Suatu Hari Nanti

Seluruh cerita ini fiksi. Semuanya… kecuali keinginan “aku” untuk pergi ke Inggris. Dan hobi gue yang melankolis ini untuk melamun. 😉

* * *

Aku dininabobokan oleh suara hujan,
rintik-rintik sedu.
Bagi orang lain membawa sendu,
tetapi bagiku menyenangkan.

Aku diam di atas tempat tidur, meresapi tenangnya hujan. Ingin rasanya membuka kedua daun jendela dan merasakan butir-butir air itu jatuh. Perlahan… perlahan… membasahi dan menyegarkan kulit. Menggoda sekali. Apalagi angin yang bertiup saat malam terasa begitu menyejukkan.

Hujan memang selalu membuatku merasa melankolis. Tetapi aku suka perasaan ini. Perasaan bahwa aku sedang memikirkan sesuatu. Saat aku melankolis, aku lebih memperhatikan sekitarku. Rasanya aku lebih hidup.

Seperti hari-hari lainnya, aku menulis dan membuat sketsa kasar di buku kecilku. Buku berwarna hitam polos dengan guratan spidol emas. Hanya guratan namaku sebagai tanda pemilik dan judul buku tersebut. Bisa kau bilang buku itu adalah buah bayanganku. Arsip aspirasi dan pikiran yang menghantui jika tak dituangkan dalam konstruksi abjad. Kebanyakan tentang suatu ambisi. Satu cita. Satu mimpi.

Ah, sudahlah. Kantuk yang sedari tadi mencoba bersemayam dalam kesadaran akhirnya menang. Yah, memang waktu sudah mendekati pergantian hari. Waktunya beristirahat.

Selamat malam.

* * *

Pagi yang berkabut tidak muram.
Malah ia membuat semuanya begitu magis,
dan kini aku berada di absis
terhadap garis realita,
karena ini tak terasa nyata.

London. Inggris. Sejak dahulu memang seperti ini. Bahkan entah berapa kali Sir Arthur Conan Doyle menyelipkan kabut yang terkenal ini ke dalam cerita-cerita Sherlock Holmes yang begitu kugemari. Yah, jika kau berkendara dan tiba-tiba turun kabut, terutama di jalur curam, memang akan terasa mengerikan. Tetapi bagiku, seorang penyendiri yang senang berfantasi, ini adalah tempat bernaung yang sempurna.

Hari ini kabut begitu tipis. Pas. Sempurna. Seperti berada di dunia dongeng. Hanya saja dunia ini terasa imajiner walau jelas-jelas aku bisa melihat siluet orang-orang berlalu-lalang. Membawa buku sketsa yang setia menemaniku berkelana, aku berjalan menuju London Eye. Memang sedikit jauh dari tempat tinggalku, tetapi sejak kecil aku memang kuat berjalan. Dan kuat makan. Hahaha….

Sejak kecil pula aku suka menggambar. Dan sudah lama aku ingin melakukan ini. Aku ingin berkeliling di Inggris—terutama London. Aku ingin merasakan suasana Museum Sherlock Holmes dan menggunakan London Underground. Semoga aku tidak tersesat. Tetapi, andai aku kehilangan arah—secara harafiah—aku tak keberatan, karena aku tahu aku akan menemukan dan ditemukan pengalaman yang pastinya berharga.

Aku ingin mengunjungi Big Ben, kehilangan kata-kata seraya mengeksplorasi Istana Buckingham, terpukau melihat karya-karya pahat di Trafalgar Square. Aku ingin duduk di Stasiun King’s Cross dan membayangkan aneka kesibukan yang pernah berlangsung di sana sebelum stasiun tersebut berhenti beroperasi.

Aku ingin merasakan budaya yang dikatakan begitu beraneka ragam, berpadu indah seperti buket bunga dan membaur seperti warna pelangi.  Aku sudah lama ingin mencoba English Breakfast dihidangkan langsung di Inggris. Aku ingin berkenalan dengan orang-orang baru dan menjalin pertemanan, mungkin persahabatan.

Tetapi, sebelum semua itu, aku ingin menaiki London Eye dan menggambar pemandangan dari atas sana. Apa saja yang mataku dapat tangkap dan teruskan ke kedua tanganku. Mungkin aku harus berputar di salah satu kapsul London Eye lebih dari satu kali. Tak apa. Akan kujalani dengan senang hati.

Ah! Itu dia! Bianglala impianku! Dengan hampir berlari aku cepat-cepat menghampirinya. Namun saat sudah dekat, ada seseorang yang tiba-tiba menghentikanku.

“Bangun! Ayo, cepat, bangun!”

Hah? Bangun?

* * *

Dan terkadang apa yang terasa begitu indah
memang bukan realita.
Sesungguhnya jalan menuju segala impian rumit,
namun aku takkan menyerah, walau itu sulit.
Suatu hari nanti, apa yang kukerjakan akan membawaku ke Inggris.
Lihat saja nanti.

“Hah?”

“Bangun, Nak!”

Ternyata aku tertidur. Semua tadi hanya mimpi. Ibuku dengan wajah lelah sedang berkacak pinggang di samping tempat tidur.

“Kamu itu, susah amat dibangunin!”

“Eh, iya, Bu. Maaf,” kataku, mencoba memperlihatkan rasa bersalah sebisa mungkin dengan kantuk yang masih menyelimuti. Ibu berdecak, tetapi sorot matanya menunjukkan pengertian.

“Yasudah. Ibu hanya mau bilang, nanti kamu jangan lupa membawa pisang goreng ke sekolah.”

“Oke, Bu. Aku… mau tidur lagi gapapa, ya?” kilahku, mengetahui matahari belum terlalu lama muncul dari ufuk timur. Bagaimana aku tahu? Dengan melihat jam, tentu saja. Ibu mengangguk dan menutup pintu kamarku.

Yah, beginilah realita. Sesungguhnya, keluargaku tidak miskin. Sama sekali tidak. Kami masih berkecukupan. Namun tidak berkelimpahan. Aku masih bisa memiliki smartphone walau bukan keluaran yang terbaru dan tercanggih. Masih bisa bersekolah dan membeli ini-itu sesekali walau tak bisa menjalani gaya hidup hedonis. Ibu suka menitipkan aneka makanan untuk dijual di kantin, dan hari ini ia membuat pisang goreng. Lumayan, hitung-hitung untuk menambah pemasukan. Memiliki persediaan uang lebih bukan hal yang buruk, kan?

Begitulah keadaan ekonomi keluargaku. Aku tak mungkin menyalahkan Ayah atau Ibu. Mereka begitu sayang padaku. Apa hakku menuntut lebih banyak dari mereka yang sudah saban hari berpeluh demi masa depanku?

Tetapi… boleh, kan, berandai? Aku ini pemimpi. Tetapi aku tak ingin menjadi sekedar pemimpi; aku ingin menjadi seseorang yang mau berjuang demi menggapai mimpi-mimpiku.

Salah satu mimpi itu adalah pergi ke Inggris. Tidak hari ini, atau besok, atau lusa. Bukan masalah. Aku tahu segala yang kuimpikan cukup berharga untuk ditunggu. Dan menunggu selagi aku berjuang hanya akan membuat saat aku menginjakkan kaki di Inggris nanti terasa makin berharga.

Ah, sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi. Melamun tak pernah membuatku mengantuk, malah menjadi semangat. Bisa jadi karena imajinasiku yang tinggi. Entahlah.

Kuputuskan mengeluarkan buku hitamku dan lanjut menggambar. Isi buku hitamku ini… kau mau tahu? Isinya adalah aneka sketsa dan tulisan tentang Inggris. Gambar terakhir adalah sketsa London Eye dengan satu kalimat di bawahnya.

Inggris—suatu hari nanti.

WP_20140528_18_22_09_Pro20140528182358[1]

Akun sosmed buat cek sudah follow dan like apa belum:
Twitter: @anonsibe

Facebook: Shannon Sibe Chukcha

Advertisements