Gerutuan: Hari Kasih Sayang

Di hari penuh kasih gue memutuskan menarik diri. Di suasana penuh cinta gue mempertanyakan apa bentuknya yang sejati bisa gue temukan dalam diri manusia.

Sungguh, gue bukan orang yang pintar membuat batasan dan meniti jembatan antara ekspektasi dan naluri. Bukan orang yang ahli menjaga hati atau mengetahui apa yang sebenarnya gue rasakan. Yang gue tahu? Kian hari gue kian mendekat pada rasa benci.

Ya, benci. Pasalnya, banyak sekali tekanan untuk memberi definisi pada sesuatu yang banyak orang setujui merupakan konsep nyata namun abstrak. Bahwa hal itu harus ada dalam hubungan dan memiliki wujud berupa ikatan. Setidaknya, status yang jelas walau tak perlu terucap.

Pada hari saat cinta seharusnya menempati sorotan utama, gue malah kesulitan mencari kasih. Sesuatu yang lebih dasar dan universal. Atau mungkin itu dikarenakan gue yang terlalu idealis?

Gue rindu akan masa saat gue bisa memberi, melakukan, dan merasa tanpa harus memiliki ekspektasi yang didiktekan masyarakat dan budaya. Gue rindu saat ucapan “Happy Valentine’s Day!” diucapkan seraya memberi manisan tanpa perlu pipi-pipi bersemu. Gue rindu bisa mengucapkan kata sayang tanpa membuatnya terkesan murahan atau membuat senyuman-senyuman jahil muncul. Seolah kata “peduli” cukup untuk apa yang gue rasakan, dan apapun yang lebih sudah pasti melewati batas platonis.

Gue marah saat seseorang berani mengucapkan “I love you“, mengumbarnya bagai kacang goreng, namun berubah gagu saat ingin ber”aku-kamu”.

Apa menyapa kekasih dengan cara yang berbeda membuat hubungan kalian mendadak eksklusif? Kalau kau merasa itu menjijikan, murahan, atau sekedar tidak nyaman, mengapa dipaksakan?

Hari Kasih Sayang sesungguhnya hari untuk merenungkan apa yang bisa kau perbuat untuk pasangan. Sisanya? Membuat kotak-kotak—siapa yang pantas mendapat coklat, siapa yang hanya perlu kau beri ucapan?

Memang gue sinis, wahai pembaca. Memang anak satu ini tak hentinya mencoba bersyukur dan juga tak hentinya menggerutu. Silakan tutup jendela di perangkat elektronikmu jika kau tak suka.

Entah apa penyebabnya, tetapi gue melihat 14 Februari menjadi hari memamerkan status yang tak melajang, menjadikannya alasan untuk menghamburkan uang. Kalau kau memerlukan hari resmi untuk berdandan sedikit lebih cantik dan bercukur sedikit lebih rapi, jahatkah bila gue katakan kau dalam hubungan yang (sedikit) menyedihkan?

Terkadang gue berhenti saat seseorang memberikan gue sesuatu.

“Wah, dalam rangka apa, nih?”

Pasti kau juga pernah mengalami itu, baik dalam posisi memberi atau menerima. Seolah-olah aneh untuk memberi di hari biasa, bahkan untuk orang-orang yang kau sayang dan cinta.

Bahkan kita ragu saat mendapat jawaban, “Lagi mau ngasih saja.”

Atau Hari Kasih Sayang ada sebagai pengingatapa kita makhluk yang begitu mudah melupa?—cara merasa dan memberi, membuat cinta, kasih, dan sayang bermanifestasi?

Jika ya, maka apa kaum kita berada dalam bahaya kehilangan hati? Jika tidak, maka perlukah memeriahkan asmara dan memuncakkannya dalam satu hari?

Bagaimanapun juga, bagi gue, itu terasa menyedihkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s