk menghamburkan uang. Kalau kau memerlukan hari resmi untuk berdandan sedikit lebih cantik dan bercukur sedikit lebih rapi, jahatkah bila gue katakan kau dalam hubungan yang (sedikit) menyedihkan?

Terkadang gue berhenti saat seseorang memberikan gue sesuatu.

“Wah, dalam rangka apa, nih?”

Pasti kau juga pernah mengalami itu, baik dalam posisi memberi atau menerima. Seolah-olah aneh untuk memberi di hari biasa, bahkan untuk orang-orang yang kau sayang dan cinta.

Bahkan kita ragu saat mendapat jawaban, “Lagi mau ngasih saja.”

Atau Hari Kasih Sayang ada sebagai pengingatapa kita makhluk yang begitu mudah melupa?—cara merasa dan memberi, membuat cinta, kasih, dan sayang bermanifestasi?

Jika ya, maka apa kaum kita berada dalam bahaya kehilangan hati? Jika tidak, maka perlukah memeriahkan asmara dan memuncakkannya dalam satu hari?

Bagaimanapun juga, bagi gue, itu terasa menyedihkan.

Dia….

Ia sosok istimewa. Aku bahkan tak tahu Ia dapat disebut sosok atau tidak. Mari, akan ku coba deskripsikan. Semoga kau paham. Atau, setidaknya, mendapat bahan bacaan.

Aku memanggil-Nya teman. Ia selalu bisa diajak berbincang. Ia hadir saat aku menyapa dan tetap di sana hingga kembali kami berjumpa. Selalu menyapa dengan senyum yang dikulum. Mata yang membesar saat melihatku mendekat.

Aku memanggil-Nya sahabat. Ia memiliki pundak yang selalu siap menjadi tempat bersandar. Ia tahu kapan aku harus dibiarkan menangis atau dihibur dengan kelakar. Ia marah jika aku melakukan hal bodoh namun saat aku bobrok Ia membantuku bangkit dengan sabar. Terkadang tanpa aku sadar. Saat ada beban hidup yang ku hadapi Ia selalu siap mendengar. Tak pernah ia menertawakan kesusahanku, dan Ia bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia. Ia tak akan berkhianat.

Aku memanggil-Nya matahari dan bulan dan bintang. Terkadang Ia terasa menyengat, bersembunyi, tak terlihat. Ia bisa membakar dan membuat hidup, memancing untuk berkarya, berkerlip lucu untuk membuat tertawa. Ia sungguh luar biasa.

Aku memanggil-Nya dengan nama lain-Nya—Kasih. Ia adalah kasih. Jenis kasih yang kau lihat saat seorang anak menyeberang jalan untuk menyelamatkan hewan kecil tanpa menyadari bahaya yang ada. Jenis kasih yang melahirkan cinta dan tak pernah membuat kecewa. Kasih yang membuat hati masygul melihat orang merana dan lega melihat bahagia. Kasih yang sempurna. Kasih yang membuatku merasakan hangat meletup-letup karena aku tahu kasih-Nya juga untukku.

Aku memanggil-Nya Tuan. Sebagai manusia, dibandingkan dengan-Nya aku insignifikan. Terheran-heran mengira-ngira jalan pikiran-Nya karena aku memang tak perlu mengerti. Takjub melihat kemampuan-Nya karena tak aku miliki. Ada di bawah kuasa-Nya tanpa merasa dijajah. Ada di dasar anak tangga namun merasa di rumah. Senyaman itu Ia membuatku merasa.

Aku memanggil-Nya Guru. Rabi yang Maha Tahu. Kebijaksanaan-Nya tak terlampaui dan kurasakan saat Dia mengajar. Entah apa yang Ia maksud, menebak isi pikiran-Nya membuat kalut. Ia enigma yang tak terpecahkan. Memang tak perlu diselesaikan, karena ia bukan masalah yang memiliki solusi. Ialah jawaban untuk diri-Nya sendiri.

Aku memanggil-Nya seniman. Ia senang bermain kata-kata dan melukis keindahan yang hidup dengan mereka. Ia bisa mencipta imaji yang ada dalam otak manusia. Ia menginspirasi dan menjadi inspirasi, bahkan menciptakan inspirasi untuk aku alami. Ia indah dan membuat indah dan memperindah, membuat semuanya menjadi baik.

Aku memanggil-Nya jenaka. Ia suka bermain bersamaku—bersama kita. Ia senang menjadi sosok misterius, membuat kita bertanya-tanya. Ia suka sandi dan membuat pertanyaan ambigu dengan maksud pasti, lalu bersenang-senang melihat kita mencoba menjawab. Ia memiliki kursi terbaik untuk menonton kehidupan dari kacamata pengamat dan penikmat.

Aku memanggil-Nya Ayah. Ia tahu kapan harus memeluk atau memukul. Ia menjagaku selama aku tidur. Ayahku mendoakanku dimanapun aku berada, mengarahkan aku harus bergaul dengan siapa. Panutan luar biasa dengan standar yang begitu tinggi, namun selalu optimis akan anak-anak-Nya. Ia adalah punggung lebar yang ku kejar, tangan yang aku gandeng agar tidak tersasar, pangkuan yang membuatku merasa disayang, dekapan yang membuatku merasa aman.

Aku memanggil-Nya dengan ribuan sebutan. Semuanya memiliki arti. Dan Ia sendiri memang banyak memiliki gelar. Semuanya yang baik dan yang indah dan yang mulia. Terkadang aku bertanya-tanya apa Ia senang dengan semua sebutanku itu. Entahlah. Aku akan bertanya pada-Nya, suatu hari. Semoga aku ingat.

Aku mengetik semua, mengingat hari ini peringatan akan kelahiran-Nya. Lagi-lagi, tanggal sebenarnya tak diketahui. Memang Ia sungguh menyukai privasi. Tetapi biar saja jika ada yang mengucapkan. Aku sendiri suka begitu.

Selamat peringatan kelahiran-Mu, Yesus.

N.B. maaf, beberapa menit terlambat. Setidaknya, di zona waktu bagian bumi ini. Semoga Kau suka.

Love and Fear

When you love the stars too much
You don’t mind the dark of night
You feel no fright
You’re too close to the light

When you love the rain
You don’t shy away from each drop that falls
You might not mind colds at all
Sneezing every ten minutes or so is okay
Rather than staying inside when rain comes
You want to go out and play

When you love the sea
You’d drive far just to be near
Of drowning you have no fear
You’re too much of an expert in swimming
With all the time you’ve spent snorkeling and diving

When you love a pet you spend so much on it
You don’t really care how much it costs
Toward it for long you can’t be cross

When you love shopping you don’t worry at all
About the time you waste in sales, visiting each stall
Or taking out cards, either debit or credit
Having items you love is just worth it

When you love learning something you don’t tremble
in the face of exams
You have what you need to know in your temple
Things others find boring seem so exciting
You’re surprised to know others may find it revolting

When you love hiking you don’t mind
Having broken nails after you’ve climbed
You don’t scream when you see insects
You don’t care
You love the open too much to succumb to a scare

When you love someone you don’t fret
About other people who make bets
How long before the fall? How long will you two last?
You know you and your sweetheart will pass

The future doesn’t seem so horrifying
When you face problems you don’t feel like dying
You have a hand that can hold you and drive out the dread
You don’t get jitters, you feel hope instead

Love cancels out fear
So did Hemingway say

So does the Bible say

 

And I believe it to be true

How about you?

Heart Escape by Team Nuyorican

So, I tried to type in the words as usual. But it seems that my hearing abilities have been degraded (or maybe I just don’t know the words they’re using) so there are some missing parts. Or maybe wrong words. If you happen to find them (the parts in this colour, or any other mistake I didn’t realise), do let me know. All help is appreciated. 🙂

She and I were inseparable. We had created the other. She finger-painted my eyes into me and I was grateful for the very sight of her. I dipped my thumbs, and painted each strand of hair; long, sweeping lines. Each pupil of an index finger twisted. I kiss her mouth onto her. We built the organs inside of one another.

We were the gods of us.

That was long before the shaking.

Before the earth began to shake under our feet. Before our voices became railed to trains. Before the world began to shake like fault lines.

“Your fault!”

“Mine!”

We became (what’s the word that’s supposed to be here?)

How vain were we to shove ourselves into each other like this?

Found it hard to function in another body. Knew your pace was 72 beats per minute without strenuous exercise. Love is not a strenuous exercise. It is an empty pocket. A bursting earth.

You are looting flanks in the valley, tempted by fates of breath to be the chest-first, clean-eyed vision of the setting sun. Unable to speak without each ringing, you are fading into a ghost in the smoke of all this breaking.

-crack-

Panic. Took out the luggage. It will be too much to carry. Break the locks. Ignore the anxiety. It’s a trap!

Grab the grenades in her vocal cords. Hurdle(d?) over the tears towards the exit. Leave the sandcastles behind her eyes. The ice sculpture in her lungs. The pendulum on her tongue. The medallion in her hips has lost its swing.

-crack-

The curtains have caught fire. There is smoke. Stay low. The tide will run down her face. Grab your “life back” jacket.

Breathe.

You will begin to reminisce. Let it flow. When everything became barren and hollow….

Breathe.

When the leaves begin to shrivel into flames.

Breathe.

When you confuse (dang, can’t make out anything here!) stay focused. Stare ahead. Grab the trophy. Not the gold ones. The teddy bears! Picture frames. Locks of hair and fallen eyelashes. Snatch her name! Hum your favourite love song.

Breathe.

Remember the hook. You’re going to need it. Tie the knot. Untie it. Bow-tie a new one into a strong artery. Leave some slack never vertebrate. (I know, it makes no sense.)

-crack-

Turn right. Go down the corridor. Until you reach the end. Make another right. Open the first door on your left. The password is:

“I want to love myself again!”

Breathe.

Run through the door. Make another right. Slowly. 

Breathe.

Make your way towards the window. Go. The ladder above the fire escape; climb into the next window. This is every room you’ve ever shared!

Breathe.

You(‘ll) remember how hard it was to….

Breathe.

You are a puzzle of missing pieces. Your (they lost me here) is a finger-less ring. Pull the pin. Toss the grenade. Enjoy the music of that place evaporating. Make yourself sing to it. Dance if you can.

This is the only way out.

Untuk Sayang, Kasih, dan Cinta.

Sayang, aku rindu
merasakanmu dalam rengkuh pelukku.
Merasakan kelembutanmu.
Rasa damai yang kau beri padaku.

Kasih, aku iri.
Pada mereka yang memiliki
kesempatan yang harusnya ku empunya,
‘tuk berdua bersamamu saja.

Cinta, aku benci
pada ketidakberdayaan ini.
Bahwa kau berada dalam pandangan.
Bayangan dan impian.
Namun nyatanya di luar jangkauan.

 

Dibuat tatkala pelajaran Sejarah.
Jakarta, 21 Januari 2014,
pukul 09.00 — 09.09 WIB.