If you’ve met me in real life, the word “talkative” has a high probability of coming out when you’re describing me. But though I’m like that at times, I don’t easily open up to people. I always keep parts of stories to myself.

Sometimes I just feel like I can’t trust people. Add that to the fact that if I share my problems when it’s not resolved, I have a tendency to mull over it more than I should, so when I do tell anyone, most of the drama (if any) has already passed.

But what may be my strongest reason to not tell, even when I trust the person, is that I know I can get through my problems. I’m not someone who’s reticent. If I need advice, I’ll ask for it. Most times, what I need when I tell is just to get weight of my shoulders. I’m not looking for compassionate or pitying looks, nor any words of wisdom (though if it’s nice and has a good ring to it I’ll be glad to hear it).

When I tell you something personal, what I’m looking for is acknowledgement to show you’ve been listening, and no more. Besides, a lot of people turn uncomfortable and don’t know what to say/do. Better not to bother in my case.

I just need a pair of hearing ears, that’s all.

So, what do you look for when sharing sob stories (or any stories)? Solace? Closure? A pat on the back? Do tell, if you’re up to it.

Advertisements

Gerutuan: Hari Kasih Sayang

Di hari penuh kasih gue memutuskan menarik diri. Di suasana penuh cinta gue mempertanyakan apa bentuknya yang sejati bisa gue temukan dalam diri manusia.

Sungguh, gue bukan orang yang pintar membuat batasan dan meniti jembatan antara ekspektasi dan naluri. Bukan orang yang ahli menjaga hati atau mengetahui apa yang sebenarnya gue rasakan. Yang gue tahu? Kian hari gue kian mendekat pada rasa benci.

Ya, benci. Pasalnya, banyak sekali tekanan untuk memberi definisi pada sesuatu yang banyak orang setujui merupakan konsep nyata namun abstrak. Bahwa hal itu harus ada dalam hubungan dan memiliki wujud berupa ikatan. Setidaknya, status yang jelas walau tak perlu terucap.

Pada hari saat cinta seharusnya menempati sorotan utama, gue malah kesulitan mencari kasih. Sesuatu yang lebih dasar dan universal. Atau mungkin itu dikarenakan gue yang terlalu idealis?

Gue rindu akan masa saat gue bisa memberi, melakukan, dan merasa tanpa harus memiliki ekspektasi yang didiktekan masyarakat dan budaya. Gue rindu saat ucapan “Happy Valentine’s Day!” diucapkan seraya memberi manisan tanpa perlu pipi-pipi bersemu. Gue rindu bisa mengucapkan kata sayang tanpa membuatnya terkesan murahan atau membuat senyuman-senyuman jahil muncul. Seolah kata “peduli” cukup untuk apa yang gue rasakan, dan apapun yang lebih sudah pasti melewati batas platonis.

Gue marah saat seseorang berani mengucapkan “I love you“, mengumbarnya bagai kacang goreng, namun berubah gagu saat ingin ber”aku-kamu”.

Apa menyapa kekasih dengan cara yang berbeda membuat hubungan kalian mendadak eksklusif? Kalau kau merasa itu menjijikan, murahan, atau sekedar tidak nyaman, mengapa dipaksakan?

Hari Kasih Sayang sesungguhnya hari untuk merenungkan apa yang bisa kau perbuat untuk pasangan. Sisanya? Membuat kotak-kotak—siapa yang pantas mendapat coklat, siapa yang hanya perlu kau beri ucapan?

Memang gue sinis, wahai pembaca. Memang anak satu ini tak hentinya mencoba bersyukur dan juga tak hentinya menggerutu. Silakan tutup jendela di perangkat elektronikmu jika kau tak suka.

Entah apa penyebabnya, tetapi gue melihat 14 Februari menjadi hari memamerkan status yang tak melajang, menjadikannya alasan untuk menghamburkan uang. Kalau kau memerlukan hari resmi untuk berdandan sedikit lebih cantik dan bercukur sedikit lebih rapi, jahatkah bila gue katakan kau dalam hubungan yang (sedikit) menyedihkan?

Terkadang gue berhenti saat seseorang memberikan gue sesuatu.

“Wah, dalam rangka apa, nih?”

Pasti kau juga pernah mengalami itu, baik dalam posisi memberi atau menerima. Seolah-olah aneh untuk memberi di hari biasa, bahkan untuk orang-orang yang kau sayang dan cinta.

Bahkan kita ragu saat mendapat jawaban, “Lagi mau ngasih saja.”

Atau Hari Kasih Sayang ada sebagai pengingatapa kita makhluk yang begitu mudah melupa?—cara merasa dan memberi, membuat cinta, kasih, dan sayang bermanifestasi?

Jika ya, maka apa kaum kita berada dalam bahaya kehilangan hati? Jika tidak, maka perlukah memeriahkan asmara dan memuncakkannya dalam satu hari?

Bagaimanapun juga, bagi gue, itu terasa menyedihkan.