Ketakutan Gue (Bagian Satu)

Maaf kalau post ini gaje. Gue menulisnya lewat jam tiga subuh dengan setengah kesadaran tanpa niat menyuntingnya, hahaha….

Apa ada sesuatu yang kau takuti tanpa alasan yang jelas? Pernahkah ketakutan itu begitu erat melingkupimu hingga kau bahkan tak tahu mengapa sebenarnya kau takut?

Gue pernah mengalami hal itu. Bertahun-tahun lalu, dan belum lama ini. Gue akan menceritakan tentang yang dulu saja, ya? Setidaknya untuk sekarang.

Saat kecil, gue sering terjatuh. Ada tanda di lutut kiri gue yang bertahan sejak TK hingga SMA. Baru dua tahun terakhir ini tanda itu perlahan-lahan menghilang. Tapi gue jarang sekali menangis. Gue tak pernah menangis melihat darah atau luka.

Hal-hal bersifat fisik memang membuat gue menangis—otot tertarik, kram parah, kepala benjol terantuk besi karena kecerobohan. Namun hal-hal yang gue tangisi itu… aneh.

Ada satu kenangan yang entah mengapa merasuki otak gue subuh yang gelap ini. Saat SD gue sering main polisi-maling. Suasana pasti ribut, untuk memanggil seseorang harus berteriak-teriak. Dalam satu permainan saat gue menjadi kelompok maling, gue melihat ada titik yang tidak dijaga dan bisa digunakan untuk membebaskan setidaknya dua orang. Lalu gue berteriak-teriak pada maling-maling lain yang berkeliaran. Tak ada yang mendengar. Yang ada di markas pun tak bereaksi, padahal dia pas di sebelah gue.

Entah mengapa gue tiba-tiba menangis. Lalu semua yang melihat panik. Butuh waktu yang lama sebelum gue sadar bahwa gue merasa suara gue tak didengar. Memang waktu itu hanya permainan, dan teman-teman gue terlalu hanyut dalam keseruan yang ada.

Tetapi takut yang gue rasakan itu nyata. Apa suara gue memang begitu tak berharga? Apa gue yang tidak berharga sehingga tak didengar?

Banyak kejadian berbeda dengan benang merah—suara gue terbuang bahkan tanpa didengar—yang semakin membuat gue terpuruk tanpa gue sadari. Apa gue gila perhatian? Entah. Tetapi yang gue minta hanyalah untuk mendengar apa yang gue katakan. Kalau setelah itu gue dimarahi karena apa yang gue katakan tidak sopan atau ditertawakan karena konyol, silakan. Tetapi apakah sekedar mendengar terlalu sulit? Rasanya tidak.

Akhirnya gue memutuskan untuk diam. Menilik kembali masa lalu lewat sejumlah foto, gue menemukan wajah gue cukup jujur—kecuali foto wajib seperti foto kelas atau pas foto, gue hanya mau tersenyum saat memang gue senang. Selama sekitar 4 tahun wajah gue hampir tak pernah tersenyum. Yah, demikianlah wajah seseorang yang selalu menggerutu, tetapi tak bersuara. Semuanya dipendam, takut kalau dikeluarkan hanya menyakiti diri sendiri saja.

SMP tiba. Ada sebuah tugas Biologi. Tiap murid harus membawa satu artikel ilmiah dan menjelaskan isinya dalam satu menit. Kalau bisa benar-benar pas enam puluh detik. Penilaiannya? Ha! Murid yang mendapat giliran harus membalikkan badan, lalu seisi kelas akan menilai melalui suara terbanyak, dari rentang 60 – 100.

Karena giliran maju sesuai absen, dan nama gue berada di urutan bawah, gue bisa melihat bahwa hanya ada beberapa anak yang objektif, dan sisanya memberi nilai sesuka hati. Jika mereka tak menyukai orang tersebut, anak itu bisa mendapat nilai pas-pasan walau presentasinya bagus. Beberapa kali si guru menguap, bahkan terlihat setengah tidur.

Artikel gue berhubungan dengan lumba-lumba dan telinga. Gue sendiri sudah lupa apa isinya. Artikel itu gue dapatkan dari teman yang memang membawa artikel lebih, dan gue cepat-cepat membacanya. Presentasi yang gue berikan pun sekedarnya. Saat menghadap papan dan menunggu voting, gue mengira-ngira akan mendapat nilai berapa. Gue bukan anak yang banyak bergaul, tapi masih cukup ramah. Dan presentasi tadi lumayan. Yah, delapan puluh, mungkin?

“Loh, kok nilainya segitu?” suara si guru terdengar.

Waduh, maksudnya apaan, nih?

“Kali ini saya buat pengecualian. Kamu saya kasih seratus,” kata si guru seraya menghadap gue yang saat itu langsung melongo. Pasalnya, gue melihat si guru memperhatikan saat detik-detik pertama, namun memain-mainkan kertas untuk seterusnya dan hanya menengok sekilas ke arah jam untuk menghitung jumlah detik yang gue habiskan setelah gue selesai.

Oke. Ini mungkin terdengar konyol. Setelah bertahun-tahun “bisu”, kejadian sekecil itu bisa membuat gue percaya diri kembali. Bahwa ada orang-orang yang memang mendengar, namun tidak terlihat.

Tak sampai hal itu saja… si guru membuat pengecualian untuk gue. Pengecualian. Artinya ia memperhatikan, bukan sekedar mendengar.

Jujur, itu salah satu kejadian dalam hidup gue yang sudah membantu memupuk rasa percaya diri gue. Saat memberi presentasi itu, gue berbicara lantang dan jelas, bukan dengan bisikan. Gue berdiri dengan tegak dan mata menatap penonton, tidak dengan tubuh bungkuk seraya melihat ke bawah.

Separah itukah gue takut bersuara? Dulu, ya. Kalau berkenalan dengan orang asing dan membuka mulut, terkadang tak ada suara sama sekali yang keluar dari kerongkongan gue. Separah itu.

Lalu gue merenung. Apa gue sudah memperjuangkan pendapat gue? Rasanya tidak. Gue diam saja ketika dipotong, dan hanya menjawab “oh” saat usulan gue ditolak. Bahkan saat ditanyakan pendapat, gue memilih diam karena tak mau repot-repot mengeluarkan suara yang saat itu gue yakini akan sia-sia.

Tapi… penolakan itu masih akan ada, kan?

Jadi gue bertanya lagi pada diri sendiri. Bertanya baik-baik.

“Apa hal terburuk yang pernah terjadi saat lo tidak didengar?”

Sedih. Marah. Kecewa. Merasa tak berharga. Merasa tak dianggap. Bla… bla… bla… apa lagi?

Dengan daftar yang gue miliki dan semua hal buruk (dalam skala anak ababil) yang gue alami, apakah dunia gue berakhir? Apakah hidup gue musnah dan masa depan cerah sirna? Apa gue ditendang keluar rumah atau dicemooh masyarakat luas? Dan walau semua hal di atas yang gue takuti sudah terjadi, bukankah gue tetap bisa merasa senang saat memakan es krim dan bahagia mendapat hadiah ulang tahun?

Jadi apa lagi yang harus gue takuti?

Kalau harus melalui hal-hal itu, gue memang akan tetap sedih. Tapi selama ini gue mampu menghadapinya, kan?

Bagaimana dengan opsi yang lain—bersuara terus?

Riskan. Kalau gue mencoba terus dan hasilnya tetap mengecewakan, gue akan semakin terpuruk, semakin tak percaya diri, semakin merasa diri gue tak berharga. Tetapi, setidaknya, gue tetap bisa mengeluarkan isi pikiran gue, kan?

Hmm… selalu ada malu. Malu kalau salah bicara, kalau bicara tetapi dianggap konyol. Hal-hal seperti itu. Namun gue sendiri memang tak tahu malu, jadi apa masalah sebenarnya? Apakah ada masalah sama sekali?

Di titik ini, ketakutan gue mulai terlihat konyol. Maka gue memutuskan untuk mengatasinya. Mulai dari memupuk percaya diri di depan kelas, saat orang-orang memang harus mendengarkan gue, lalu mulai sering memberi masukan saat kerja kelompok.

Lama-lama, gue senang. Gue tak harus memaksakan diri terlalu lama sebelum terbiasa untuk berbicara. Gue tahu tak harus memaksakan pendapat, dan sebagiannya adalah karena gue tahu rasanya jika pendapat gue ditolak mentah-mentah. Gue menemukan bahwa ternyata gue bisa luar biasa cerewet saat senang. Ternyata gue mampu menghadapi kritik habis-habisan karena selama gue membisu, gue sebenarnya membiasakan diri gue untuk mendengar orang lain.

Sekarang? Setidaknya gue nggak mati kutu kalau harus berhadapan dengan orang asing. Bisa memaksakan diri menghadapi penonton kecil walau gugup.

Lalu gue mengingat dulu, saat gue gelagapan jika ditanya-tanya oleh orang yang baru gue kenal. Astaga… sebenarnya apa yang gue takutkan dulu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s