Selusin Soal

Selusin pertanyaan untuk selusin tahun, umur GagasMedia. Dan pembaca selama setengah dari lusin itu akan menjawab demi satu dari selusin paket buku.


1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!

Pertanyaan yang sulit bagi siapapun yang senang dibuai cerita. Setelah mengobrak-abrik ingatan, Goodreads, dan inventori buku, akhirnya muncul juga 12 judul di bawah ini.

  1. Animal Farm — George Orwell
    Satire tentang situasi politik yang serupa dengan 1984. Novel ini dapat dikatakan versi yang lebih pendek dengan tokoh-tokoh hewan.
  2. A Study in Scarlet — Sir Arthur Conan Doyle
    Bagi pemggemar Sherlock Holmes judul ini tak asing. Novel ini memang karya pertama dari ratusan kisah Doyle yang menghadirkan detektif paling terkenal sepanjang masa.
  3. A Thousand Splendid Suns — Khaled Hosseini
    Karya kedua Khaled Hosseini, sayangnya tak seterkenal The Kite Runner. Bercerita tentang kehidupan wanita di Afganistan.
  4. Bumi Manusia — Pramoedya Ananta Toer
    Novel pertama dari Tetralogi Buru yang sangat terkenal. Menceritakan kehidupan Minke, seorang pria Jawa yang terjebak dalam aneka kasta sosial dan munculnya benih-benih perlawanan di dalam dirinya.
  5. Dunia Sophie — Jostein Gaardner
    Novel fiksi yang kental dengan filsafat, dikemas dalam bentuk yang menarik. Bukan bacaan yang tergolong ringan (mungkin karena terjemahan maka bahasanya agak kaku), namun menjadi bahan perenungan otak yang menyenangkan.
  6. Entrok — Okky Madasari
    Mengangkat kisah seorang perempuan yang lahir tanpa apa-apa dan berjuang mendapatkan kemakmuran, juga ketidakadilan yang menimpanya dan konflik dengan anaknya. Tak hanya itu, karya ini juga mengupas masalah feminisme, kepercayaan, dan politik.
  7. Gods and Kings — Lynn Austin
    Buku pertama dari seri Chronicles of the Kings (yang sayangnya tak kumiliki, hiks!). Fiksi Alkitab, mengangkat kisah hidup Hizkia.
  8. I Know Why the Caged Bird Sings — Maya Angelou
    Salah satu utobiografi Maya Angleou. Mengisahkan masa kecilnya yang menarik dan juga masalah keluarga serta pemerkosaan yang menimpanya.
  9. Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang — Erni Aladjai
    Novel ini puitis tapi tak muluk. Penokohannya baik, dan alur ceritanya kompleks namun tidak memusingkan. Kei bercerita tentang perang saudara yang terjadi di Maluku. Novel ini menjadi pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012.
  10. Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children — Ransom Riggs
    Buku pertama dari seri yang belum rampung (Riggs sedang menulis buku ketiganya). Konsep seri ini menarik sekali. Bukan hanya tokoh-tokohnya adalah anak-anak berkemampuan khusus, tetapi ide tiap tokoh diambil dari foto polaroid lama yang juga ditampilkan sebagai ilustrasi dalam buku.
    Example pictures from the book. There’s a graphic novel version too, but I haven’t gotten my hands on one.
  11. Sang Penyamar: Memoar Masa Perang — Rita la Fontaine de Clercq Zubli
    Buku ini bercerita tentang penyamaran Rita sebagai pria pada saat pendudukan Jepang di Indonesia. Selama 3 tahun lebih ia harus berubah dari seorang gadis cilik yang polos menjadi seorang pemuda yang cakap bekerja. Saat itu, Rita yang baru belasan tahun mengalami banyak hal. Ia menceritakan kengerian dan juga momen-momen menyenangkan yang kadang bisa terselip walau ancaman penyerangan dan identitas aslinya terungkap selalu membayangi.
  12. The Time Keeper — Mitch Albom
    Buku yang sungguh puitis. Kisahnya tentang seseorang yang pertama kali menemukan cara mengukur waktu lalu terperangkap dalam keabadian, dan mendapat cara menebus diri dengan menolong dua orang dengan masalah waktu yang berbeda: yang satu ingin mengakhiri waktunya di bumi, yang satu lagi tak pernah mau waktunya habis.

2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?

Semua karya Khaled Hosseini (A Thousand Splendid Suns, The Kite Runner, And the Mountains Echoed). Jika pernah membaca karyanya, siapapun akan setuju dengan kepiawaian sang penulis menarik-ulur emosi pembaca melalui adegan-adegan kecil tak terduga.

Oh, dan surat Dira dalam novel Dealova (Dyan Nuranindya). Surat manis itu terdengar begitu tulus, dan sampai sekarang masih bisa terlihat dampaknya dalam tulisan-tulisanku.

3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?

Karena sedang libur, dan iseng, sekalian sajalah dibuat desainnya.

nowflake

Kutipan ini mengajarkan tentang toleransi dan pengertian terhadap mereka yang kurang beruntung, dan bersikap tegas terhadap mereka yang melakukan kesalahan/berperilaku buruk karena ketidakpedulian.

4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari?

Mr. Darcy dalam novel Jane Austen yang berjudul Pride and Prejudice. Kami akan cocok karena bisa menjadi teman bicara yang seru dan sama-sama keras kepala tanpa harus bertengkar. Aku dapat membantu meringankan kebiasaannya berprasangka dan tak memerlukan gestur-gestur romantis yang “menye” sehingga tak membebaninya yang memang tidak begitu emosional. Mr. Darcy lebih memilih membantu dengan cara nyata. Ia juga orang yang jujur, sifat yang sangat kuhargai dalam seseorang.

5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!

Entrok karya Okky Madasari. Akhir novelnya berhubungan dengan bagian awal buku dan benar-benar tak terduga. (Lebih baik jawaban ini jangan dilanjutkan supaya tidak menjadi spoiler.)

6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?

Let Go oleh Windhy Puspitadewi. Dibeli 25 Juli 2010 dengan harga Rp 35.000,-

Alasan memilih buku ini? Penasaran. Let Go adalah buku pertama yang kutemui yang berkesan cukup ringan sehingga bisa dibaca saat santai, dan tak terpusat hanya pada masalah percintaan. Setelah beberapa kali mengunjungi Gramedia dan perhatianku selalu kembali ke buku itu, akhirnya Let Go menjadi pengantar ke dunia GagasMedia bagiku.

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?

Judul-judul buku yang menarik bagiku adalah judul yang memberi visualisasi surreal, judul yang menggunakan majas personifikasi pada benda abstrak. Misalnya “The Time Keeper” karya Mitch Albom, “Pasung Jiwa” karya Okky Madasari, dan “Sunshine Becomes You” karya Ilana Tan.

Aku juga menyukai judul yang agak panjang namun menceritakan sedikit konsep cerita, misalnya “Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” karya Ransom Riggs dan “One Hundred Years of Solitude” karya Gabriel García Márquez.

8. Sekarang, lihat rak bukumu… cover buku apa yang kamu suka, kenapa?

Sampul buku-buku hard cover yang kumiliki kebanyakan bagus. Memang media yang tebal memberi ruang kreativitas lebih.

Maaf, aku terlalu malas mengeluarkan buku ini dari pojok dalam rak. :’|

Sampul ini cantik dan memiliki perincian indah. Tulisannya berwarna perak. Sampulnya juga sangat melambangkan isi buku—karya-karya Poe yang suram, terkadang seram, indah dalam tragedi. Sama seperti hidup pengarangnya.

9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?

Buku-buku yang mengangkat permasalahan sosial seperti To Kill A Mockingbird (Harper Lee) dan Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer). Menyenangkan untuk dapat mempelajari budaya dan konflik sosial, apalagi dilihat dari sudut pandang yang begitu menarik.

Juga buku-buku yang berdasarkan kisah nyata seperti Sang Penyamar: Memoar Masa Perang (Rita la Fontaine de Clercq Zubli). Memoar dan kisah nyata menarik karena memberi kesempatan pada pembaca untuk belajar buku dan membayangkan kehidupan orang-orang yang benar-benar mengalami apa yang mereka baca.

10. Siapa penulis yang ingin kamu temui? Kalau sudah bertemu, kamu mau apa?

Pramoedya Ananta Toer. Aku ingin mendengarnya bicara dan bercerita tentang banyak hal. Aku ingin belajar darinya dan kehidupannya. Aku ingin mendalami kepribadian penulis Indonesia yang menghasilkan permata literatur. Aku ingin menyeruput segelas kopi atau teh sambil mendengar perasaannya saat tahu buku-bukunya lebih mudah ditemukan dalam tulisan bahasa asing dan buku bajakan ketimbang di rak-rak toko buku besar.

Aku ingin tahu bagaimana ia berhasil menyelesaikan Tetralogi Buru kendati semua kesulian yang dialami. Dan aku sangat ingin berterima kasih atas sumbangsihnya sebagai anak bangsa. :’)

11. Lebih suka baca e-book atau buku cetak, kenapa?

Buku cetak. Selalu buku cetak. Terlepas dari harga dan kesulitan mencari stok judul-judul tertentu, fakta bahwa buku cetak mudah hilang dan sobek, akan menguning seraya menua, bisa terkena jamur dan entah apalagi, menurutku semuanya worth it.

Aku menyukai bau dan tekstur kertas. Aku suka merasakan debar kecil saat membuka bungkus plastik sebuah buku baru. Rasa puas menemukan buku di tumpukan/rak dengan mengenali sampul diikuti perjuangan kecil saat mau menariknya keluar dan merasa memiliki jari-jari sebesar gajah. Tulisan kecil dan selipan-selipan bagai harta karun yang terdapat dalam buku bekas, lipatan penanda halaman yang mengandung kata-kata yang menyentuh hati si empunya.

Sungguh… bisakah e-book menggantikan semua itu?

12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia!

GagasMedia
Kini umurmu genap
Selusin tahun

Terima ini
Kubuatkan haiku
Kado untukmu


 

Astaga, ternyata menjawab 12 soal cukup memakan waktu. Lewat 3 jam sudah, hahaha….

Semoga kalian yang menyempatkan diri membaca ini tak bosan, dan semoga rekomendasi buku-buku di atas berguna. Sekali lagi, selamat ulang tahun, GagasMedia! Semoga kalian suka dengan kadonya. 😉

Advertisements

“Who will be at my funeral?”

Have you ever thought about that? I have. But i never really thought it through.

You see, there’s this thing that’s kind of a trend now. Talking about fake friends and those who only care when you’re terminally ill or dead. Or when they need something from you. And yeah, that’s annoying. But these last few months whenever I start to wonder who’ll come, who’ll be crying, stuff like that, my brain stops me with…

“Stop it. It’s not going to affect you in any way.”

And more recently…

“Don’t be a selfish attention whore.”

And I got confused over this for a while. ‘Til today, that is.

You see, it’s not evil to want to know that people care for you. Love, or at least attention, is a basic social need. Still, sometimes people care in the strangest of ways. They may also mourn for your death in a different way.

Guess what? They’re probably the closest friends you have. Let’s say they got together to remember all the wacky stuff you did together. Chances are, there’ll be a laugh here and there in the midst of all the nostalgia.

Besides, I want my friends to live on when I die, not to die of depression because I’m gone. I still want them to have fun. If it means forgetting me, then so be it. If the truth is we’ll be aware of this, I’ll probably be a bit sad. Still, why should I be selfish even after death?

Yeah, I’m awesome, aren’t I? 😉

Let’s move on to the other reason on why thinking about this is dumb.

Did you consider this?  I’m sure you agree to this, in your own way. Now… if you believe this, why bother caring about who’s gonna show up? Let’s say half of the people knew you well. You cared for each other. Half of the rest weren’t all that close to you. Among these people there’s always the possibility of people still caring for you as a human being or whatever, even when you’re just on nodding terms. Let’s give them a pass.

But what about the others?

Some are there just because they know you. Maybe they reluctantly came because you’ve been on a project together. Maybe they’re there because they know someone close to you and are there to cheer them up. Lighten the mood a bit. Be the shoulder to cry on.

Strangers, accompanying your friends, may also be present. Or you’re a part of an organization and they’re representing it. You know, kind people who’ll give their time to a dead body. Perhaps if you’ve met, you would’ve liked each other. Doesn’t make a difference now, does it? And if you could see them, would you be touched? “Oh my gosh, complete strangers care for me!”

Nope. Probably not.

And guess what? Here’s the most important fact you’ve probably overlooked…

YOU’LL BE DEAD BY THEN, IDIOT!

What difference would the number of people coming to your funeral make? Would you suddenly be denied Heaven just because you didn’t meet the quota of 50 people who genuinely care for you coming to the funeral or 100 people crying over your death?

Get real.

You won’t get to experience them caring for you again anyway. Better to worry about people who care for you now. In this world and realm. You savvy?

“I beg to differ.”

There’s so much truth in that sentence. Don’t know what happened, suddenly it just hit me not so long ago that there are a few meanings I could take from that one single line. So, here they are:

1. Expressing dissent in a more polite and/or “smirk-face” kind of way.

So you probably know how this works. It could mean “Excuse me, I’d like to speak out a different opinion.” or… the pic below.

ohreally

Which could be really annoying. Smart-asses and the like. Standard stuff. Let’s move on.

2. The want (maybe need?) to be noticed.

It’s now a trend to be unique and weird and out of the ordinary. Everyone’s unique. There’s some sense in that, but not many people really stand out from the crowd. Probably because people tend to befriend others similar with them, so they may stand out as a crowd, but not individually. And these people, at least half of the time, are the ones with the biggest thirst for attention.

Do you watch ANTM? That’s why group photos are difficult. Take the pic below for example. I don’t know about you, but my eyes keep wandering to the top right pic. Just because it’s the only one in black and white. If you do, then it’s that much easier to link attention and being different.

3. “Seeking” consent to be different.

The sentence would mean more like “Could you please, please, PLEEEASSEE just let me be who I am?”

Were you able to see and read the text on the featured image? In case I’m using a theme that makes you unable to do so, here’s the pic (again).

i-dont-always-beg-but-wehn-i-do-i-beg-to-differ

I know it’s a meme. One that curves my lips upwards, at that. And also cringe a little when I see the typo. *sighs* But when I think about it, I see some truth.

It’s rare, but try picturing a timid guy saying “I beg to differ” in a group discussion, where his opinion is the only one that’s, well, different. It’s hard to do sometimes, straying away from the crowd. Finding the fine line between having time alone and ending up alone is the main problem. That’s why diversity and tolerance in a group is important. It makes things interesting, you learn to respect each other, and many more things I’m sure you can think of yourself.

“Schadenfreude”

Oh, don’t we all know this? Don’t we all agree?

It doesn’t necessarily mean we’re evil. Sometimes painful things just look funny. Like slipping or tripping over something. And the Germans, God bless them, have a word for it! (No, I didn’t just find out and went to immediate “I NEED TO BLOG THIS!” mode, but I just felt like doing it.)

So, first thing. Definition.

And everyday life is just teeming with perfect examples! Here are a few:

  1. When a friend spills drinks/sauce/anything and have to mop it.
  2. When your friend’s couple gets a temper tantrum and your friend has to deal with it. (Not the serious ones that lead to fights and tears, though.)
  3. Someone gets hit by a random flying item and no blood sprouts out. There’s likely a mix of sympathy and gladness that it didn’t happen to you, resulting in rapid movement of air inside our bodies we call laughter.
  4. Taking someone’s stuff and watch them frantically look for it.
  5. Pranks. Self-explanatory. Pure, intended schadenfreude.

See what I mean? And if you don’t find these funny, you’re either too uptight or have a golden heart. I just hope you’re the latter.

I’m a BIG follower of schadenfreude. It’s how I get through life. It’s how I express gladness, that the bad things may happen to people around me I care about, but at least it’s not me. That’s the beauty of it. It shows a sense of selfishness. It’s a part of human nature we’re prone to.

As long as we don’t get hurt, it’s okay.

That’s why we react differently to things that happen to other people. One friend may be okay being teased for the way he/she looks, and you decide to join in the fun. He/she may be lightly offended, but it’s not serious. It’s just slightly annoying. You laugh it off together. No hard feelings. But some may take it to heart, and that’s when the funny stops, doesn’t it? It’s not schadenfreude anymore because at this point, you also feel pain looking at them being pained. Again, it’s selfish. You don’t find it funny because now you’re feeling pain too.

I’m not in the mood for gobbledygook right now, so let’s just cut this short.

You can’t get rid of schadenfreude. It’s useful human nature. It’s a way of expressing ourselves. It’s not always nice, but people just aren’t. Still, it has the power of making bad things seem better. Anyone who could take a laugh and laugh along with all the problems they’re facing is an awesome person. You can use it to measure how good people are. When things take a turn and stop being funny, but they still confidently smirk, it’s time to question just what kind of “friendship” you have.

Personally, I think the best kind of person is someone who won’t try and look nice and concerned if I fall on my butt just because they’re trying to keep a good image when they’re actually stifling. That’s disgusting. I like people who’ll laugh anyway, but still help me get up.

They enjoy themselves, distract me from my pain (unconsciously sometimes), and underneath all that grinning, they really, truly care.

Besides, life would be boring if you can’t even laugh at problems.

Hak Berekspresi (dan Beropini)

Ini opini personal gue tentang hak yang kerap mengundang kontroversi. Mungkin lebih mengarah pada penjelasan tentang postingan sebelumnya.

Jadi, begini. Seberapa sering lo berbincang dengan teman, lalu terjadi konflik. Kalian masing-masing tanpa sadar mulai berubah defensif. Membela apa yang kalian anggap benar. Atau ideal. Atau keduanya. Lalu… muncul kalimat “Terserah gue, dong, mau ngomong/percaya/berbuat apa! Kan ini hidup gue!” sebagai penanda sang penutur sudah mulai lelah atau frustasi. Terkadang tak harus dimulai dari pembicaraan. Bisa saja si teman itu meminta opini tentang sesuatu, lalu malah membela diri terhadap segala komentar dan kritik yang dianggapnya menunjukkan kelemahannya.

Kalian yang pernah melakukan hal tersebut… bertobatlah!

Gue sudah cukup banyak (tak terlalu sering, tapi memang sejak dulu gue suka mengkritik, haha) mengalami hal ini. Menyebalkan, bukan? Orang yang jujur akan memberikan pendapat apa adanya. Baik atau buruk. Mungkin akan diberi sedikit pemanis, kata-katanya diperhalus, tetapi kejujuran itu sendiri akan tetap ada.

Lalu ada mereka yang akan memotong kalimat lo dan menjelaskan bahwa lo nggak mengerti “visi” mereka. Oh, astaga.

Bedakan meminta saran, pengakuan, dan pembenaran.

Mereka yang benar-benar meminta saran akan benar-benar mendengarkan apa saja yang dikatakan. Walau pada akhirnya tak dilaksanakan, opsi-opsi perubahan akan ditimbang, sesingkat apapun waktu pertimbangan itu. Setidaknya kalimat-kalimat lo akan didengarkan. Kalaupun ada yang dikatakan kembali, sifatnya hanya penjelasan. Pemastian bahwa tak ada kesalahpahaman.

Pengakuan bersifat layaknya pertanyaan tertutup. Formatnya adalah “(pertanyaan), kan?” dan belum ditambah tatapan yang seolah-olah membuat jawaban satu-satunya adalah jawaban yang mengiyakan. Jika si penanya kecewa responnya mungkin sekedar “oh” atau bisa saja penyelidikan alasan di balik jawaban kita.

Mereka yang mencari pembenaran menuntut lebih banyak lagi. Tak sekedar anggukkan, kalau bisa disertai komentar yang mendukung mereka.  Orang-orang ini yang akan menjawab semua perbedaan pendapat dengan, “Lho, tapi, kan….”

Sesungguhnya, mereka berhak mengatakan apa yang mau mereka katakan. Itu opini mereka.

Sesungguhnya, kita berhak mengatakan apa yang kita ingin katakan. Itu hak kita.

Sesungguhnya, saat mereka memaksakan pendapat mereka pada kita, atau sebaliknya, hak beropini pihak yang ditekan sedang tidak diakui.

Mungkin dasarnya ego. Tentu kita senang apabila banyak orang setuju dengan kita, bahkan membela kita. Itu yang gue rasakan juga. Syahdan, sebaliknya berlaku. Jika orang mengambil posisi oposisi, bukankah kita seringkali merasa sebal? Tak selalu kasusnya, ada yang bisa berlapang dada. Terkadang opini lawan akan terlihat lebih baik. Bukan berarti opini kita salah. Mungkin kita hanya kurang menelaah pemikiran kita. Tak berarti ia salah pula.

Gue punya seorang beberapa teman yang punya kebiasaan. Entah baik atau buruk, tentukan saja sendiri. Ia terbuka pada opini tiap orang. Kau bebas mengatakan apa saja. Lalu ia akan mulai mengatakan opininya.

“Menurut gue, begini dan begini.”

Namun tak berhenti sampai situ. Ia akan melanjutkan penjelasannya hingga opini yang kini menjadi argumennya terlihat lebih baik, lebih pantas diminati. Lebih ideal. Pertunjukkan intelek. Dulu itu pun pernah gue geluti. Padahal, tak ada maksud khusus berdiskusi. Setelah sekian lama, gue pikir, “Ah! Apa gunanya berdebat dengan batu?”

Gue akui di antara orang-orang tersebut memang ada yang lebih dewasa, lebih berpengalaman, dan lebih-lebih lainnya. Sayang ada yang lebih dari perlu bicaranya. Bro, gue ngerti maksud lo apa. Tapi gue ga setuju. TERIMA AJA!

Salah satu orang ini memiliki ciri spesifik. Kalau dia sudah mulai menjelaskan, dia nggak akan berhenti sampai lo menerima pendapatnya. Yang gue rasakan, dia mungkin merasa kalau kita benar-benar paham maksudnya, kita juga akan setuju dengannya. Tapi kadang gue hanya setuju setengah jalan. Lalu dia akan kembali mengoceh tentang maksudnya. Tentang bagaimana orang lain salah mengerti, atau kurang luas pola pikirnya, atau harus melihat dari sudut pandang lain.

Ada lagi yang idealis menurut standarnya. Ia akan mengkritisi segala yang tak bisa dilakukannya dan mencintai semua yang bisa dilakukannya. Bukankah (sebagian besar, kalau tak seluruh dari) kita begitu? Namun orang ini memaksakan opininya pada orang lain. Saat berpendapat lain dengannya, ia bisa marah-marah, walau tak benar-benar serius.

Sejujurnya gue masih belum bisa menemukan batas. Sampai titik mana pertemanan dengan orang seperti itu harus dipertahankan. Namun dari dua kasus di atas, saat gue “labrak”, si orang kedua reaksinya lebih baik. Ia mengangguk dan berhenti merongrong. Yang pertama? “Yah, pokoknya gue begini.”

Singkat cerita, gue putuskan menjaga jarak dari orang pertama. Cukup obrolan biasa. Jangan mengiyakan kalau tak setuju, cukup beri sinyal kalau gue mengerti omongannya.

Sebagai penutup dari ocehan berbentuk tulisan yang tiada kejelasan ini, gue lampirkan gambar yang menjadi salah satu motivasi utama gue mengubah diri ke arah yang lebih demokratis dan toleran saat menyangkut kebebasan beropini.

“Faith in Humanity”

Oh, come on. You know these kind of pics.

And the memes too.

And some of the pics are good, some aren’t. Some are just wacky and overrated. Some seem too good to be true. Nevertheless, these pics are all over social media (and my Facebook timeline) and I don’t think they’ll die out anytime soon.

But there’s that slogan at the end of the pic. The “serious” ones, at least.

FAITH IN HUMANITY RESTORED!

So… has yours?

I really do think we shouldn’t lose faith in all humanity. Yes, some people are just stubborn, individualist, self-righteous hypocrites that’ll never change if the effort to do so falls short of a divine intervention. On the other hand, some just need a tap on the shoulder to avert their gaze from their little handheld world and look the other way.

You want proof? Fine.

Look again at the pictures above. It’s more likely you’ll feel touched, though just a little. Something along the lines of “Well it’s not that extraordinary, but it is a good deed.” or “Nice. Didn’t know people still do that.” and so on. For the cynics, you’ll probably see it as a chance to rant about the rest human population.

But that’s beside the point. What I mean is some of you will decide to copy the kindness, or at least be more aware of the world. The rest won’t give a rat’s ass. Well, most of the rest.

If you’re like me, then you’ll come up with a different trail of thought.

See that brilliant quote above? As much of a cynic as I could be, I realize that that quote’s true. You just have to look for the right kind of people in the right places with the right kind of heart. If you sincerely ask for help and bite them back, chances are they’ll help you. Unless either you or them are asses. In which case, you’d better just stop reading here and improve on your social skills. (For both cases. Either you stop being an ass or pick better people to hang around.)

“So, what does that quote have to do with your views?”

I’m getting there!

Basically I think the pics in the “Faith in humanity restored!” department don’t show how good people could be. In fact, I think otherwise.

I think… they show how ignorant people are and how concerning the state of humanity is.

Just think for a while. Have you got it yet? I’m still gonna explain, of course. This is how I let out my rants. 🙂

First thing’s first:

How ignorant do you have to be to miss out on all the kindness that still exists in this world?

Yes, I know the human beings occupying the world are getting more and more evil. But there are also people getting better and better by the minute. These people, while may be the minority in a community, are there. People aren’t born evil. Evil tendencies? Maybe. Like those guys with psychopath brains. It’s how they’re born. But there’s always a choice on how good and bad you could be. Even in an evil place there are people not as bad as the rest.

Then how are we as human beings with insight to feelings and instincts and intellect and all those things we pride ourselves upon not able to find help? Are the good, kind, honest citizens hiding in bunkers? Are they hiding their grace from us? If so, they’re not that kind after all. But if we’re not sensitive enough to see this little things happening around us, or don’t realize them happening to us, then look at these pics and think “The world really needs more of this kindness!” then something’s wrong with us.

Sometimes it’s not that we don’t see them. We just don’t acknowledge them as kind things. We take them for granted. We ignore the fact that not everyone cares enough to do the little deeds that mean so much to others. Then we rant about how cold the world is. It’s a form of ignorance to me.

And to my dear cynics. I’m one too. But while there’re perks of being a cynic, I find myself wanting to trust people more and more. The fact is, I don’t get hurt. So far, anyway. I might misjudge people, but usually my instincts aren’t so blunt that I blindly befriend everyone. So yes, I’m a bit reserved towards some kinds of people, but I don’t automatically go into “eww” mode when they do good things in daylight. Some people are just like that. Not everyone’s in the habit of racing towards doing kindness and bragging about it. It’s not good to generalize the whole population just because a few crave attention and praise.

And the second thing is the state of humanity.

How bad is our state when even the simplest of acts can restore our faith in humanity? How desperate are we to believe that good still exists?

That’s still arguable. You may think people only do big things because that’s what’s noticed. That’s what’s gonna give them good karma back. Maybe you’re just astounded there are people besides you and the good people you know. All this time you think that only the famous give back, and part of the reason is just so they would gain better image. Suddenly all you ever thought about humanity gets turned around.

And they have good grounds for that. Often times we see the rich giving to their communities. Artists and public figures with their foundations and charity events. Then there are the campaigns that seem so surreal. Like those likes on Facebook, for example. It’s just beyond my comprehension. Sometimes it’s just they get more coverage, since they’re spread around on social media, news channels, etc. That doesn’t mean the good people are hiding. They just don’t care about what others think of their good deeds. And that’s the ideal thing to do, isn’t it?

But to have faith in humanity restored just by seeing people from two races holding hands, or a random person giving food to some stray animal… you have to wonder what kind of life they go through. It may be a bad life, not far from criminal activities. Maybe they’re rich but surrounded by fake people. Both are sad in their own ways. They may be grasping for that last thread of hope. While we merely see a reminder of how good we could be to each other, the pics mean something to these people.

For the rest of us? Well, the puns are always entertaining. Just don’t forget the message underneath all the flashy colours and editing.

Bottom line, both the state of humanity itself and the state of human beings are worth watching and nurturing. Just never lose hope. And if you do, then it’s high time you start looking up these pics on Google. Or, better yet, find and do them in real life. 🙂