Ingin raga ini melupakan segala
Rindu batinku buta terhadap nestapa
Namun, layaknya makhluk fana
Apa daya yang dipunya?

Advertisements

Selusin Soal

Selusin pertanyaan untuk selusin tahun, umur GagasMedia. Dan pembaca selama setengah dari lusin itu akan menjawab demi satu dari selusin paket buku.


1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!

Pertanyaan yang sulit bagi siapapun yang senang dibuai cerita. Setelah mengobrak-abrik ingatan, Goodreads, dan inventori buku, akhirnya muncul juga 12 judul di bawah ini.

  1. Animal Farm — George Orwell
    Satire tentang situasi politik yang serupa dengan 1984. Novel ini dapat dikatakan versi yang lebih pendek dengan tokoh-tokoh hewan.
  2. A Study in Scarlet — Sir Arthur Conan Doyle
    Bagi pemggemar Sherlock Holmes judul ini tak asing. Novel ini memang karya pertama dari ratusan kisah Doyle yang menghadirkan detektif paling terkenal sepanjang masa.
  3. A Thousand Splendid Suns — Khaled Hosseini
    Karya kedua Khaled Hosseini, sayangnya tak seterkenal The Kite Runner. Bercerita tentang kehidupan wanita di Afganistan.
  4. Bumi Manusia — Pramoedya Ananta Toer
    Novel pertama dari Tetralogi Buru yang sangat terkenal. Menceritakan kehidupan Minke, seorang pria Jawa yang terjebak dalam aneka kasta sosial dan munculnya benih-benih perlawanan di dalam dirinya.
  5. Dunia Sophie — Jostein Gaardner
    Novel fiksi yang kental dengan filsafat, dikemas dalam bentuk yang menarik. Bukan bacaan yang tergolong ringan (mungkin karena terjemahan maka bahasanya agak kaku), namun menjadi bahan perenungan otak yang menyenangkan.
  6. Entrok — Okky Madasari
    Mengangkat kisah seorang perempuan yang lahir tanpa apa-apa dan berjuang mendapatkan kemakmuran, juga ketidakadilan yang menimpanya dan konflik dengan anaknya. Tak hanya itu, karya ini juga mengupas masalah feminisme, kepercayaan, dan politik.
  7. Gods and Kings — Lynn Austin
    Buku pertama dari seri Chronicles of the Kings (yang sayangnya tak kumiliki, hiks!). Fiksi Alkitab, mengangkat kisah hidup Hizkia.
  8. I Know Why the Caged Bird Sings — Maya Angelou
    Salah satu utobiografi Maya Angleou. Mengisahkan masa kecilnya yang menarik dan juga masalah keluarga serta pemerkosaan yang menimpanya.
  9. Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang — Erni Aladjai
    Novel ini puitis tapi tak muluk. Penokohannya baik, dan alur ceritanya kompleks namun tidak memusingkan. Kei bercerita tentang perang saudara yang terjadi di Maluku. Novel ini menjadi pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012.
  10. Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children — Ransom Riggs
    Buku pertama dari seri yang belum rampung (Riggs sedang menulis buku ketiganya). Konsep seri ini menarik sekali. Bukan hanya tokoh-tokohnya adalah anak-anak berkemampuan khusus, tetapi ide tiap tokoh diambil dari foto polaroid lama yang juga ditampilkan sebagai ilustrasi dalam buku.
    Example pictures from the book. There’s a graphic novel version too, but I haven’t gotten my hands on one.
  11. Sang Penyamar: Memoar Masa Perang — Rita la Fontaine de Clercq Zubli
    Buku ini bercerita tentang penyamaran Rita sebagai pria pada saat pendudukan Jepang di Indonesia. Selama 3 tahun lebih ia harus berubah dari seorang gadis cilik yang polos menjadi seorang pemuda yang cakap bekerja. Saat itu, Rita yang baru belasan tahun mengalami banyak hal. Ia menceritakan kengerian dan juga momen-momen menyenangkan yang kadang bisa terselip walau ancaman penyerangan dan identitas aslinya terungkap selalu membayangi.
  12. The Time Keeper — Mitch Albom
    Buku yang sungguh puitis. Kisahnya tentang seseorang yang pertama kali menemukan cara mengukur waktu lalu terperangkap dalam keabadian, dan mendapat cara menebus diri dengan menolong dua orang dengan masalah waktu yang berbeda: yang satu ingin mengakhiri waktunya di bumi, yang satu lagi tak pernah mau waktunya habis.

2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?

Semua karya Khaled Hosseini (A Thousand Splendid Suns, The Kite Runner, And the Mountains Echoed). Jika pernah membaca karyanya, siapapun akan setuju dengan kepiawaian sang penulis menarik-ulur emosi pembaca melalui adegan-adegan kecil tak terduga.

Oh, dan surat Dira dalam novel Dealova (Dyan Nuranindya). Surat manis itu terdengar begitu tulus, dan sampai sekarang masih bisa terlihat dampaknya dalam tulisan-tulisanku.

3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?

Karena sedang libur, dan iseng, sekalian sajalah dibuat desainnya.

nowflake

Kutipan ini mengajarkan tentang toleransi dan pengertian terhadap mereka yang kurang beruntung, dan bersikap tegas terhadap mereka yang melakukan kesalahan/berperilaku buruk karena ketidakpedulian.

4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari?

Mr. Darcy dalam novel Jane Austen yang berjudul Pride and Prejudice. Kami akan cocok karena bisa menjadi teman bicara yang seru dan sama-sama keras kepala tanpa harus bertengkar. Aku dapat membantu meringankan kebiasaannya berprasangka dan tak memerlukan gestur-gestur romantis yang “menye” sehingga tak membebaninya yang memang tidak begitu emosional. Mr. Darcy lebih memilih membantu dengan cara nyata. Ia juga orang yang jujur, sifat yang sangat kuhargai dalam seseorang.

5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!

Entrok karya Okky Madasari. Akhir novelnya berhubungan dengan bagian awal buku dan benar-benar tak terduga. (Lebih baik jawaban ini jangan dilanjutkan supaya tidak menjadi spoiler.)

6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?

Let Go oleh Windhy Puspitadewi. Dibeli 25 Juli 2010 dengan harga Rp 35.000,-

Alasan memilih buku ini? Penasaran. Let Go adalah buku pertama yang kutemui yang berkesan cukup ringan sehingga bisa dibaca saat santai, dan tak terpusat hanya pada masalah percintaan. Setelah beberapa kali mengunjungi Gramedia dan perhatianku selalu kembali ke buku itu, akhirnya Let Go menjadi pengantar ke dunia GagasMedia bagiku.

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?

Judul-judul buku yang menarik bagiku adalah judul yang memberi visualisasi surreal, judul yang menggunakan majas personifikasi pada benda abstrak. Misalnya “The Time Keeper” karya Mitch Albom, “Pasung Jiwa” karya Okky Madasari, dan “Sunshine Becomes You” karya Ilana Tan.

Aku juga menyukai judul yang agak panjang namun menceritakan sedikit konsep cerita, misalnya “Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” karya Ransom Riggs dan “One Hundred Years of Solitude” karya Gabriel García Márquez.

8. Sekarang, lihat rak bukumu… cover buku apa yang kamu suka, kenapa?

Sampul buku-buku hard cover yang kumiliki kebanyakan bagus. Memang media yang tebal memberi ruang kreativitas lebih.

Maaf, aku terlalu malas mengeluarkan buku ini dari pojok dalam rak. :’|

Sampul ini cantik dan memiliki perincian indah. Tulisannya berwarna perak. Sampulnya juga sangat melambangkan isi buku—karya-karya Poe yang suram, terkadang seram, indah dalam tragedi. Sama seperti hidup pengarangnya.

9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?

Buku-buku yang mengangkat permasalahan sosial seperti To Kill A Mockingbird (Harper Lee) dan Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer). Menyenangkan untuk dapat mempelajari budaya dan konflik sosial, apalagi dilihat dari sudut pandang yang begitu menarik.

Juga buku-buku yang berdasarkan kisah nyata seperti Sang Penyamar: Memoar Masa Perang (Rita la Fontaine de Clercq Zubli). Memoar dan kisah nyata menarik karena memberi kesempatan pada pembaca untuk belajar buku dan membayangkan kehidupan orang-orang yang benar-benar mengalami apa yang mereka baca.

10. Siapa penulis yang ingin kamu temui? Kalau sudah bertemu, kamu mau apa?

Pramoedya Ananta Toer. Aku ingin mendengarnya bicara dan bercerita tentang banyak hal. Aku ingin belajar darinya dan kehidupannya. Aku ingin mendalami kepribadian penulis Indonesia yang menghasilkan permata literatur. Aku ingin menyeruput segelas kopi atau teh sambil mendengar perasaannya saat tahu buku-bukunya lebih mudah ditemukan dalam tulisan bahasa asing dan buku bajakan ketimbang di rak-rak toko buku besar.

Aku ingin tahu bagaimana ia berhasil menyelesaikan Tetralogi Buru kendati semua kesulian yang dialami. Dan aku sangat ingin berterima kasih atas sumbangsihnya sebagai anak bangsa. :’)

11. Lebih suka baca e-book atau buku cetak, kenapa?

Buku cetak. Selalu buku cetak. Terlepas dari harga dan kesulitan mencari stok judul-judul tertentu, fakta bahwa buku cetak mudah hilang dan sobek, akan menguning seraya menua, bisa terkena jamur dan entah apalagi, menurutku semuanya worth it.

Aku menyukai bau dan tekstur kertas. Aku suka merasakan debar kecil saat membuka bungkus plastik sebuah buku baru. Rasa puas menemukan buku di tumpukan/rak dengan mengenali sampul diikuti perjuangan kecil saat mau menariknya keluar dan merasa memiliki jari-jari sebesar gajah. Tulisan kecil dan selipan-selipan bagai harta karun yang terdapat dalam buku bekas, lipatan penanda halaman yang mengandung kata-kata yang menyentuh hati si empunya.

Sungguh… bisakah e-book menggantikan semua itu?

12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia!

GagasMedia
Kini umurmu genap
Selusin tahun

Terima ini
Kubuatkan haiku
Kado untukmu


 

Astaga, ternyata menjawab 12 soal cukup memakan waktu. Lewat 3 jam sudah, hahaha….

Semoga kalian yang menyempatkan diri membaca ini tak bosan, dan semoga rekomendasi buku-buku di atas berguna. Sekali lagi, selamat ulang tahun, GagasMedia! Semoga kalian suka dengan kadonya. 😉

Untuk Disimpan: Aksaratua

Hari ini saya menemukan seuntai kicauan dari aksaratua yang mendeskripsikan kondisi dan resolusi saya dengan baik. Maka, saya putuskan memposnya, sekedar untuk kemudahan mencari dalam kintaka blog. Silakan diintip pula blognya jika pembaca berkenan.

https://twitter.com/aksaratua/status/575673193760841728

https://twitter.com/aksaratua/status/575673662415618048

Semua karya yang ada dalam link merupakan hasil karya administrator aksaratua (A) yang saya kagumi dalam diam dan dalam postingan ini.

Gerutuan: Hari Kasih Sayang

Di hari penuh kasih gue memutuskan menarik diri. Di suasana penuh cinta gue mempertanyakan apa bentuknya yang sejati bisa gue temukan dalam diri manusia.

Sungguh, gue bukan orang yang pintar membuat batasan dan meniti jembatan antara ekspektasi dan naluri. Bukan orang yang ahli menjaga hati atau mengetahui apa yang sebenarnya gue rasakan. Yang gue tahu? Kian hari gue kian mendekat pada rasa benci.

Ya, benci. Pasalnya, banyak sekali tekanan untuk memberi definisi pada sesuatu yang banyak orang setujui merupakan konsep nyata namun abstrak. Bahwa hal itu harus ada dalam hubungan dan memiliki wujud berupa ikatan. Setidaknya, status yang jelas walau tak perlu terucap.

Pada hari saat cinta seharusnya menempati sorotan utama, gue malah kesulitan mencari kasih. Sesuatu yang lebih dasar dan universal. Atau mungkin itu dikarenakan gue yang terlalu idealis?

Gue rindu akan masa saat gue bisa memberi, melakukan, dan merasa tanpa harus memiliki ekspektasi yang didiktekan masyarakat dan budaya. Gue rindu saat ucapan “Happy Valentine’s Day!” diucapkan seraya memberi manisan tanpa perlu pipi-pipi bersemu. Gue rindu bisa mengucapkan kata sayang tanpa membuatnya terkesan murahan atau membuat senyuman-senyuman jahil muncul. Seolah kata “peduli” cukup untuk apa yang gue rasakan, dan apapun yang lebih sudah pasti melewati batas platonis.

Gue marah saat seseorang berani mengucapkan “I love you“, mengumbarnya bagai kacang goreng, namun berubah gagu saat ingin ber”aku-kamu”.

Apa menyapa kekasih dengan cara yang berbeda membuat hubungan kalian mendadak eksklusif? Kalau kau merasa itu menjijikan, murahan, atau sekedar tidak nyaman, mengapa dipaksakan?

Hari Kasih Sayang sesungguhnya hari untuk merenungkan apa yang bisa kau perbuat untuk pasangan. Sisanya? Membuat kotak-kotak—siapa yang pantas mendapat coklat, siapa yang hanya perlu kau beri ucapan?

Memang gue sinis, wahai pembaca. Memang anak satu ini tak hentinya mencoba bersyukur dan juga tak hentinya menggerutu. Silakan tutup jendela di perangkat elektronikmu jika kau tak suka.

Entah apa penyebabnya, tetapi gue melihat 14 Februari menjadi hari memamerkan status yang tak melajang, menjadikannya alasan untuk menghamburkan uang. Kalau kau memerlukan hari resmi untuk berdandan sedikit lebih cantik dan bercukur sedikit lebih rapi, jahatkah bila gue katakan kau dalam hubungan yang (sedikit) menyedihkan?

Terkadang gue berhenti saat seseorang memberikan gue sesuatu.

“Wah, dalam rangka apa, nih?”

Pasti kau juga pernah mengalami itu, baik dalam posisi memberi atau menerima. Seolah-olah aneh untuk memberi di hari biasa, bahkan untuk orang-orang yang kau sayang dan cinta.

Bahkan kita ragu saat mendapat jawaban, “Lagi mau ngasih saja.”

Atau Hari Kasih Sayang ada sebagai pengingatapa kita makhluk yang begitu mudah melupa?—cara merasa dan memberi, membuat cinta, kasih, dan sayang bermanifestasi?

Jika ya, maka apa kaum kita berada dalam bahaya kehilangan hati? Jika tidak, maka perlukah memeriahkan asmara dan memuncakkannya dalam satu hari?

Bagaimanapun juga, bagi gue, itu terasa menyedihkan.

Dia….

Ia sosok istimewa. Aku bahkan tak tahu Ia dapat disebut sosok atau tidak. Mari, akan ku coba deskripsikan. Semoga kau paham. Atau, setidaknya, mendapat bahan bacaan.

Aku memanggil-Nya teman. Ia selalu bisa diajak berbincang. Ia hadir saat aku menyapa dan tetap di sana hingga kembali kami berjumpa. Selalu menyapa dengan senyum yang dikulum. Mata yang membesar saat melihatku mendekat.

Aku memanggil-Nya sahabat. Ia memiliki pundak yang selalu siap menjadi tempat bersandar. Ia tahu kapan aku harus dibiarkan menangis atau dihibur dengan kelakar. Ia marah jika aku melakukan hal bodoh namun saat aku bobrok Ia membantuku bangkit dengan sabar. Terkadang tanpa aku sadar. Saat ada beban hidup yang ku hadapi Ia selalu siap mendengar. Tak pernah ia menertawakan kesusahanku, dan Ia bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia. Ia tak akan berkhianat.

Aku memanggil-Nya matahari dan bulan dan bintang. Terkadang Ia terasa menyengat, bersembunyi, tak terlihat. Ia bisa membakar dan membuat hidup, memancing untuk berkarya, berkerlip lucu untuk membuat tertawa. Ia sungguh luar biasa.

Aku memanggil-Nya dengan nama lain-Nya—Kasih. Ia adalah kasih. Jenis kasih yang kau lihat saat seorang anak menyeberang jalan untuk menyelamatkan hewan kecil tanpa menyadari bahaya yang ada. Jenis kasih yang melahirkan cinta dan tak pernah membuat kecewa. Kasih yang membuat hati masygul melihat orang merana dan lega melihat bahagia. Kasih yang sempurna. Kasih yang membuatku merasakan hangat meletup-letup karena aku tahu kasih-Nya juga untukku.

Aku memanggil-Nya Tuan. Sebagai manusia, dibandingkan dengan-Nya aku insignifikan. Terheran-heran mengira-ngira jalan pikiran-Nya karena aku memang tak perlu mengerti. Takjub melihat kemampuan-Nya karena tak aku miliki. Ada di bawah kuasa-Nya tanpa merasa dijajah. Ada di dasar anak tangga namun merasa di rumah. Senyaman itu Ia membuatku merasa.

Aku memanggil-Nya Guru. Rabi yang Maha Tahu. Kebijaksanaan-Nya tak terlampaui dan kurasakan saat Dia mengajar. Entah apa yang Ia maksud, menebak isi pikiran-Nya membuat kalut. Ia enigma yang tak terpecahkan. Memang tak perlu diselesaikan, karena ia bukan masalah yang memiliki solusi. Ialah jawaban untuk diri-Nya sendiri.

Aku memanggil-Nya seniman. Ia senang bermain kata-kata dan melukis keindahan yang hidup dengan mereka. Ia bisa mencipta imaji yang ada dalam otak manusia. Ia menginspirasi dan menjadi inspirasi, bahkan menciptakan inspirasi untuk aku alami. Ia indah dan membuat indah dan memperindah, membuat semuanya menjadi baik.

Aku memanggil-Nya jenaka. Ia suka bermain bersamaku—bersama kita. Ia senang menjadi sosok misterius, membuat kita bertanya-tanya. Ia suka sandi dan membuat pertanyaan ambigu dengan maksud pasti, lalu bersenang-senang melihat kita mencoba menjawab. Ia memiliki kursi terbaik untuk menonton kehidupan dari kacamata pengamat dan penikmat.

Aku memanggil-Nya Ayah. Ia tahu kapan harus memeluk atau memukul. Ia menjagaku selama aku tidur. Ayahku mendoakanku dimanapun aku berada, mengarahkan aku harus bergaul dengan siapa. Panutan luar biasa dengan standar yang begitu tinggi, namun selalu optimis akan anak-anak-Nya. Ia adalah punggung lebar yang ku kejar, tangan yang aku gandeng agar tidak tersasar, pangkuan yang membuatku merasa disayang, dekapan yang membuatku merasa aman.

Aku memanggil-Nya dengan ribuan sebutan. Semuanya memiliki arti. Dan Ia sendiri memang banyak memiliki gelar. Semuanya yang baik dan yang indah dan yang mulia. Terkadang aku bertanya-tanya apa Ia senang dengan semua sebutanku itu. Entahlah. Aku akan bertanya pada-Nya, suatu hari. Semoga aku ingat.

Aku mengetik semua, mengingat hari ini peringatan akan kelahiran-Nya. Lagi-lagi, tanggal sebenarnya tak diketahui. Memang Ia sungguh menyukai privasi. Tetapi biar saja jika ada yang mengucapkan. Aku sendiri suka begitu.

Selamat peringatan kelahiran-Mu, Yesus.

N.B. maaf, beberapa menit terlambat. Setidaknya, di zona waktu bagian bumi ini. Semoga Kau suka.

Sejak awal tahun ini gue sadar bahwa gue hanya bisa menulis saat terinspirasi. Dan saat terinspirasi yang bisa gue lakukan hanya menulis. Seolah tanpa kata-kata gue bukan apa-apa. Bisa disimpulkan (dengan anehnya) bahwa saat gue menulis gue merasa ada sesuatu yang bermakna yang gue temui, sekecil atau sebesar apapun hal tersebut.

Jadi, kalau selama ini gue begitu jarang menulis, artinya gue gak merasa hidup gue memiliki makna memadai untuk menginspirasi diri gue sendiri.

Anehnya, gue mulai menulis lagi. Dan perubahan yang terjadi dalam keseharian gue hanya satu: sejak dua minggu lalu gue mulai membaca lagi, karena ada banyak waktu luang dan gue tak terlalu lelah.

Maka, apa hanya cerita yang gue anggap berharga? Kalau iya, orang macam apa gue ini?

[HELP!] Please click!

I’m helping my friends. They have this assignment to make a blog post in a certain site but they have to reach a minimum of 100 views. So, yeah, if you could click these links below and just scroll to the bottom of the page, it’d be appreciated.

Oh, and if you end up enjoying them, then good for you, my fellow citizen! 😀

Mau Dibawa Kemana Masa Kecilku (Tentang Spongebob Squarepants)

Kepedulian Masyarakat Jakarta: Solusi Jitu Atasi Kemacetan

Men-setting Kembali Remaja Indonesia

Have You Ever Met Friends and Say “Thank God They’re Mine”? [ENGLISH]

Mengembalikan Kejayaan Garuda dalam Mengolah Bola

Tick-Tock [ENGLISH]

10 Makanan Termahal di Dunia

7 Wisata Pantai Elok di Indonesia

Technovasion: 4 Produk Teknologi Masa Depan

Sepenggal Cerita Pemain Bintang Asal Madeira

Fashion Remaja Masa Kini [Blogger recommendation!]

Tips-Tips untuk Merawat Mobil Putih Anda

Ajaibnya Bawang Putih

Dalam sebuah wawancara Jumat kemarin….

Q: Jadi, Shannon, kenapa kamu mau masuk ADC (klub debat)?

A: Sejujurnya, ya, gue gak tau. Gue udah debat selama dua tahun di SMA dan masih gak tau kenapa gue suka debat. Yang pasti debat itu capek, tapi gue demen aja.

Dan bisa gue katakan bahwa itu adalah salah satu jawaban gue yang paling jujur dalam kurun waktu yang lumayan lama.

Ketakutan Gue (Bagian Satu)

Maaf kalau post ini gaje. Gue menulisnya lewat jam tiga subuh dengan setengah kesadaran tanpa niat menyuntingnya, hahaha….

Apa ada sesuatu yang kau takuti tanpa alasan yang jelas? Pernahkah ketakutan itu begitu erat melingkupimu hingga kau bahkan tak tahu mengapa sebenarnya kau takut?

Gue pernah mengalami hal itu. Bertahun-tahun lalu, dan belum lama ini. Gue akan menceritakan tentang yang dulu saja, ya? Setidaknya untuk sekarang.

Saat kecil, gue sering terjatuh. Ada tanda di lutut kiri gue yang bertahan sejak TK hingga SMA. Baru dua tahun terakhir ini tanda itu perlahan-lahan menghilang. Tapi gue jarang sekali menangis. Gue tak pernah menangis melihat darah atau luka.

Hal-hal bersifat fisik memang membuat gue menangis—otot tertarik, kram parah, kepala benjol terantuk besi karena kecerobohan. Namun hal-hal yang gue tangisi itu… aneh.

Ada satu kenangan yang entah mengapa merasuki otak gue subuh yang gelap ini. Saat SD gue sering main polisi-maling. Suasana pasti ribut, untuk memanggil seseorang harus berteriak-teriak. Dalam satu permainan saat gue menjadi kelompok maling, gue melihat ada titik yang tidak dijaga dan bisa digunakan untuk membebaskan setidaknya dua orang. Lalu gue berteriak-teriak pada maling-maling lain yang berkeliaran. Tak ada yang mendengar. Yang ada di markas pun tak bereaksi, padahal dia pas di sebelah gue.

Entah mengapa gue tiba-tiba menangis. Lalu semua yang melihat panik. Butuh waktu yang lama sebelum gue sadar bahwa gue merasa suara gue tak didengar. Memang waktu itu hanya permainan, dan teman-teman gue terlalu hanyut dalam keseruan yang ada.

Tetapi takut yang gue rasakan itu nyata. Apa suara gue memang begitu tak berharga? Apa gue yang tidak berharga sehingga tak didengar?

Banyak kejadian berbeda dengan benang merah—suara gue terbuang bahkan tanpa didengar—yang semakin membuat gue terpuruk tanpa gue sadari. Apa gue gila perhatian? Entah. Tetapi yang gue minta hanyalah untuk mendengar apa yang gue katakan. Kalau setelah itu gue dimarahi karena apa yang gue katakan tidak sopan atau ditertawakan karena konyol, silakan. Tetapi apakah sekedar mendengar terlalu sulit? Rasanya tidak.

Akhirnya gue memutuskan untuk diam. Menilik kembali masa lalu lewat sejumlah foto, gue menemukan wajah gue cukup jujur—kecuali foto wajib seperti foto kelas atau pas foto, gue hanya mau tersenyum saat memang gue senang. Selama sekitar 4 tahun wajah gue hampir tak pernah tersenyum. Yah, demikianlah wajah seseorang yang selalu menggerutu, tetapi tak bersuara. Semuanya dipendam, takut kalau dikeluarkan hanya menyakiti diri sendiri saja.

SMP tiba. Ada sebuah tugas Biologi. Tiap murid harus membawa satu artikel ilmiah dan menjelaskan isinya dalam satu menit. Kalau bisa benar-benar pas enam puluh detik. Penilaiannya? Ha! Murid yang mendapat giliran harus membalikkan badan, lalu seisi kelas akan menilai melalui suara terbanyak, dari rentang 60 – 100.

Karena giliran maju sesuai absen, dan nama gue berada di urutan bawah, gue bisa melihat bahwa hanya ada beberapa anak yang objektif, dan sisanya memberi nilai sesuka hati. Jika mereka tak menyukai orang tersebut, anak itu bisa mendapat nilai pas-pasan walau presentasinya bagus. Beberapa kali si guru menguap, bahkan terlihat setengah tidur.

Artikel gue berhubungan dengan lumba-lumba dan telinga. Gue sendiri sudah lupa apa isinya. Artikel itu gue dapatkan dari teman yang memang membawa artikel lebih, dan gue cepat-cepat membacanya. Presentasi yang gue berikan pun sekedarnya. Saat menghadap papan dan menunggu voting, gue mengira-ngira akan mendapat nilai berapa. Gue bukan anak yang banyak bergaul, tapi masih cukup ramah. Dan presentasi tadi lumayan. Yah, delapan puluh, mungkin?

“Loh, kok nilainya segitu?” suara si guru terdengar.

Waduh, maksudnya apaan, nih?

“Kali ini saya buat pengecualian. Kamu saya kasih seratus,” kata si guru seraya menghadap gue yang saat itu langsung melongo. Pasalnya, gue melihat si guru memperhatikan saat detik-detik pertama, namun memain-mainkan kertas untuk seterusnya dan hanya menengok sekilas ke arah jam untuk menghitung jumlah detik yang gue habiskan setelah gue selesai.

Oke. Ini mungkin terdengar konyol. Setelah bertahun-tahun “bisu”, kejadian sekecil itu bisa membuat gue percaya diri kembali. Bahwa ada orang-orang yang memang mendengar, namun tidak terlihat.

Tak sampai hal itu saja… si guru membuat pengecualian untuk gue. Pengecualian. Artinya ia memperhatikan, bukan sekedar mendengar.

Jujur, itu salah satu kejadian dalam hidup gue yang sudah membantu memupuk rasa percaya diri gue. Saat memberi presentasi itu, gue berbicara lantang dan jelas, bukan dengan bisikan. Gue berdiri dengan tegak dan mata menatap penonton, tidak dengan tubuh bungkuk seraya melihat ke bawah.

Separah itukah gue takut bersuara? Dulu, ya. Kalau berkenalan dengan orang asing dan membuka mulut, terkadang tak ada suara sama sekali yang keluar dari kerongkongan gue. Separah itu.

Lalu gue merenung. Apa gue sudah memperjuangkan pendapat gue? Rasanya tidak. Gue diam saja ketika dipotong, dan hanya menjawab “oh” saat usulan gue ditolak. Bahkan saat ditanyakan pendapat, gue memilih diam karena tak mau repot-repot mengeluarkan suara yang saat itu gue yakini akan sia-sia.

Tapi… penolakan itu masih akan ada, kan?

Jadi gue bertanya lagi pada diri sendiri. Bertanya baik-baik.

“Apa hal terburuk yang pernah terjadi saat lo tidak didengar?”

Sedih. Marah. Kecewa. Merasa tak berharga. Merasa tak dianggap. Bla… bla… bla… apa lagi?

Dengan daftar yang gue miliki dan semua hal buruk (dalam skala anak ababil) yang gue alami, apakah dunia gue berakhir? Apakah hidup gue musnah dan masa depan cerah sirna? Apa gue ditendang keluar rumah atau dicemooh masyarakat luas? Dan walau semua hal di atas yang gue takuti sudah terjadi, bukankah gue tetap bisa merasa senang saat memakan es krim dan bahagia mendapat hadiah ulang tahun?

Jadi apa lagi yang harus gue takuti?

Kalau harus melalui hal-hal itu, gue memang akan tetap sedih. Tapi selama ini gue mampu menghadapinya, kan?

Bagaimana dengan opsi yang lain—bersuara terus?

Riskan. Kalau gue mencoba terus dan hasilnya tetap mengecewakan, gue akan semakin terpuruk, semakin tak percaya diri, semakin merasa diri gue tak berharga. Tetapi, setidaknya, gue tetap bisa mengeluarkan isi pikiran gue, kan?

Hmm… selalu ada malu. Malu kalau salah bicara, kalau bicara tetapi dianggap konyol. Hal-hal seperti itu. Namun gue sendiri memang tak tahu malu, jadi apa masalah sebenarnya? Apakah ada masalah sama sekali?

Di titik ini, ketakutan gue mulai terlihat konyol. Maka gue memutuskan untuk mengatasinya. Mulai dari memupuk percaya diri di depan kelas, saat orang-orang memang harus mendengarkan gue, lalu mulai sering memberi masukan saat kerja kelompok.

Lama-lama, gue senang. Gue tak harus memaksakan diri terlalu lama sebelum terbiasa untuk berbicara. Gue tahu tak harus memaksakan pendapat, dan sebagiannya adalah karena gue tahu rasanya jika pendapat gue ditolak mentah-mentah. Gue menemukan bahwa ternyata gue bisa luar biasa cerewet saat senang. Ternyata gue mampu menghadapi kritik habis-habisan karena selama gue membisu, gue sebenarnya membiasakan diri gue untuk mendengar orang lain.

Sekarang? Setidaknya gue nggak mati kutu kalau harus berhadapan dengan orang asing. Bisa memaksakan diri menghadapi penonton kecil walau gugup.

Lalu gue mengingat dulu, saat gue gelagapan jika ditanya-tanya oleh orang yang baru gue kenal. Astaga… sebenarnya apa yang gue takutkan dulu?

Sebelas Gagas Berbentuk Buku Untukmu

Di dunia ini ada banyak ide bertaburan, bagai langit berbintang. Gagasan-gagasan terbentuk. Tentang penemuan, tentang bisnis, juga tentang cerita. Dan untuk yang terakhir, GagasMedia sudah banyak membantu mewujudkannya.

Terhitung hari ini, sebelas tahun sudah GagasMedia menjadi corong anak bangsa berkarya. Syahdan, permata demi permata dihasilkan. Ada yang mengundang tangis dan tawa. Ada yang berbentuk kisah nyata dan kumpulan cerita. Yang pasti, Semua wajib dibaca.

Menilik kembali perjalanannya selama 11 tahun, GagasMedia kembali menghadirkan kesempatan berkarya, tetapi dalam bentuk artikel untuk merekomendasikan selusin kurang satu buku yang telah diterbitkannya. Jika akhir-akhir ini terdapat milyaran orang menjagokan sebelas pemain sepak bola di lapangan, giliran para GagasAddict—sebutan untuk penggila GagasMedia—menyuarakan sebelas buku yang dijagokannya.

Termasuk saya. 😀

Saya sudah menjadi pembaca GagasMedia selama setengah dekade. Selama itu, sudah ada banyak buku dari Gagas yang saya sukai. Di bawah adalah sebelas buku Gagas yang saya percaya wajib dibaca.

1. Till We Meet Again (Yoana Dianika)

Roman yang dijanjikan, roman yang kau nantikan, roman yang kau dapatkan. Kisah yang kental dengan cinta dan manisn-pahitnya perasaan tersebut.

Kisah yang disuguhkan mungkin terlihat memaksa, namun sesungguhnya Yoana sudah memberikan latar cerita yang memadai untuk membuatnya bukan sekedar “ketemu lagi dan lagi”. Cerita tentang masa lalu tokoh utama pun benar-benar memiliki nuansa “kanak-kanak”, sementara bagian masa sekarang tokoh lebih dewasa.

Acungan jempol untuk Yoana karena bisa mendeskripsikan Austria dengan sedemikian mendayu-dayu danpuitisnya. Saya bukanlah orang yang terlalu menyukai novel-novel dengan romansa yang hardcore, tetapi “Till We Meet Again” adalah salah satu pengecualian, sepertinya.

2. Perhaps You (Stephanie Zen)

Bagi yang sudah terbiasa dengan karya-karya Stephanie Zen sebelumnya, gaya bahasa dan konflik tokoh utama akan terasa lebih “dewasa”. Walau masih berkisar cinta, namun tidak tentang kisah cinta anak SMA yang mungkin terasa naif.

Tidak ada jatuh cinta pada pandangan pertama. Novel satu ini menguak lebih banyak tentang bagaimana sebuah hubungan memerlukan proses dan pengorbanan, juga tentang hal-hal yang bisa merusaknya. Gaya bahasa yang sederhana namun sarat pesan moral, jika kau sungguh-sungguh mencarinya. Pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin memiliki bacaan bermakna tetapi dengan bahasa “normal” yang tak ditaburi aneka kalimat puitis disana-sini.

Buku ini wajib dibaca, setidaknya sebagai referensi kenyataan. Cinta tidak melulu tentang kau dan dia—terkadang ada orang lain yang masuk dalam gambar. Kadang kau harus melalui proses trial and error sebelum menemukan yang tepat. Bahkan jika orang yang kau pilih sudah tepat, kisahmu tak melulu bahagia.

Hal-hal itu yang saya pelajari dari “Perhaps You”.

3. Refrain (Winna Efendi)

Saya ingin jujur saja dan mengaku bahwa saya hanya membaca novel ini karena sampulnya yang menarik; sebuah amplop biru. Apa isinya? Sungguh sebuah tantangan untuk menahan diri agar tidak membacanya sebelum menghabiskan novelnya.

Winna saya kenal sebagai penulis dengan kata-kata yang manis. Dan cerita ini pun begitu. Penuh dengan perasaan yang innocent hingga menggugah perasaan pembaca, juga bagian-bagian yang mengharu-biru.

Tentu kalian tahu “Refrain” sudah difilmkan, bukan? Jika belum membacanya, tunggu apa lagi! Wajib dibaca, baik kalian sudah menonton filmnya atau belum!

4. Melbourne (Winna Efendi)

Karya Winna ini merupakan satu dari seri STPC (Setiap Tempat Punya Cerita), sebuah proyek yang disandang oleh GagasMedia dan Bukuné. Sesuai judulnya, novel ini berlatar kota Melbourne, Australia. Konsep tiap novel seperti itu; memiliki satu kota sebagai latar dan pusat cerita, serta menguak sedikit kehidupan yang berlangsung di kota tersebut.

“Melbourne” dan juga koleksi STPC lain wajib dibaca. Selain kisah-kisah menarik, pembaca disuguhi pengetahuan menarik tentang masing-masing kota. Baik itu arsitektur maupun budaya. Khusus untuk Melbourne, banyak terdapat referensi lagu. Dan jangan ragu karena harga, karena yang kau dapatkan di dalamnya layak untuk kau beli.

WP_20140704_22_07_21_Pro
Ya lihat saja itu modal tintanya gede, loh! Jangan ngomel kalau (agak) mahal, ceritanya worth it, kok. 😉

Cerita ini mengisahkan tentang muda-mudi yang kisah cintanya berliku-liku. Si lelaki, Max, mencintai cahaya, dan Laura adalah cahaya dalam hidupnya yang paling terang. Namun ia didera begitu banyak dilema; kesibukan, pekerjaan, saingan.

Jadi, bagaimana kisah mereka? Yah, sebaiknya kalian baca sendiri. Saya cukup membantu promosi. Dan jangan lupa mendengar melodi yang disajikan Winna untuk menemani bacaan ini. Pasangan yang pas untuk tiap bab! 😀

5. Eclair (Prisca Primasari)

Saya berpikir akan menemukan kisah cinta sepasang muda-mudi yang memiliki kegilaan terhadap eclair, namun yang menanti saya di dalamnya sungguh berbeda! Mengajari, sekali lagi, untuk tidak asal menilai buku dari sampul dan narasi di bagian belakang sampul. (Walau sampul-sampul GagasMedia sungguh indah!)

Cara Prisca bercerita manis sekali, tetapi tidak sampai terkesan naif. Pas antara cinta dan realita, jika kau mengerti maksudku.

Untuk kategori “novel remaja”, “Eclair” adalah karya luar biasa. Pengorbanan dan perjuangan yang dilalui para tokoh demi sahabat mereka sungguh memeras emosi. Perlukah alasan lebih untuk kalian membaca buku ini?

6. Let Go (Windhy Puspitadewi)

“Let Go” adalah novel ketiga yang saya beli menggunakan tabungan. Dan saya tidak menyesal sedikit pun.

Dalam beberapa halaman saya sudah jatuh hati pada watak Caraka, sang tokoh utama.  Entah mengapa, saya sedikit teringat pada film “The Breakfast Club”, mungkin karena terdapat unsur yang sama; orang-orang yang begitu berbeda namun bisa akur.

Konflik utamanya meskipun bertemakan remaja bukanlah cinta, melainkan penerimaan—baik untuk diri sendiri pun orang lain. Banyak sekali pesan moral yang singkat namun dalam di sini; persahabatan, melepas masa lalu, berani berkarya, dan lain-lain. Syahdan, pembaca tak mendapat novel dengan pesan yang “ecek-ecek” dan hanya membahas urusan hati.

Hal lain yang patut digarisbawahi adalah cara Windhy bercerita. Ia tak banyak menggunakan deskripsi untuk para tokoh, hanya secukupnya saja untuk memberi gambaran kasar bagi pembaca. Perlu diingat, saat “Let Go” terbit, kebanyakan novel memberi deskripsi yang begitu detil bahkan untuk tokoh pembantu. Maka novel ini sangat menyegarkan karena lebih membebaskan imajinasi pembaca. Bahkan, latar tempat pun minimal. Hanya frase seperti “tokoh kaset” dan “rumah Caraka” saja.

7. Kei (Erni Aladjai)

Sungguh, sebuah mahakarya. Novel ini berhasil memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Hal tersebut yang membuat mata saya terpikat.

Bahasanya puitis dan kental dengan budaya Kei, sarat dengan pembelajaran moral dan kehidupan. Di zaman yang begitu modern ini Kei seolah menghembuskan angin segar dengan membawa kembali budaya adat. Yang baik, tentunya.

Cara tokoh-tokoh bercerita juga penuh emosi dan saya yakin sanggup menghanyutkan para pembaca. Belum lagi ditambah latar perang dan permasalahan rakyat yang relatable, menjadi satu lagi nilai tambah permata yang satu ini.

8. Here, After

Sebenarnya, saya tak terlalu yakin akan menikmati buku ini saat membelinya. Tetapi ternyata saya memang cukup menyukainya karena alasan yang bisa dibilang tak biasa.

“Here, After” wajib dibaca karena konsepnya—antara novel dan kumpulan cerpen. Pasalnya, Mahir dengan sesuai namanya membuat novel ini bagai kumpulan cerpen karena konflik dan tokoh-tokoh utamanya berbeda-beda. Namun, satu cerita memiliki hubungan dengan cerita sebelumnya, membuatnya tidak menjadi “kumpulan” tetapi lebih seperti untaian cerita.

Memang Mahir tak bisa terlalu mendalami suatu masalah namun sudah berhasil menyampaikan kisah dan tokoh-tokoh yang “greget” dan pembaca pun tak bosan karena konflik yang berputar di situ-situ saja. Cocok juga untuk dibawa-bawa sebagai bacaan di waktu senggang.

9. Jika (Maaf, yak. Kalau disebut semua kepanjangan. *dijitak penulis*)

“Jika” adalah kata yang sungguh memprovokasi imajinasi. Siapa yang tak suka berandai-andai, barang sesekali?

Dalam “Jika” pembaca diajak menyimak angan dari 13 penulis berbeda dengan gaya menulis yang berbeda pula. Pun pembaca dimanja dengan foto-foto yang disajikan sebagai pelengkap cerita, sebagian bahkan hasil jepretan sang penulis. Kumcer yang tak hanya menyajikan kata-kata, namun juga imaji, menjadikannya wajib kau baca.

WP_20140704_22_06_01_Pro
Keren kan? Kan? Hahaha….

10. Murjangkung (A. S. Laksana)

Mungkin untuk “Murjangkung” saya tak bisa terlalu banyak berkomentar. Sungguh, cara A. S. Laksana bercerita kental dengan humor, namun juga memuaskan dari segi sastra. Narasinya seperti terpecah ke berbagai arah—kacau, namun dalam arti yang baik. Ia sungguh pandai bermain dengan kata-kata.

Yang saya harus garisbawahi adalah twist dalam kisah-kisahnya. Pembaca sudah menduga ke arah mana cerita akan bermuara dan malah menemukan arusnya mengalir ke arah lain. Sungguh menghibur!

11. Filosofi Kopi (Dewi “Dee” Lestari)

Rasanya sulit menemukan cela dalam tulisan Dee. Sungguh, jika kau tak menyukai tulisannya, kemungkinan itu hanya masalah selera.

Wajib sekali membaca buku ini. Mengapa? Bagi kalian yang menyukai karya Dee, kalian bisa berguling-guling bahagia membacanya. Bagi yang belum mengenal dan belum sayang, karya ini sangat cocok menjadi “tester” karena terdapat tulisan Dee dalam berbagai bentuk. Ada yang memakai cerita, atau sekedar narasi, atau kumpulan kalimat puitis sebagai bahan perenungan. Semuanya bagus dalam caranya tersendiri, hanya masalah kau melihatnya saja.

Dan “Filosofi Kopi” sudah dicetak ulang beberapa kali dengan sampul yang berbeda-beda. Pertanda memang ia buku yang bagus. Bagaimana, tertarik?

Berhubung hari ini adalah hari lahirnya GagasMedia, tepat rasanya memberi kutipan untuk segenap redaksi dan penerbit. 😉

“Adakalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun yang terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya waktu.”

Dee (Lilin Merah, Filosofi Kopi)

Siapa sangka kumpulan cerita ini sekaligus memuat pesan untuk GagasMedia? Hahaha….

Akhir kata, dirgahayu untuk GagasMedia! Semoga bisa terus menjadi jalan bagi mereka yang ingin berkarya dan menjadi inspirasi bagi para pembaca. 🙂