Selusin Soal

Selusin pertanyaan untuk selusin tahun, umur GagasMedia. Dan pembaca selama setengah dari lusin itu akan menjawab demi satu dari selusin paket buku.


1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!

Pertanyaan yang sulit bagi siapapun yang senang dibuai cerita. Setelah mengobrak-abrik ingatan, Goodreads, dan inventori buku, akhirnya muncul juga 12 judul di bawah ini.

  1. Animal Farm — George Orwell
    Satire tentang situasi politik yang serupa dengan 1984. Novel ini dapat dikatakan versi yang lebih pendek dengan tokoh-tokoh hewan.
  2. A Study in Scarlet — Sir Arthur Conan Doyle
    Bagi pemggemar Sherlock Holmes judul ini tak asing. Novel ini memang karya pertama dari ratusan kisah Doyle yang menghadirkan detektif paling terkenal sepanjang masa.
  3. A Thousand Splendid Suns — Khaled Hosseini
    Karya kedua Khaled Hosseini, sayangnya tak seterkenal The Kite Runner. Bercerita tentang kehidupan wanita di Afganistan.
  4. Bumi Manusia — Pramoedya Ananta Toer
    Novel pertama dari Tetralogi Buru yang sangat terkenal. Menceritakan kehidupan Minke, seorang pria Jawa yang terjebak dalam aneka kasta sosial dan munculnya benih-benih perlawanan di dalam dirinya.
  5. Dunia Sophie — Jostein Gaardner
    Novel fiksi yang kental dengan filsafat, dikemas dalam bentuk yang menarik. Bukan bacaan yang tergolong ringan (mungkin karena terjemahan maka bahasanya agak kaku), namun menjadi bahan perenungan otak yang menyenangkan.
  6. Entrok — Okky Madasari
    Mengangkat kisah seorang perempuan yang lahir tanpa apa-apa dan berjuang mendapatkan kemakmuran, juga ketidakadilan yang menimpanya dan konflik dengan anaknya. Tak hanya itu, karya ini juga mengupas masalah feminisme, kepercayaan, dan politik.
  7. Gods and Kings — Lynn Austin
    Buku pertama dari seri Chronicles of the Kings (yang sayangnya tak kumiliki, hiks!). Fiksi Alkitab, mengangkat kisah hidup Hizkia.
  8. I Know Why the Caged Bird Sings — Maya Angelou
    Salah satu utobiografi Maya Angleou. Mengisahkan masa kecilnya yang menarik dan juga masalah keluarga serta pemerkosaan yang menimpanya.
  9. Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang — Erni Aladjai
    Novel ini puitis tapi tak muluk. Penokohannya baik, dan alur ceritanya kompleks namun tidak memusingkan. Kei bercerita tentang perang saudara yang terjadi di Maluku. Novel ini menjadi pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012.
  10. Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children — Ransom Riggs
    Buku pertama dari seri yang belum rampung (Riggs sedang menulis buku ketiganya). Konsep seri ini menarik sekali. Bukan hanya tokoh-tokohnya adalah anak-anak berkemampuan khusus, tetapi ide tiap tokoh diambil dari foto polaroid lama yang juga ditampilkan sebagai ilustrasi dalam buku.
    Example pictures from the book. There’s a graphic novel version too, but I haven’t gotten my hands on one.
  11. Sang Penyamar: Memoar Masa Perang — Rita la Fontaine de Clercq Zubli
    Buku ini bercerita tentang penyamaran Rita sebagai pria pada saat pendudukan Jepang di Indonesia. Selama 3 tahun lebih ia harus berubah dari seorang gadis cilik yang polos menjadi seorang pemuda yang cakap bekerja. Saat itu, Rita yang baru belasan tahun mengalami banyak hal. Ia menceritakan kengerian dan juga momen-momen menyenangkan yang kadang bisa terselip walau ancaman penyerangan dan identitas aslinya terungkap selalu membayangi.
  12. The Time Keeper — Mitch Albom
    Buku yang sungguh puitis. Kisahnya tentang seseorang yang pertama kali menemukan cara mengukur waktu lalu terperangkap dalam keabadian, dan mendapat cara menebus diri dengan menolong dua orang dengan masalah waktu yang berbeda: yang satu ingin mengakhiri waktunya di bumi, yang satu lagi tak pernah mau waktunya habis.

2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?

Semua karya Khaled Hosseini (A Thousand Splendid Suns, The Kite Runner, And the Mountains Echoed). Jika pernah membaca karyanya, siapapun akan setuju dengan kepiawaian sang penulis menarik-ulur emosi pembaca melalui adegan-adegan kecil tak terduga.

Oh, dan surat Dira dalam novel Dealova (Dyan Nuranindya). Surat manis itu terdengar begitu tulus, dan sampai sekarang masih bisa terlihat dampaknya dalam tulisan-tulisanku.

3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?

Karena sedang libur, dan iseng, sekalian sajalah dibuat desainnya.

nowflake

Kutipan ini mengajarkan tentang toleransi dan pengertian terhadap mereka yang kurang beruntung, dan bersikap tegas terhadap mereka yang melakukan kesalahan/berperilaku buruk karena ketidakpedulian.

4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari?

Mr. Darcy dalam novel Jane Austen yang berjudul Pride and Prejudice. Kami akan cocok karena bisa menjadi teman bicara yang seru dan sama-sama keras kepala tanpa harus bertengkar. Aku dapat membantu meringankan kebiasaannya berprasangka dan tak memerlukan gestur-gestur romantis yang “menye” sehingga tak membebaninya yang memang tidak begitu emosional. Mr. Darcy lebih memilih membantu dengan cara nyata. Ia juga orang yang jujur, sifat yang sangat kuhargai dalam seseorang.

5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!

Entrok karya Okky Madasari. Akhir novelnya berhubungan dengan bagian awal buku dan benar-benar tak terduga. (Lebih baik jawaban ini jangan dilanjutkan supaya tidak menjadi spoiler.)

6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?

Let Go oleh Windhy Puspitadewi. Dibeli 25 Juli 2010 dengan harga Rp 35.000,-

Alasan memilih buku ini? Penasaran. Let Go adalah buku pertama yang kutemui yang berkesan cukup ringan sehingga bisa dibaca saat santai, dan tak terpusat hanya pada masalah percintaan. Setelah beberapa kali mengunjungi Gramedia dan perhatianku selalu kembali ke buku itu, akhirnya Let Go menjadi pengantar ke dunia GagasMedia bagiku.

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?

Judul-judul buku yang menarik bagiku adalah judul yang memberi visualisasi surreal, judul yang menggunakan majas personifikasi pada benda abstrak. Misalnya “The Time Keeper” karya Mitch Albom, “Pasung Jiwa” karya Okky Madasari, dan “Sunshine Becomes You” karya Ilana Tan.

Aku juga menyukai judul yang agak panjang namun menceritakan sedikit konsep cerita, misalnya “Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” karya Ransom Riggs dan “One Hundred Years of Solitude” karya Gabriel García Márquez.

8. Sekarang, lihat rak bukumu… cover buku apa yang kamu suka, kenapa?

Sampul buku-buku hard cover yang kumiliki kebanyakan bagus. Memang media yang tebal memberi ruang kreativitas lebih.

Maaf, aku terlalu malas mengeluarkan buku ini dari pojok dalam rak. :’|

Sampul ini cantik dan memiliki perincian indah. Tulisannya berwarna perak. Sampulnya juga sangat melambangkan isi buku—karya-karya Poe yang suram, terkadang seram, indah dalam tragedi. Sama seperti hidup pengarangnya.

9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?

Buku-buku yang mengangkat permasalahan sosial seperti To Kill A Mockingbird (Harper Lee) dan Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer). Menyenangkan untuk dapat mempelajari budaya dan konflik sosial, apalagi dilihat dari sudut pandang yang begitu menarik.

Juga buku-buku yang berdasarkan kisah nyata seperti Sang Penyamar: Memoar Masa Perang (Rita la Fontaine de Clercq Zubli). Memoar dan kisah nyata menarik karena memberi kesempatan pada pembaca untuk belajar buku dan membayangkan kehidupan orang-orang yang benar-benar mengalami apa yang mereka baca.

10. Siapa penulis yang ingin kamu temui? Kalau sudah bertemu, kamu mau apa?

Pramoedya Ananta Toer. Aku ingin mendengarnya bicara dan bercerita tentang banyak hal. Aku ingin belajar darinya dan kehidupannya. Aku ingin mendalami kepribadian penulis Indonesia yang menghasilkan permata literatur. Aku ingin menyeruput segelas kopi atau teh sambil mendengar perasaannya saat tahu buku-bukunya lebih mudah ditemukan dalam tulisan bahasa asing dan buku bajakan ketimbang di rak-rak toko buku besar.

Aku ingin tahu bagaimana ia berhasil menyelesaikan Tetralogi Buru kendati semua kesulian yang dialami. Dan aku sangat ingin berterima kasih atas sumbangsihnya sebagai anak bangsa. :’)

11. Lebih suka baca e-book atau buku cetak, kenapa?

Buku cetak. Selalu buku cetak. Terlepas dari harga dan kesulitan mencari stok judul-judul tertentu, fakta bahwa buku cetak mudah hilang dan sobek, akan menguning seraya menua, bisa terkena jamur dan entah apalagi, menurutku semuanya worth it.

Aku menyukai bau dan tekstur kertas. Aku suka merasakan debar kecil saat membuka bungkus plastik sebuah buku baru. Rasa puas menemukan buku di tumpukan/rak dengan mengenali sampul diikuti perjuangan kecil saat mau menariknya keluar dan merasa memiliki jari-jari sebesar gajah. Tulisan kecil dan selipan-selipan bagai harta karun yang terdapat dalam buku bekas, lipatan penanda halaman yang mengandung kata-kata yang menyentuh hati si empunya.

Sungguh… bisakah e-book menggantikan semua itu?

12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia!

GagasMedia
Kini umurmu genap
Selusin tahun

Terima ini
Kubuatkan haiku
Kado untukmu


 

Astaga, ternyata menjawab 12 soal cukup memakan waktu. Lewat 3 jam sudah, hahaha….

Semoga kalian yang menyempatkan diri membaca ini tak bosan, dan semoga rekomendasi buku-buku di atas berguna. Sekali lagi, selamat ulang tahun, GagasMedia! Semoga kalian suka dengan kadonya. 😉

Sebelas Gagas Berbentuk Buku Untukmu

Di dunia ini ada banyak ide bertaburan, bagai langit berbintang. Gagasan-gagasan terbentuk. Tentang penemuan, tentang bisnis, juga tentang cerita. Dan untuk yang terakhir, GagasMedia sudah banyak membantu mewujudkannya.

Terhitung hari ini, sebelas tahun sudah GagasMedia menjadi corong anak bangsa berkarya. Syahdan, permata demi permata dihasilkan. Ada yang mengundang tangis dan tawa. Ada yang berbentuk kisah nyata dan kumpulan cerita. Yang pasti, Semua wajib dibaca.

Menilik kembali perjalanannya selama 11 tahun, GagasMedia kembali menghadirkan kesempatan berkarya, tetapi dalam bentuk artikel untuk merekomendasikan selusin kurang satu buku yang telah diterbitkannya. Jika akhir-akhir ini terdapat milyaran orang menjagokan sebelas pemain sepak bola di lapangan, giliran para GagasAddict—sebutan untuk penggila GagasMedia—menyuarakan sebelas buku yang dijagokannya.

Termasuk saya. 😀

Saya sudah menjadi pembaca GagasMedia selama setengah dekade. Selama itu, sudah ada banyak buku dari Gagas yang saya sukai. Di bawah adalah sebelas buku Gagas yang saya percaya wajib dibaca.

1. Till We Meet Again (Yoana Dianika)

Roman yang dijanjikan, roman yang kau nantikan, roman yang kau dapatkan. Kisah yang kental dengan cinta dan manisn-pahitnya perasaan tersebut.

Kisah yang disuguhkan mungkin terlihat memaksa, namun sesungguhnya Yoana sudah memberikan latar cerita yang memadai untuk membuatnya bukan sekedar “ketemu lagi dan lagi”. Cerita tentang masa lalu tokoh utama pun benar-benar memiliki nuansa “kanak-kanak”, sementara bagian masa sekarang tokoh lebih dewasa.

Acungan jempol untuk Yoana karena bisa mendeskripsikan Austria dengan sedemikian mendayu-dayu danpuitisnya. Saya bukanlah orang yang terlalu menyukai novel-novel dengan romansa yang hardcore, tetapi “Till We Meet Again” adalah salah satu pengecualian, sepertinya.

2. Perhaps You (Stephanie Zen)

Bagi yang sudah terbiasa dengan karya-karya Stephanie Zen sebelumnya, gaya bahasa dan konflik tokoh utama akan terasa lebih “dewasa”. Walau masih berkisar cinta, namun tidak tentang kisah cinta anak SMA yang mungkin terasa naif.

Tidak ada jatuh cinta pada pandangan pertama. Novel satu ini menguak lebih banyak tentang bagaimana sebuah hubungan memerlukan proses dan pengorbanan, juga tentang hal-hal yang bisa merusaknya. Gaya bahasa yang sederhana namun sarat pesan moral, jika kau sungguh-sungguh mencarinya. Pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin memiliki bacaan bermakna tetapi dengan bahasa “normal” yang tak ditaburi aneka kalimat puitis disana-sini.

Buku ini wajib dibaca, setidaknya sebagai referensi kenyataan. Cinta tidak melulu tentang kau dan dia—terkadang ada orang lain yang masuk dalam gambar. Kadang kau harus melalui proses trial and error sebelum menemukan yang tepat. Bahkan jika orang yang kau pilih sudah tepat, kisahmu tak melulu bahagia.

Hal-hal itu yang saya pelajari dari “Perhaps You”.

3. Refrain (Winna Efendi)

Saya ingin jujur saja dan mengaku bahwa saya hanya membaca novel ini karena sampulnya yang menarik; sebuah amplop biru. Apa isinya? Sungguh sebuah tantangan untuk menahan diri agar tidak membacanya sebelum menghabiskan novelnya.

Winna saya kenal sebagai penulis dengan kata-kata yang manis. Dan cerita ini pun begitu. Penuh dengan perasaan yang innocent hingga menggugah perasaan pembaca, juga bagian-bagian yang mengharu-biru.

Tentu kalian tahu “Refrain” sudah difilmkan, bukan? Jika belum membacanya, tunggu apa lagi! Wajib dibaca, baik kalian sudah menonton filmnya atau belum!

4. Melbourne (Winna Efendi)

Karya Winna ini merupakan satu dari seri STPC (Setiap Tempat Punya Cerita), sebuah proyek yang disandang oleh GagasMedia dan Bukuné. Sesuai judulnya, novel ini berlatar kota Melbourne, Australia. Konsep tiap novel seperti itu; memiliki satu kota sebagai latar dan pusat cerita, serta menguak sedikit kehidupan yang berlangsung di kota tersebut.

“Melbourne” dan juga koleksi STPC lain wajib dibaca. Selain kisah-kisah menarik, pembaca disuguhi pengetahuan menarik tentang masing-masing kota. Baik itu arsitektur maupun budaya. Khusus untuk Melbourne, banyak terdapat referensi lagu. Dan jangan ragu karena harga, karena yang kau dapatkan di dalamnya layak untuk kau beli.

WP_20140704_22_07_21_Pro
Ya lihat saja itu modal tintanya gede, loh! Jangan ngomel kalau (agak) mahal, ceritanya worth it, kok. 😉

Cerita ini mengisahkan tentang muda-mudi yang kisah cintanya berliku-liku. Si lelaki, Max, mencintai cahaya, dan Laura adalah cahaya dalam hidupnya yang paling terang. Namun ia didera begitu banyak dilema; kesibukan, pekerjaan, saingan.

Jadi, bagaimana kisah mereka? Yah, sebaiknya kalian baca sendiri. Saya cukup membantu promosi. Dan jangan lupa mendengar melodi yang disajikan Winna untuk menemani bacaan ini. Pasangan yang pas untuk tiap bab! 😀

5. Eclair (Prisca Primasari)

Saya berpikir akan menemukan kisah cinta sepasang muda-mudi yang memiliki kegilaan terhadap eclair, namun yang menanti saya di dalamnya sungguh berbeda! Mengajari, sekali lagi, untuk tidak asal menilai buku dari sampul dan narasi di bagian belakang sampul. (Walau sampul-sampul GagasMedia sungguh indah!)

Cara Prisca bercerita manis sekali, tetapi tidak sampai terkesan naif. Pas antara cinta dan realita, jika kau mengerti maksudku.

Untuk kategori “novel remaja”, “Eclair” adalah karya luar biasa. Pengorbanan dan perjuangan yang dilalui para tokoh demi sahabat mereka sungguh memeras emosi. Perlukah alasan lebih untuk kalian membaca buku ini?

6. Let Go (Windhy Puspitadewi)

“Let Go” adalah novel ketiga yang saya beli menggunakan tabungan. Dan saya tidak menyesal sedikit pun.

Dalam beberapa halaman saya sudah jatuh hati pada watak Caraka, sang tokoh utama.  Entah mengapa, saya sedikit teringat pada film “The Breakfast Club”, mungkin karena terdapat unsur yang sama; orang-orang yang begitu berbeda namun bisa akur.

Konflik utamanya meskipun bertemakan remaja bukanlah cinta, melainkan penerimaan—baik untuk diri sendiri pun orang lain. Banyak sekali pesan moral yang singkat namun dalam di sini; persahabatan, melepas masa lalu, berani berkarya, dan lain-lain. Syahdan, pembaca tak mendapat novel dengan pesan yang “ecek-ecek” dan hanya membahas urusan hati.

Hal lain yang patut digarisbawahi adalah cara Windhy bercerita. Ia tak banyak menggunakan deskripsi untuk para tokoh, hanya secukupnya saja untuk memberi gambaran kasar bagi pembaca. Perlu diingat, saat “Let Go” terbit, kebanyakan novel memberi deskripsi yang begitu detil bahkan untuk tokoh pembantu. Maka novel ini sangat menyegarkan karena lebih membebaskan imajinasi pembaca. Bahkan, latar tempat pun minimal. Hanya frase seperti “tokoh kaset” dan “rumah Caraka” saja.

7. Kei (Erni Aladjai)

Sungguh, sebuah mahakarya. Novel ini berhasil memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Hal tersebut yang membuat mata saya terpikat.

Bahasanya puitis dan kental dengan budaya Kei, sarat dengan pembelajaran moral dan kehidupan. Di zaman yang begitu modern ini Kei seolah menghembuskan angin segar dengan membawa kembali budaya adat. Yang baik, tentunya.

Cara tokoh-tokoh bercerita juga penuh emosi dan saya yakin sanggup menghanyutkan para pembaca. Belum lagi ditambah latar perang dan permasalahan rakyat yang relatable, menjadi satu lagi nilai tambah permata yang satu ini.

8. Here, After

Sebenarnya, saya tak terlalu yakin akan menikmati buku ini saat membelinya. Tetapi ternyata saya memang cukup menyukainya karena alasan yang bisa dibilang tak biasa.

“Here, After” wajib dibaca karena konsepnya—antara novel dan kumpulan cerpen. Pasalnya, Mahir dengan sesuai namanya membuat novel ini bagai kumpulan cerpen karena konflik dan tokoh-tokoh utamanya berbeda-beda. Namun, satu cerita memiliki hubungan dengan cerita sebelumnya, membuatnya tidak menjadi “kumpulan” tetapi lebih seperti untaian cerita.

Memang Mahir tak bisa terlalu mendalami suatu masalah namun sudah berhasil menyampaikan kisah dan tokoh-tokoh yang “greget” dan pembaca pun tak bosan karena konflik yang berputar di situ-situ saja. Cocok juga untuk dibawa-bawa sebagai bacaan di waktu senggang.

9. Jika (Maaf, yak. Kalau disebut semua kepanjangan. *dijitak penulis*)

“Jika” adalah kata yang sungguh memprovokasi imajinasi. Siapa yang tak suka berandai-andai, barang sesekali?

Dalam “Jika” pembaca diajak menyimak angan dari 13 penulis berbeda dengan gaya menulis yang berbeda pula. Pun pembaca dimanja dengan foto-foto yang disajikan sebagai pelengkap cerita, sebagian bahkan hasil jepretan sang penulis. Kumcer yang tak hanya menyajikan kata-kata, namun juga imaji, menjadikannya wajib kau baca.

WP_20140704_22_06_01_Pro
Keren kan? Kan? Hahaha….

10. Murjangkung (A. S. Laksana)

Mungkin untuk “Murjangkung” saya tak bisa terlalu banyak berkomentar. Sungguh, cara A. S. Laksana bercerita kental dengan humor, namun juga memuaskan dari segi sastra. Narasinya seperti terpecah ke berbagai arah—kacau, namun dalam arti yang baik. Ia sungguh pandai bermain dengan kata-kata.

Yang saya harus garisbawahi adalah twist dalam kisah-kisahnya. Pembaca sudah menduga ke arah mana cerita akan bermuara dan malah menemukan arusnya mengalir ke arah lain. Sungguh menghibur!

11. Filosofi Kopi (Dewi “Dee” Lestari)

Rasanya sulit menemukan cela dalam tulisan Dee. Sungguh, jika kau tak menyukai tulisannya, kemungkinan itu hanya masalah selera.

Wajib sekali membaca buku ini. Mengapa? Bagi kalian yang menyukai karya Dee, kalian bisa berguling-guling bahagia membacanya. Bagi yang belum mengenal dan belum sayang, karya ini sangat cocok menjadi “tester” karena terdapat tulisan Dee dalam berbagai bentuk. Ada yang memakai cerita, atau sekedar narasi, atau kumpulan kalimat puitis sebagai bahan perenungan. Semuanya bagus dalam caranya tersendiri, hanya masalah kau melihatnya saja.

Dan “Filosofi Kopi” sudah dicetak ulang beberapa kali dengan sampul yang berbeda-beda. Pertanda memang ia buku yang bagus. Bagaimana, tertarik?

Berhubung hari ini adalah hari lahirnya GagasMedia, tepat rasanya memberi kutipan untuk segenap redaksi dan penerbit. 😉

“Adakalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun yang terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya waktu.”

Dee (Lilin Merah, Filosofi Kopi)

Siapa sangka kumpulan cerita ini sekaligus memuat pesan untuk GagasMedia? Hahaha….

Akhir kata, dirgahayu untuk GagasMedia! Semoga bisa terus menjadi jalan bagi mereka yang ingin berkarya dan menjadi inspirasi bagi para pembaca. 🙂

I Rhymed Myself A Dream

This is a story I hope you’ll fancy.
The plot is fictive but there’s something real from me.
It’s the poem; it represents all the things in UK I’d like to do.
But will I get the chance?
Well, I guess it’s up to you.

* * *

Kye opened the door to her flat. She’s drained from all the work she did today. It paid off, though. She managed to close a deal that would make her bosses happy. On top of that, tomorrow’s the first day of her holiday. Kye’s done such a good job at work for the past year she got two weeks’ worth of paid leave.

“What to do? What to do?”

She dropped herself onto her sofa, thinking about what she should do—where should she go? It’s been a while since she’s travelled anywhere. And now’s the perfect moment to get lost without having to worry about work.

“Hmm… ah!”

Struck by an idea, she scurried to her room. She pulled a box under her bed and opened it. Postcards from pen pals, clippings from travel magazines—Kye used to collect these when she was in junior high. They’re like her travel bucket list. While she was rummaging through the contents, a piece of paper fell. It was old and crumpled. Kye flattened it and tried to read it.

“What could this be, I won—wait, this is perfect!”

Kye hurried to her phone, her eyes still glued to the piece of paper. After a somewhat awkward session of trying to grab her phone without seeing it, she dialled a friend who works at a travel agent.

“Hello, Jamie? This is Kye. Listen, book me a ticket. Just the ticket. First class. Where? London, England. Three days from now. Got it? Okay, call me later with the details. Thanks.”

* * *

DAY ONE

Three days later….

I’d like to leave
During the season of fallen leaves
To the land of “Her Majesty”
Where her subjects live happily
May God save the Queen

Heathrow Airport. Kye took a deep breath and let the atmosphere sink in. Her feet could still support her, but she felt weak. Kye shivered as if she had ague. She couldn’t help but laugh out of happiness. If she were still in her teenage years she’d probably have burst into tears. Yet, she managed to compose herself. Her logic kicked in. She needed to get her luggage and head straight to the hotel.

* * *

Kye jumped onto the bed the minute she walked out of the bathroom. Her hair’s still wet, but she doesn’t care about that right now.

“London. I’m really in London,” she said, her voice muffled under the pillows. It felt so surreal.

Kye headed for the window. Opening the curtains, she sighed at the sight of the city in lights. She could just stand there ‘til dusk dawned, but she knew she’ll need to rest to prepare for the following days. Though in euphoria, Kye managed to doze into a deep slumber minutes after she closed her eyes.

* * *

DAY TWO

I want to stroll down River Lea
Let wonderfully random thoughts fill up my brain

As I skip giddily down the street
Where the ends of my fantasy and reality meet

Kye woke up to faint rays of light that broke through the openings of the curtains, softly dancing as the caress the wooden floor. She dressed herself and hastily went to have breakfast. Nothing could stop her from munching down a full and hearty breakfast! With a happy tummy and a skip in her step, Kye got ready to explore the city.

There’s a slight fog in the air, but for Kye, it makes everything look so mystical and mysterious. And magical, too. She caught a cab and went to River Lea.

It was beautiful.

Kye thanked her lucky stars that she went there in early autumn. Most of the leaves have changed colour, some have even fallen to the ground, but there were still many of them hanging on branches, and she could spot a few green leaves. Then her eyes spotted something and she beamed even more.

It was a boat. After asking around, Kye found out she could step in and enjoy a ride down the river. Of course she wanted to! She almost jumped inside the little boat! But when she saw the view, she calmed down, soaking it all in. By coincidence, she overheard two elderly women talking.

“Do you miss your son? He hasn’t been back here for what—a year?”

“Yes, love. Ah, I do miss him so. When he was just a tiny lad we’d go to Richmond Park. Oh, how he loved to see the deer!”

“Um, excuse me,” Kye interrupted them, her eyes sparkling with enthusiasm, “may I ask which park you were talking about, ma’am? And by any chance, is it located around here?”

* * *

DAY THREE

My wish ‘tis to lie on the ground
Watch the sun set as falling leaves surround
Envisaging the beauty, I have no doubt
Right there, right then, I’ll be bound
To fall in love

Kye was out of breath. Lying on the ground atop soft grass, she smiled. She was in Richmond Park all day, only going out for lunch at a nearby restaurant before coming back. She ran around like a little girl, stepped on crunchy leaves, dipped her feet in the pond there. She even got to talk to a complete stranger who explained the flowers that grew there. The bluebells were Kye’s favourite.

Kye could hear some children laughing in the distance. But it was barely more than a whisper. The only obvious sound was cooing. It couldn’t be helped—the pigeons are everywhere.

The sun was slowly going down. Kye stayed on the ground, watching the beautiful scenery. She chuckled out of happiness. In three days, she lost count of how many times she did that.

This vacation’s nowhere near a mistake on my part, she thought. And now she decided to clear her head and focus on the sky, the birds, the trees, the deer—everything her little mind could hear and feel and smell and see and turn into memory.

For a second the thought to take a picture entered. But she shook it off. Kye didn’t want to lose a millisecond of anything. She could always browse for pictures, but she can’t always be at peace like this. Besides, her memory’s enough, and why should she take pictures? Bragging rights? She’d rather keep a place like this to herself, if she could.

Slowly, unwillingly, Kye got up. She knew the park would be closing soon. She agonisingly walked out of Richmond Park, hoping that the few days she still has would be half as good as this one.

* * *

DAY FOUR

I’d like to try out the culinary
Some fun food for my tummy
Also immerse myself in culture
Maybe a pub crawl and other things in feature

“Ah, I’m stuffed!”

“But you haven’t even had a beer, yet, love!”

Kye was in a little dining place, drinking her tea. She’s just finished a full English Breakfast and a portion of Fish n’ Chips. I wonder how long it’ll take before I feel good enough to take a walk, she thought as she rubbed her stomach, signalling it’s full. The friendly middle-aged man who owned the place laughed and placed a small brown paper bag in front of her.

“Tell you what, love. Since you like my cooking so much, I’m giving you samples of my cakes—pies and crumbles. The recipes were my grandmama’s, so I’ll bet you they’re absolutely, positively delicious! Oh, don’t be shy, take them! Compliments for a well-fed customer,” he said with a wink. Kye smiled back and thanked her a few times before finally leaving.

“Now… where to?”

Kye wandered into a pub and ordered a glass of beer. A group of people around her age walked in, laughing and giving orders for drinks with ease. Unconsciously, she eyed them. Kye didn’t even realise it until one of them saw her.

“You alone, love?”

One of the girls said so, making the others turn their heads at her. After a few seconds of examining her, their faces turned into warm, welcoming ones.

“Come with us, my mates and I won’t bite” said a boy, laughing.

“We’re going on a pub crawl. It’s better than being alone, right?”

“We promise you’ll have a merry time!”

Kye thought it over, but she didn’t really have to. She felt like she could trust them. Besides, she’s not someone who’ll let herself get drunk and get taken advantage of. And she could always come up with a reason to leave if she felt anything off.

“Alright, then.”

* * *

DAY FIVE

What would I do to step into Buckingham Palace?
Or see a passerby as an ant from atop London Eye?
Tour the land ‘til my feet grow callused
Then still somehow manage to go through Trafalgar Square
Amid all the hustle and buzz of tourists

Sighing, Kye stretched her feet. She’s been walking around aimlessly around London since dawn, going into any place she saw interesting. An art gallery, a few bookstores, an antique shop, Trafalgar Square, a cafe with a live band playing folk songs. She even spent two hours at Buckingham Palace!

The sky’s already dark, but she had one last stop. London Eye. And now she’s in one of the capsules, looking at the city lights like the first night from the hotel. Only… this was more beautiful. It’s breathtaking, to say the least. Kye almost cried watching it.

Her feet were tired, nearly sore, but she stood up again. Kye carefully placed both hands on the glass, then her forehead. It felt cool to the touch.

You know how they say that beauty is in the eye of the beholder? Kye believed that. But she also believes that something this gorgeous would look magical to anyone—anyone—whose eyes set upon it.

* * *

DAY SIX

All the historic places to see
All the wonderful people to meet
Places like Sherlock Holmes Museum and Westminster Abbey
The least is those two I’ll someday visit

Kye was just a few feet away from her dream museum. The famous Sherlock Holmes Museum. Her eyes were so fixated on it, she didn’t realise she stepped on someone’s foot.

“Oh, I’m so sorry!”

“No, no, I’m alright, love.”

Kye had stepped on the stranger’s foot. The redhead introduced herself as Tori. As it turns out, Tori wasn’t exactly paying attention either. She was texting someone while walking.

“Serves me right, doesn’t it?” she gave a playful wink that managed to elicit a laugh from the both of them.

“Are you here on holiday, then? You don’t strike me as a local,” Tori said with a smile. She genuinely seemed to be guessing, not in any way trying to offend. Kye nodded.

“I’m leaving tomorrow, actually. But I’d like to tour this place just a bit more, while I can. I’m planning to go to Westminster Abbey after this,” Kye said, a bit surprised for telling so much to a person she met barely five minutes ago. But during her stay in London, she felt that she’s so comfortable. She could talk openly to the people as long as she mind her manners, and everyone seems to be friendly enough to at least give an answer with a warm smile on their faces.

“Lucky you, then,” Tori said, “I’m going there today to draw,” she pointed to her backpack, presumably containing art supplies, “Would you come with me after you’re done here?”

“But… won’t I be intruding?” Kye hesitated.

“No, love, not at all the trouble! Actually, I kind of wanted company. Now I do!”

“Well, in that case, it would be rude to refuse, wouldn’t it?”

* * *

“What was your favourite part?”

“The garden, and the museum,” Kye sighed, wishing the Abbey opened for another hour. There was so much to look at but so little time, though she spent over two hours in there.

“Mine’s ‘Poet’s Corner’, as you can imagine.”

They both laughed. Tori turned out to be quite the artistic person. She can draw, write, sing, even act! Kye was ashamed of how loud she laughed when Tori tried to impersonate poets from centuries ago. It seems they just click.

“So, where do we go now?” Kye asked.

“Hmm… how about the Beatles Museum?” Tori said after some thought, “We still have over an hour ‘til they close.”

“Count me in.”

* * *

DAY SEVEN

This isn’t a dream that may not come true
This is a goal that one day will fall due
It may be tomorrow—I’ll never know
But I’ll keep believing
One day, to UK I’ll go
I just know

“Well done, myself.”

A week has passed. Kye’s back at where she started; Heathrow Airport. In her hand’s the piece of paper that brought her here in the first place. It’s a poem she wrote long ago when she saw pictures of a friend’s trip to UK. It was like something stirred in her heart. She went back home that same day and went on a frenzy, asking everything about the United Kingdom to her parents.

Now I’ve found out for myself, she thought, ending her reminiscing session when she heard the announcement to board her flight.

She saw what she wanted to see. She found a new friend in Tori. Kye knew she’d miss Great Britain. Maybe when I get home I should start planning on my next holiday, and the next after that. I’ll definitely go back here—and God knows where else.

With that thought in mind and a smile plastered to her face, Kye walked towards her gate. Slowly, slowly. Taking the last moments in. Before she goes to bed on board and dream about her trip all over again.

WP_20140530_23_47_04_Pro20140530235352[1]

Akun sosmed buat cek sudah follow dan like apa belum:
Twitter: @anonsibe
Facebook: Shannon Sibe Chukcha

One Fateful Day at Trafalgar Square

London, England. 1920.

The little girl sat in the middle of Trafalgar Square, picturesque carvings and fountains surrounding her as how flowers are neatly placed in a garden. People passed her but took no heed, their minds caught up in thought of their own personal tasks for the day.

The girl’s eyes were set like stone, scarcely blinking. They were grey. Almost transparent, like a thin fog you could see through. Her glare was fixated upon a boy approximately her age. He, unlike so many, didn’t move much. He was sitting down in a corner, hidden from everyone’s gaze except hers, hugging his knees, his face hidden from sight by black locks of hair. The girl approached with caution, but curiosity glowed in her eyes like fireflies.

She leaned in closer. The boy’s skin looked sallow. He was thin—as is his breathing. His clothes were worn though not ragged or torn. She figured he must be a runaway or something else as unfortunate.

Suddenly, the rhythm of his breathing was disrupted.

“Who are you?”

The boy’s head snapped up at her. His eyes were narrow like yellow-skinned people the girl had seen roaming around as tourists, but they were green. Dead green like thick, soft, velvet-like moss.

“Ye mean me? You’re looking at me?” the girl pointed at herself, looking stunned. The boy nodded, finding it weird that she’d be so surprised he talked to her.

“What’s your name?” he said again.

“I’m just… me. I aven’t been called anythin’ in a long time. Ye call me as ye pleases,” she said.

The boy was stunned. He hasn’t heard that kind of talk anywhere but in plays and movies. But he found her voice pleasant. He scrutinized the little girl’s looks. Golden locks framing a thin face, cascading in loose waves down her back. She wore a plain white dress with frills on the bottom. She looked like….

“I’d like to call you Lyra, if you don’t mind. I’m Collin,” the boy extended his hand. Tilting her head, still holding her stare, the girl—now Lyra—shook it fimbly.

“Why Lyra?” she asked again, her eyes widening with curiosity.

“Because you look like an angel,” Collin said with innocent bluntness found only with children, “I like your voice too. You remind me of a lyre. It’s a harp angels use to play music.”

The girl beamed. She fancied being thought of as an angel.

“Aye, that’d be dandy. Ye ‘as an eye fer good names, ye does.”

“Why do you talk like that?” Collin asked, arching his eyebrows.

“Don’t know meself, lad. I’ve always spoken in the likes of this, I ‘ave. Just like me ol’ Pops does,” she paused a moment, “I noticed folks around ‘ere are more… civilised. I hope a clean lad like yerself won’t mind lil’ me talkin’ this way.”

“Oh, no, no, no!” Collin waved his hands, rather dramatically, “I love how you speak! It’s like language from the old days.”

“Ah! I see yer a kind one, then,” Lyra grimaced at her new buddy, “Some o’ my ol’ nurses said I was nought but a naughty mess, ‘specially for a gal.”

Collin shook his head when he saw Lyra’s face fell. Mother had always taught him to cheer others up when they needed cheering up. Now would be an appropriate example.

“I think you’re wonderful, Lyra!”

The little girl’s face lightened. She gave a giggle. Collin thought her laugh pleasant. Her whole body shook, and the way sunlight caught her golden hair’s shine made it all the more beautiful sight to look upon.

“Well, since we’re on swell terms, methinks it’s fair to show ye sumthin’. Hold my hand.”

Collin immediately did so. Lyra took a deep breath and, to Collin’s astonishment, began to float. Carving a more dumbfounded look on the boy’s face, Collin also began to float. Lyra whispered something, and they were whisked away into the clouds.

“W-where are we going?” Collin asked. He was by no means afraid for he trusts his new friend, but he was curious all the same.

“Lemme see… what place does ye fancy?”

Collin thought for a moment. His gaze was set upon the thin blanket of clouds slowly travelling by gushes of wind, but his noggin was tinkering. After a few seconds of tapping on his chin, he nodded.

“To Westminster Bridge, please, my good lady!” he exclaimed, pointing at the direction. Lyra laughed. Being with him felt like going on an adventure.

“Aye, aye, sir!”

The two flew past buildings and wonderful-looking places; offices and hotels and little shops. Lyra seemed accustomed to the scenery, but Collin gaped at the view.

“It’s beautiful.”

“A sight for the eyes, ain’t it?” Lyra grinned before pointing at a certain tall, towering time-teller.

“We’re here.”

The second they reached the ground right in front of Big Ben, Collin ran toward Westminster Bridge. Lyra wondered and pondered at what could be the matter, so she followed suit, though at a slower pace. It wasn’t hard to find Collin. He stood out in the crowd though no one bid him any attention.

“Father?”

Lyra stopped in her tracks. Collin stood on the pavement behind a man who seemed to be doing a sketch of Big Ben. She saw him try to reach out to the man and tried to stop Collin, but her effort was futile.

“W-what?!”

Collin tried to grab the man’s coat, but instead his hand passed through him. Lyra painfully watched as Collin frantically tried to touch something. First the man, then other people, then the ground. His feet could stand on objects as solid things could, but his hands couldn’t grasp anything.

“What is this?! Did you do something to me?”

Collin approaches Lyra, who walked a few steps back. Suddenly a car passed and it drove through her. As if she’s made out of thin air. Collin gasped.

“I—I’m sorry, I am!” Lyra cried, “I wanted to tell ye, b-but I feared ye’ll take me fer a nutter!”

Minutes passed. Collin waited for her to calm down, then asked for an explanation. He couldn’t believe what he heard.

“We’re dead, Collin. We ain’t nothin’ but ghosts now. Spirits if ye’d like it better.”

“That’s all lies and bollocks!”

Still in disbelief, Collin tried to shout at people, waving his hands in front of them. No one reacted. Lyra was telling the truth.

Collin couldn’t think clearly. As young as he is, he understood death. His eyes clearly showed disbelief though he knew what’s happening is real. Lyra sighed and held her hand out, silently asking Collin to trust her once more. Reluctantly, he consented.

They flew once more. This time, the journey took quite a long time. She led him to a quiet, ancient-looking patch of land. A graveyard. Lyra pointed to a stone that was partly damaged. Engraved at the bottom part that still stood were numbers.

“1863 – 1874. T-this is your… grave?”

Lyra nodded, looking intensely for Collin, trying to assure him to believe her. Well, he did. That would explain things—why Lyra seemed so surprised when he talked to her, how they could fly, why no one paid any attention to them. No one even so much as glared at a dirty pair of children, though Collin’s been stared at a few times because of his looking sick.

“So we’re dead?”

“Aye.”

Silence draped over them for a few moments.

“That man ye tried to touch—the one drawin’ Big ol’ Ben back at the bridge,” Lyra started, “He’s yer ol’ pops?”

“I-I think so.”

“Ye think so?” Lyra said, stunned.

“I’ve never met him. If I did, I don’t remember.”

Collin told his story.

His father was never physically present in his life. He’d been raised by his mother in the countryside. They were poor and they only job that paid enough his father could find was in London. He had to work each day and couldn’t afford going back because it meant losing money. For the twelve years of his life, Collin and his father only communicated through letters. Sometimes, his father sent sketches he made. In his last letter, he told Collin he’d be spending a lot of his little free time at Westminster Bridge because he wanted to make a sketch of Big Ben.

Last year, both managed to save enough money to send each other pictures of themselves. A fortnight ago, Collin’s mother died, and he decided to look for his father. He wanted to tell him the news directly, and he had no one else to turn to. Trying to find his father in London by a photograph, using only the little money he had and all the food he could muster, Collin started on the journey of his life. A journey that, in the end, took it away.

“I had to hitch rides, you see,” Collin explained, “I didn’t want to waste my money because I might need it, or father might need it. Sometimes I didn’t eat. Sometimes I slept outside. I think that’s why I got sick. Why… why I’m dead,” Collin said before going silent.

“Ye poor child,” Lyra said in tears, her heart going out to him.

“It can’t be helped,” Collin said. He’s twice as mature as his age, Lyra thought.

“So ye’ll be keepin’ me company? We could fly anywhere we fancy, do anythin’ we want together,” she said, her eyes glistening at the thought. Collin’s eyes reflected agreement.

“Interesting offer. I’ll take it.”

* * *

In a corner of Trafalgar Square, dozens of people gathered round a screaming man hugging a cold, lifeless body.

“He’s gone mad.”

“Let him mourn.”

“Get yourself together, man!”

The man heard their voices but couldn’t make out the words. He held the body, weeping all the while. By chance he saw a little boy crouching there. A boy who reminded him of Collin. He had just finished his sketch of Big Ben and was heading back to work, but the boy looked so alone he felt compelled to do something for him. It was strange. It felt like the boy was his own.

As it turns out, the boy was his own.

*

*

*

Oke, sekarang saatnya… catatan (curhat tertulis) penulis! Jangan mengeluh dulu ya, hehe….

Ini random, sih, tapi hari ini bokap gue bilang, “Nanti kita nonton.” tapi dia bilangnya “nondon” buat ngelucu. Dan yang telinga gue tangkap adalah “London”…. *krik krik krik*

Gilaaa ini pencapaian banget! Akhirnya gue berhasil memasukkan tokoh yang ngomong dengan bahasa kuno, hohoho! *perut bergoyang ala Santa* Tapi seriusan, deh, agak susah bikin dialognya, padahal jadinya masih acak begini.

Makasih sangat untuk kalian para pembaca yang tahan membaca sampai bagian ini, juga para teman dan kenalan yang mendukung baik secara nyata atau doa. Maaf kalau ada yang merasa tersinggung dengan apapun di atas, atau bingung dan mikir “Ini makhluk nulis apaan, sih! Gajelas banget!” ya penulisnya aja gajelas, sih, jadi tulisannya… ya gitu, deh.

Sekedar tambahan dan lagi mau jayus aja: “Kenapa lo harus ke Inggris?” Bro, gue sampai bisa nulis kayak di atas gara-gara mau ke Inggris. Liat, kan, bedanya karangan gue dan gaya bahasa asli gue? Gue sendiri bingung kenapa bisa kontras gitu. *(sok) mikir keras* Mungkin kebanyakan nonton slam poetry. Yak, mungkin itu. Dan gue bahkan sampai mencari sejarah kamera dan telepon di Mbah Google. Hitung-hitung nambah pengetahuan, hehehe….

Gue harap kalian menikmati apa yang sudah gue ketik susah payah dalam kegelapan kamar gue di subuh hari. Seperti Collin, gue sampai sakit-sakitan demi sebuah tujuan. (Eaaa sok puitis, deh, gue. Padahal cuma sakit leher karena pegel kepala gue nunduk melulu.)

Oke, karena gue nggak mau membuat mata kalian minus atau semakin minus (dan karena gue nggak tau lagi mau ngetik apa), sekian. *nyengir gaje sambil bungkuk badan*

Lagi mikir... kayaknya plastik bungkusan Veetos ini boleh juga jadi bahan oplas. Hitung-hitung hemat. #dijitak
Lagi mikir… kayaknya plastik bungkusan boleh juga jadi bahan oplas. #dijitak

Akun sosmed buat cek sudah follow dan like apa belum:
Twitter: @anonsibe
Facebook: Shannon Sibe Chukcha

Karena Semua Ini

Halo. Hai. Kau disana? Kau sedang membaca? Bagus, bagus.

Kudengar kau bingung memikirkan segala macam alibi yang bisa kau gunakan sebagai alasan untuk pergi ke Inggris? Yah, aku di sini untuk membantu.

Sekarang, matikan musik. Posisikan dudukmu agar nyaman dan baca baik-baik. Sudah? Baiklah. Dan sebelumnya, tolong pahami, aku melakukan ini bukan untukmu, tetapi untuk diriku. Nanti akan kuberi tahu mengapa.

Kau harus pergi ke Inggris karena alasan-alasan yang kecil selayang pandang, namun sebenarnya juga memiliki nilai dan arti.

Kau berpikir bahwa kemungkinanmu menang kecil. Segenggam orang dari entah berapa ribu kontestan. Belum lagi yang membuat lusinan karangan. Bahkan hadiah hiburan pun rasanya begitu jauh dari jangkauan.

Dan memang benar. Tetapi, lihatlah; kau masih mau mencoba. Kau mau mengalahkan suara olok-olok di kepalamu yang menghina, mengatakan bahwa menghabiskan malam demi malam mengetik hingga mata kering hanya membuang waktu saja. Kau cukup berani untuk menghadapi ketakutanmu sendiri bahwa kau tak cukup baik untuk memenangkan sesuatu. Kau cukup berani untuk mengakui bahwa akan ada ribuan tulisan di luar sana yang lebih baik, namun kau tetap mengangkat pensil untuk menggurat di atas kertas dan mengetiknya, lalu mempublikasikannya bagi khalayak umum.

Kau cukup berani untuk membiarkanku bicara padamu, karena sesungguhnya jika kau memang begitu takut pada kekalahan dan ingin melenyapkan ilusi harapan, kau tidak sedang menunda mandi dan mendengarkan kata hati sekarang.

Kau cukup berani untuk memutuskan bahwa lebih baik menangisi kekalahan ketimbang bertanya-tanya akan seribu kemungkinan tentang apa yang bisa terjadi andaikan kau mencoba.

Kau rela meninggalkan les online-mu dan tidak mendapat sertifikat karena ingin fokus menulis walau dengan talenta yang tidak seberapa.

Aku tahu kau cukup percaya diri, namun tidak menyukai menjadi objek bidikan kamera. Terlebih mengambil foto diri sendiri. Lihatlah, kau memaksa membeli keripik kentang Mr Potato dan Veetos dan SMAX Ring walau kau sedang batuk. Lalu kau berpose dengan mereka, walau setengah hati, demi mendapatkan validasi akan tulisanmu.

Mengapa kau harus pergi ke Inggris?

Karena sudah beberapa hari ini kau begadang hingga jam dua, menulis dan mengetik. Mencari inspirasi dari aneka tulisan dan puisi. Karena kau tahu bahwa kreativitasmu ada dalam puncaknya saat tengah malam—saat semua tenang dan diam.

Kau yang suka mengoreksi tugas teman-teman namun enggan membaca ulang tulisan sendiri, namun mau menyunting tulisan-tulisanmu untuk lomba ini. Kau pikir itu bukan alasan? Itu adalah penanda usaha; sebuah “karena” untuk pertanyaan “mengapa”.

Dan kau sudah menepati janji temanmu bahwa kau akan berusaha. Pertama demi dia, lalu bagimu sendiri. Dan sekarang kau benar-benar menginginkan hadiah ini.

Itu alasan-alasan kecil yang terpikirkan olehku. Sekarang tarik nafas dalam-dalam. Aku belum selesai denganmu.

Mengapa kau harus ke Inggris?

Karena, astaga, kau sudah lama ingin ke Inggris. Entah pengaruh tren atau daya tarik luar negeri atau karena alasan lain yang tak kau pahami, Inggris memiliki pesonanya sendiri. Di matamu negara itu seperti berada dalam dunia lain. Di matamu negara itu terlihat magis. Dan kau ingin mencicipi sihirnya secara langsung.

Kau harus ke Inggris karena tempat-tempat yang ingin kau kunjungi di sana, dan karena segala yang akan kau alami pula. Perlukah kudaftarkan satu-persatu? Big Ben, Istana Buckingham, Museum Sherlock Holmes, London Eye… bahkan stadion sepak bola. Kau mungkin bukan penggila bola, namun kau sudah lama ingin tahu daya tarik sebuah stadion. Demi apa… kau bahkan belum pernah menginjak bandara! Maka kau harus pergi kali ini. Ditambah lagi kau bisa menyaksikan musim gugur. Itu juga salah satu impianmu, bukan? Nah, oleh karena itu, kau harus bersemangat!

Kau harus ke Inggris karena kau ingin bepergian. Dan kau sudah mulai berusaha dari sekarang. Walau dari hal kecil, namun ini sebuah permulaan. Bukankah kau percaya pada mukjizat dan keajaiban? Pesanku, berdoalah. Mungkin hal itu akan terjadi kali ini. Kita tidak pernah tahu, kan?

Tidak seperti yang ditulis banyak peserta, Inggris tidak menanti. Inggris berdiri angkuh karena ia tahu sedang diperjuangkan olehmu. Ia tidak perlu menunggu. Orang banyak akan datang padanya. Bahkan penduduknya sendiri tetap mengaguminya walau sudah tinggal di sana. Banyak pelancong sepertimu merasa mereka harus ke Inggris, walau sekali saja.

Dan memang kau harus ke sana. Jika kau tidak mencoba dan berhasil, baik melalui lomba ini atau kesempatan lain, kau akan menyesal. Sangat, sungguh, selalu menyesal. Kata seseorang yang lebih bijak dariku, pada akhirnya kau menyesali apa yang tidak pernah kau lakukan. Orang bijak itu benar. Dan apa kau ingin menambah “aku tidak pernah pergi ke Inggris” dalam daftar penyesalanmu? Kurasa tidak. Memang tidak. Maka kau harus ke sana.

Kau layak. Kau pantas. Apapun juga hasil yang kau terima, ketahuilah bahwa itu yang terbaik. Jika kau gagal kali ini, bersedihlah. Kau juga manusia. Namun jangan menyerah atau berpikir semua yang kau lakukan sia-sia. Sesungguhnya, cukup. Hanya saja, mungkin ada  orang-orang yang lebih memerlukannya darimu.

Mengapa kau harus ke Inggris?

Karena kau harus kesana untukku. Karena aku adalah kamu. Dan kau layak pergi ke negeri nun jauh di sana karena semua alasan yang sudah kuberitahukan di atas. Ya, semuanya. Dan lebih banyak alasan yang tak bisa kuungkapkan dalam kata-kata.

WP_20140530_18_27_43_Pro20140530183645[1]

Akun sosmed buat cek sudah follow dan like apa belum:
Twitter: @anonsibe
Facebook: Shannon Sibe Chukcha

Suatu Hari Nanti

Seluruh cerita ini fiksi. Semuanya… kecuali keinginan “aku” untuk pergi ke Inggris. Dan hobi gue yang melankolis ini untuk melamun. 😉

* * *

Aku dininabobokan oleh suara hujan,
rintik-rintik sedu.
Bagi orang lain membawa sendu,
tetapi bagiku menyenangkan.

Aku diam di atas tempat tidur, meresapi tenangnya hujan. Ingin rasanya membuka kedua daun jendela dan merasakan butir-butir air itu jatuh. Perlahan… perlahan… membasahi dan menyegarkan kulit. Menggoda sekali. Apalagi angin yang bertiup saat malam terasa begitu menyejukkan.

Hujan memang selalu membuatku merasa melankolis. Tetapi aku suka perasaan ini. Perasaan bahwa aku sedang memikirkan sesuatu. Saat aku melankolis, aku lebih memperhatikan sekitarku. Rasanya aku lebih hidup.

Seperti hari-hari lainnya, aku menulis dan membuat sketsa kasar di buku kecilku. Buku berwarna hitam polos dengan guratan spidol emas. Hanya guratan namaku sebagai tanda pemilik dan judul buku tersebut. Bisa kau bilang buku itu adalah buah bayanganku. Arsip aspirasi dan pikiran yang menghantui jika tak dituangkan dalam konstruksi abjad. Kebanyakan tentang suatu ambisi. Satu cita. Satu mimpi.

Ah, sudahlah. Kantuk yang sedari tadi mencoba bersemayam dalam kesadaran akhirnya menang. Yah, memang waktu sudah mendekati pergantian hari. Waktunya beristirahat.

Selamat malam.

* * *

Pagi yang berkabut tidak muram.
Malah ia membuat semuanya begitu magis,
dan kini aku berada di absis
terhadap garis realita,
karena ini tak terasa nyata.

London. Inggris. Sejak dahulu memang seperti ini. Bahkan entah berapa kali Sir Arthur Conan Doyle menyelipkan kabut yang terkenal ini ke dalam cerita-cerita Sherlock Holmes yang begitu kugemari. Yah, jika kau berkendara dan tiba-tiba turun kabut, terutama di jalur curam, memang akan terasa mengerikan. Tetapi bagiku, seorang penyendiri yang senang berfantasi, ini adalah tempat bernaung yang sempurna.

Hari ini kabut begitu tipis. Pas. Sempurna. Seperti berada di dunia dongeng. Hanya saja dunia ini terasa imajiner walau jelas-jelas aku bisa melihat siluet orang-orang berlalu-lalang. Membawa buku sketsa yang setia menemaniku berkelana, aku berjalan menuju London Eye. Memang sedikit jauh dari tempat tinggalku, tetapi sejak kecil aku memang kuat berjalan. Dan kuat makan. Hahaha….

Sejak kecil pula aku suka menggambar. Dan sudah lama aku ingin melakukan ini. Aku ingin berkeliling di Inggris—terutama London. Aku ingin merasakan suasana Museum Sherlock Holmes dan menggunakan London Underground. Semoga aku tidak tersesat. Tetapi, andai aku kehilangan arah—secara harafiah—aku tak keberatan, karena aku tahu aku akan menemukan dan ditemukan pengalaman yang pastinya berharga.

Aku ingin mengunjungi Big Ben, kehilangan kata-kata seraya mengeksplorasi Istana Buckingham, terpukau melihat karya-karya pahat di Trafalgar Square. Aku ingin duduk di Stasiun King’s Cross dan membayangkan aneka kesibukan yang pernah berlangsung di sana sebelum stasiun tersebut berhenti beroperasi.

Aku ingin merasakan budaya yang dikatakan begitu beraneka ragam, berpadu indah seperti buket bunga dan membaur seperti warna pelangi.  Aku sudah lama ingin mencoba English Breakfast dihidangkan langsung di Inggris. Aku ingin berkenalan dengan orang-orang baru dan menjalin pertemanan, mungkin persahabatan.

Tetapi, sebelum semua itu, aku ingin menaiki London Eye dan menggambar pemandangan dari atas sana. Apa saja yang mataku dapat tangkap dan teruskan ke kedua tanganku. Mungkin aku harus berputar di salah satu kapsul London Eye lebih dari satu kali. Tak apa. Akan kujalani dengan senang hati.

Ah! Itu dia! Bianglala impianku! Dengan hampir berlari aku cepat-cepat menghampirinya. Namun saat sudah dekat, ada seseorang yang tiba-tiba menghentikanku.

“Bangun! Ayo, cepat, bangun!”

Hah? Bangun?

* * *

Dan terkadang apa yang terasa begitu indah
memang bukan realita.
Sesungguhnya jalan menuju segala impian rumit,
namun aku takkan menyerah, walau itu sulit.
Suatu hari nanti, apa yang kukerjakan akan membawaku ke Inggris.
Lihat saja nanti.

“Hah?”

“Bangun, Nak!”

Ternyata aku tertidur. Semua tadi hanya mimpi. Ibuku dengan wajah lelah sedang berkacak pinggang di samping tempat tidur.

“Kamu itu, susah amat dibangunin!”

“Eh, iya, Bu. Maaf,” kataku, mencoba memperlihatkan rasa bersalah sebisa mungkin dengan kantuk yang masih menyelimuti. Ibu berdecak, tetapi sorot matanya menunjukkan pengertian.

“Yasudah. Ibu hanya mau bilang, nanti kamu jangan lupa membawa pisang goreng ke sekolah.”

“Oke, Bu. Aku… mau tidur lagi gapapa, ya?” kilahku, mengetahui matahari belum terlalu lama muncul dari ufuk timur. Bagaimana aku tahu? Dengan melihat jam, tentu saja. Ibu mengangguk dan menutup pintu kamarku.

Yah, beginilah realita. Sesungguhnya, keluargaku tidak miskin. Sama sekali tidak. Kami masih berkecukupan. Namun tidak berkelimpahan. Aku masih bisa memiliki smartphone walau bukan keluaran yang terbaru dan tercanggih. Masih bisa bersekolah dan membeli ini-itu sesekali walau tak bisa menjalani gaya hidup hedonis. Ibu suka menitipkan aneka makanan untuk dijual di kantin, dan hari ini ia membuat pisang goreng. Lumayan, hitung-hitung untuk menambah pemasukan. Memiliki persediaan uang lebih bukan hal yang buruk, kan?

Begitulah keadaan ekonomi keluargaku. Aku tak mungkin menyalahkan Ayah atau Ibu. Mereka begitu sayang padaku. Apa hakku menuntut lebih banyak dari mereka yang sudah saban hari berpeluh demi masa depanku?

Tetapi… boleh, kan, berandai? Aku ini pemimpi. Tetapi aku tak ingin menjadi sekedar pemimpi; aku ingin menjadi seseorang yang mau berjuang demi menggapai mimpi-mimpiku.

Salah satu mimpi itu adalah pergi ke Inggris. Tidak hari ini, atau besok, atau lusa. Bukan masalah. Aku tahu segala yang kuimpikan cukup berharga untuk ditunggu. Dan menunggu selagi aku berjuang hanya akan membuat saat aku menginjakkan kaki di Inggris nanti terasa makin berharga.

Ah, sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi. Melamun tak pernah membuatku mengantuk, malah menjadi semangat. Bisa jadi karena imajinasiku yang tinggi. Entahlah.

Kuputuskan mengeluarkan buku hitamku dan lanjut menggambar. Isi buku hitamku ini… kau mau tahu? Isinya adalah aneka sketsa dan tulisan tentang Inggris. Gambar terakhir adalah sketsa London Eye dengan satu kalimat di bawahnya.

Inggris—suatu hari nanti.

WP_20140528_18_22_09_Pro20140528182358[1]

Akun sosmed buat cek sudah follow dan like apa belum:
Twitter: @anonsibe

Facebook: Shannon Sibe Chukcha

“Kenapa?”

Astaga… apa yang telah gue lakukan?

Tampaknya, karena hasutan seorang teman dan keisengan membuat janji (yang gue tepati, tentunya, karena gue orang yang bisa dipercaya hohoho….) gue “terpaksa” mengikuti lomba ini. Yah, yang sudah terjadi, biarkanlah.

Oke, Shan, lo harus serius. Hmm… apa temanya? Mengapa gue harus pergi ke Inggris, kan? Sip. Mari kita mulai alur pikiran yang entah kemana arahnya ini.

Alasan pertama yang terpikir adalah… gue ingin berkelana. Itu saja. Sederhana, bukan? Tapi, masalahnya tak sesederhana itu. Mungkin ini akan menjadi saluran curhat gue, dan bukan untuk mengikuti lomba. Entahlah. Gue harus mengikuti kata hati gue dan menulis mengetik apa yang ada di hati. Hahaha….

Jadi, selama 17 tahun lebih gue hidup, gue belum pernah satu kali pun menginjakkan kaki di muka bumi selain 3 provinsi; DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Naik kapal? Kapal nelayan ke Pulau Seribu, ya. Bepergian naik kapal pesiar? Ha! Dalam mimpi. Gue bahkan belum pernah masuk bandara. Sejujurnya, hidup gue oke-oke saja. Gue nggak merasa terbebani untuk mengelilingi dunia atau mencicipi budaya lain secara langsung. Tapi… akan sangat menyenangkan kalau gue bisa pergi ke Inggris.

Apalagi jika karena usaha gue sendiri, tanpa harus membebani orang tua. Kasihan mereka, sudah harus menghidupi gue yang (kadang-kadang) banyak maunya dan bayar ini-itu.

Apalagi jika usaha itu hanya memerlukan gue mencurahkan isi hati. Gue bisa melampiaskan isi pikiran dan mendapat hadiah? Kenapa tidak, Bung?

Terlebih lagi, gue memiliki alasan untuk membeli Mr. Potato. Hal itu sangat menggiurkan dan sudah menjadi hadiah pasti untuk perut gue. Hahaha!

Haduh, haduh, gue mulai melantur. Serius, Shan, serius. Gue ingin ke Inggris. Negara ini memang salah satu tempat yang ingin gue kunjungi. Sekali saja. Gue ingin “menemukan diri” gue di negara lain. Gue ingin mengelilingi tempat yang asing. Meresapi atmosfer yang berbeda. Berkenalan dengan orang-orang baru. Menghirup udara yang baunya berbeda. Memabukkan diri dengan tempat-tempat luar biasa yang akan gue kunjungi.

Dari yang sekilas gue sempat baca, tur yang direncanakan meliputi  beberapa stadion. Mungkin ini akan mengurangi kesempatan gue menang, tetapi gue bukan fans sepak bola. Gue bisa saja menikmati suasana pertandingan, atau bahkan ikut terpana hanya dengan menginjakkan kaki di atas lapangan berumput rata yang dijaga sedemikian rupa. Tetapi, lagi, gue bukan penggila sepak bola.

Tempat-tempat yang gue senangi adalah yang memiliki kualitas yang bisa membuat gue ingin bernostalgia. Seperti museum-museum dan bangunan lama. Bukan yang angker, ya! Yang membuat lo serasa ingin duduk di lantai (atau bahkan selonjoran) dan mengagumi keindahan karya manusia.

“Museum Sherlock.” Nama itu yang pertama membuat gue tertarik dan terjebak (halah, alibi!) mengetik di laptop gue saat ini. Pas satu menit lewat tengah malam. Enggak, deh, gue memang sudah berencana memulai lanturan malam hari. Cuma, yah, gue gak nyangka akan masih mengetik selarut ini. Gue kira gue akan mengetik sekitar 100 – 200 kata lalu tidur dan melanjutkan post ini nanti-nanti. Setelah sesi-sesi penangguhan. Lalu baru benar-benar selesai tanggal 30 Mei.

Tetapi memang karena gue penggila Sherlock. Koleksi cerita Sherlock gue miliki lengkap, tersimpan manis berdesakkan bersama novel-novel lainnya dalam rak buku gue yang kian hari kian sempit. Oh, ya ampun, gue mulai melantur lagi.

Bagi para pembaca, dan para juri, maaf kalian harus membaca post yang (akan menjadi) panjang ini. Sepertinya teman gue memiliki pengaruh yang besar terhadap gue. Sekarang gue benar-benar ingin pergi kesana. Artinya post ini berpeluang besar menjadi semakin tidak jelas.

Oke, mari kita coba lagi dengan pendekatan berbeda.

“Jadi, Shannon, kenapa lo harus pergi ke Inggris?”

Sesungguhnya, kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan, sesungguhnya, gue sendiri belum tahu pasti alasan gue ingin ke Inggris. Memang gue ingin melihat London Eye, Istana Buckingham, Big Ben, dan lain-lain. Tetapi… terlebih dari “pergi ke Inggris”, yang lebih gue inginkan adalah sekedar “pergi”.

“Kenapa?”

Gue ingin melihat-lihat negara orang lain. Merasakan budaya. Gue ingin mencari suasana berbeda. Gue ingin pergi ke Inggris dan mencetak satu lembar kosong dalam hidup gue yang terputus dari buku kehidupan gue selama ini tetapi bisa menjadi dasar sebuah bab baru. Bab petualangan yang tak terlupakan.

“Kenapa?”

Gue sedang dalam tahap dimana hidup ini begitu monoton dan tak terlalu banyak yang bisa gue lakukan untuk membuat perubahan. Novel-novel gue terbengkalai. Seri film yang belum gue tonton kian hari kian menumpuk. Setiap hari gue yang sedang libur ini tidur siang kalau tak pergi dengan orang tua. Lalu tak bisa tidur di malam hari. Lalu mencoba menulis sesuatu. Lalu tertidur—akhirnya—sekitar jam dua subuh setelah melakukan hal-hal tidak penting seperti menongkrongi Twitter atau mengobrol gaje di tengah malam dengan LINE. Buat gue rutinitas ini tidak buruk. Cukup. Tetapi gue ingin yang lebih. Walau hanya untuk beberapa hari.

“Kenapa?”

Karena… gue bosan. Gue ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan ini adalah salah satu caranya. Gue tahu di luar sana ada banyak hal yang bisa gue pelajari. Banyak yang bisa gue lakukan. Dan mungkin gue melihat lomba ini sebagai suatu kesempatan.

“Kenapa?”

Karena ini adalah sesuatu yang bisa gue lakukan dengan kerja keras sendiri. Tak ada orang yang bisa menghalangi. Gue nggak mau menunggu sampai perubahan itu datang dari entah berantah dan bahkan tak pernah muncul. Sekali ini, biarlah gue setidaknya mencoba melakukan sesuatu yang berarti. Demi gue sendiri. Walau hanya untuk gue sendiri.

“Kenapa?”

Ka-re-na… entahlah. Mungkin hanya untuk pembuktian diri.

“Kenapa?”

Selama ini gue merasa tak banyak dalam hidup yang telah gue lakukan. Bukannya hidup gue polos dan gelap tanpa kenangan-kenangan bahagia. Hanya saja gue tahu gue bisa melakukan hal yang lebih. Bisa jadi gue ingin membuktikan bahwa menulis bisa menghasilkan sesuatu. Bisa jadi gue ingin membuktikan gue bisa menghasilkan tulisan yang bisa menghasilkan sesuatu.

“Kenapa?”

Gue takut. Sungguh takut. Gue nggak mau saat gue tua nanti—jika gue mendapat kesempatan menjadi setua apapun gue nanti—gue melihat ke belakang dan menemukan gue membuang begitu banyak hal. Segala kemungkinan yang gue tutup untuk diri gue, padahal yang hanya perlu gue lakukan adalah menggurat di atas kertas, memijit keyboard. Lalu hidup gue tersia-siakan. Syahdan, siapa yang bisa disalahkan—siapa kalau bukan gue sendiri?

“Kenapa?”

Karena gue bertanggung jawab atas hidup gue sendiri. Apa yang gue lakukan, apa yang gue pikirkan, apa yang gue usahakan. Sekarang gue memilih untuk mengusahakan curahan hati tak jelas ini, seabstrak apapun jadinya. Kecil sekali kesempatan gue untuk terpilih, ditambah lagi dengan betapa tak topikalnya runutan ini, tetapi tak apalah.

“Kenapa?”

Hmm… apa lo tahu? Gue mempublikasikan post ini tidak langsung, tetapi saat ini—saat gue menulis kata-kata ini—sudah jam dua subuh. Gue sudah menghabiskan hampir tiga jam mengetik lebih dari seribu kata untuk sebuah lomba yang pada awalnya gue anggap selingan waktu untuk iseng menulis sekaligus menyenangkan teman. Dan selain beberapa kesalahan ejaan yang gue benarkan, hasil yang sedang lo baca sekarang ini nyaris bebas suntingan.

Sudah lama gue nggak menulis sesuatu dengan benar-benar “mentah”. Biasanya masih ada buah pikir dibalik tulisan-tulisan gue. Setelah menahan segala emosi yang pada akhirnya tertumpah indah dalam pola alfabet yang membentuk untaian kata, gue benar-benar berterima kasih pada teman gue yang bernjanji akan membelikan Mr. Potato kalau gue menulis ini. Gue yakin dia juga akan membaca ini. Terima kasih. J

Apa lo tahu? Gue sudah menemukan alasan kenapa gue layak untuk pergi ke Inggris. Lebih dari itu—alasan kenapa gue harus mulai berani melakukan hal-hal baru. Alasan gue harus mengeksplorasi diri lebih dalam lagi. Dari segi talenta, kehidupan, atau sekedar mengenal diri dengan lebih baik.

Agar gue tidak menyesal tidak pernah melakukan semuanya. Agar gue bisa mengenang masa lalu dan berbangga. Mengatakan, “Hei, gue dulu pernah mengalami itu!”

Ada alternatif yang jauh lebih sederhana.

“Kenapa lo mau ke Inggris?”

“Mau aja. Kenapa tidak?”

Vincent van Gogh pasti tak menyangka lukisan-lukisannya akan menjadi begitu terkenal saat ia sudah tiada. Demikian gue tak menyangka gue bisa menghasilkan esai sentimental seperti ini. Sejujurnya, gue akan merasa puas hanya dengan post ini tanpa harus pergi ke Inggris.

Enggak, deh. Bohong banget. Itu hanya gue yang sok-sok tegar kalau-kalau post gue ini nggak terpilih, hahaha….

Kalau memang gue bisa ke Inggris (dan gratis!), kenapa nggak?

 

 

Jakarta, di atas kasur empuk, ditemani suara air kolam dan gemuruh AC yang menembus diam.

11.20-an malam sampai 02.17 subuh, 18 – 19 Mei 2014.

 WP_20140522_12_20_52_Pro

Maaf fotonya kurang niat. Saya bukan orang narsis, hahaha…. *dijitak seluruh peserta yang fotonya artistik dan niat abis*
Akun sosmed buat cek sudah follow dan like apa belum:
Twitter: @anonsibe
Facebook: Shannon Sibe Chukcha