Sejak awal tahun ini gue sadar bahwa gue hanya bisa menulis saat terinspirasi. Dan saat terinspirasi yang bisa gue lakukan hanya menulis. Seolah tanpa kata-kata gue bukan apa-apa. Bisa disimpulkan (dengan anehnya) bahwa saat gue menulis gue merasa ada sesuatu yang bermakna yang gue temui, sekecil atau sebesar apapun hal tersebut.

Jadi, kalau selama ini gue begitu jarang menulis, artinya gue gak merasa hidup gue memiliki makna memadai untuk menginspirasi diri gue sendiri.

Anehnya, gue mulai menulis lagi. Dan perubahan yang terjadi dalam keseharian gue hanya satu: sejak dua minggu lalu gue mulai membaca lagi, karena ada banyak waktu luang dan gue tak terlalu lelah.

Maka, apa hanya cerita yang gue anggap berharga? Kalau iya, orang macam apa gue ini?

Peribahasa; Sekeping Kenangan dan Dua Pelajaran

Dulu, zaman seragam lima hari seminggu gue antara pelaut dan merah-putih, guru gue punya cara menarik untuk mengajak murid-muridnya belajar. Setiap pelajaran Bahasa Indonesia, ia akan menyuruh kami membuka buku kumpulan peribahasa kami, lalu membuat lomba. Siapa yang terlebih dahulu menebak arti suatu peribahasa dengan benar (walau bukan “menebak” juga karena dibantu kamus) ia akan mendapat poin.

Tidak seperti kamus biasa, kamus peribahasa tak memiliki batasan-batasan huruf. Dan ini yang menyebabkan permaninan kami berlangsung seru. Keberuntungan ikut dibawa pula, soalnya. Sampai suatu hari gue melakukan sesuatu….

Gue mengambil selembar kertas origami dan mengguntingnya kecil-kecil, lalu menempelnya dan menuliskan huruf-huruf sebagai penanda. (Sungguh gue baru-baru ini menemukan buku itu lagi, masih utuh satu dekade kemudian. Hanya sedikit berdebu dan usang. Tetapi gue malas memotretnya, hahaha….) Dan seperti yang bisa ditebak, beberapa hari berikutnya kelompok gue hampir selalu menang. Lalu kelompok lain ada yang menuding gue curang.

Nah, gue bingung, sebingung sekarang. Kan itu hasil kerja gue, sesederhana apapun. Tak ada larangan, bahkan tak ada yang dipertaruhkan dalam permainan. Kenapa mereka harus marah? Kalau mereka mau, mereka juga bisa berbuat yang sama. Lagi; kenapa mereka harus marah?

Lalu gue belajar bahwa sepuluh menit gue menghabiskan waktu bisa memberi keuntungan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Siapa tahu kejadian itu salah satu alasan kenapa gue begitu menjunjung tinggi kepraktisan dalam hidup? Tak apa susah sedikit di awal kalau memang banyak manfaat kedepannya.

Hal lain yang gue pelajari; orang-orang selalu melupakan usaha dan terlalu berfokus pada apa yang kini mereka miliki. Jika seseorang bercerita tentang perjalanan hidupnya sendiri, ia akan memberi proporsi yang lebih besar terhadap masa-masa sulitnya ketimbang jika orang lain yang menceritakan. Kalau orang ketiga yang membawakan, perhatikan bagaimana wajahnya berubah menjadi setengah berangan saat menceritakan kekayaan atau prestasi yang diraih si subjek pembicaraan.

Apa gue juga begitu? Entahlah. Tetapi kabar baiknya gue selalu bisa berubah. 🙂

Terkadang hidup begitu. Kita iri pada orang lain, menganggap mereka “curang” dalam kehidupan. Sepertinya jatah keberuntungan mereka lebih besar dari orang lain pada umumnya. Padahal, bisa saja itu karena mereka dikaruniai talenta dalam bidang apapun itulah. Bisa saja mereka juga sudah lebih banyak berusaha, tetapi kita tidak mengetahuinya.

Kalau begitu, apa bisa dibilang curang?