Karena Semua Ini

Halo. Hai. Kau disana? Kau sedang membaca? Bagus, bagus.

Kudengar kau bingung memikirkan segala macam alibi yang bisa kau gunakan sebagai alasan untuk pergi ke Inggris? Yah, aku di sini untuk membantu.

Sekarang, matikan musik. Posisikan dudukmu agar nyaman dan baca baik-baik. Sudah? Baiklah. Dan sebelumnya, tolong pahami, aku melakukan ini bukan untukmu, tetapi untuk diriku. Nanti akan kuberi tahu mengapa.

Kau harus pergi ke Inggris karena alasan-alasan yang kecil selayang pandang, namun sebenarnya juga memiliki nilai dan arti.

Kau berpikir bahwa kemungkinanmu menang kecil. Segenggam orang dari entah berapa ribu kontestan. Belum lagi yang membuat lusinan karangan. Bahkan hadiah hiburan pun rasanya begitu jauh dari jangkauan.

Dan memang benar. Tetapi, lihatlah; kau masih mau mencoba. Kau mau mengalahkan suara olok-olok di kepalamu yang menghina, mengatakan bahwa menghabiskan malam demi malam mengetik hingga mata kering hanya membuang waktu saja. Kau cukup berani untuk menghadapi ketakutanmu sendiri bahwa kau tak cukup baik untuk memenangkan sesuatu. Kau cukup berani untuk mengakui bahwa akan ada ribuan tulisan di luar sana yang lebih baik, namun kau tetap mengangkat pensil untuk menggurat di atas kertas dan mengetiknya, lalu mempublikasikannya bagi khalayak umum.

Kau cukup berani untuk membiarkanku bicara padamu, karena sesungguhnya jika kau memang begitu takut pada kekalahan dan ingin melenyapkan ilusi harapan, kau tidak sedang menunda mandi dan mendengarkan kata hati sekarang.

Kau cukup berani untuk memutuskan bahwa lebih baik menangisi kekalahan ketimbang bertanya-tanya akan seribu kemungkinan tentang apa yang bisa terjadi andaikan kau mencoba.

Kau rela meninggalkan les online-mu dan tidak mendapat sertifikat karena ingin fokus menulis walau dengan talenta yang tidak seberapa.

Aku tahu kau cukup percaya diri, namun tidak menyukai menjadi objek bidikan kamera. Terlebih mengambil foto diri sendiri. Lihatlah, kau memaksa membeli keripik kentang Mr Potato dan Veetos dan SMAX Ring walau kau sedang batuk. Lalu kau berpose dengan mereka, walau setengah hati, demi mendapatkan validasi akan tulisanmu.

Mengapa kau harus pergi ke Inggris?

Karena sudah beberapa hari ini kau begadang hingga jam dua, menulis dan mengetik. Mencari inspirasi dari aneka tulisan dan puisi. Karena kau tahu bahwa kreativitasmu ada dalam puncaknya saat tengah malam—saat semua tenang dan diam.

Kau yang suka mengoreksi tugas teman-teman namun enggan membaca ulang tulisan sendiri, namun mau menyunting tulisan-tulisanmu untuk lomba ini. Kau pikir itu bukan alasan? Itu adalah penanda usaha; sebuah “karena” untuk pertanyaan “mengapa”.

Dan kau sudah menepati janji temanmu bahwa kau akan berusaha. Pertama demi dia, lalu bagimu sendiri. Dan sekarang kau benar-benar menginginkan hadiah ini.

Itu alasan-alasan kecil yang terpikirkan olehku. Sekarang tarik nafas dalam-dalam. Aku belum selesai denganmu.

Mengapa kau harus ke Inggris?

Karena, astaga, kau sudah lama ingin ke Inggris. Entah pengaruh tren atau daya tarik luar negeri atau karena alasan lain yang tak kau pahami, Inggris memiliki pesonanya sendiri. Di matamu negara itu seperti berada dalam dunia lain. Di matamu negara itu terlihat magis. Dan kau ingin mencicipi sihirnya secara langsung.

Kau harus ke Inggris karena tempat-tempat yang ingin kau kunjungi di sana, dan karena segala yang akan kau alami pula. Perlukah kudaftarkan satu-persatu? Big Ben, Istana Buckingham, Museum Sherlock Holmes, London Eye… bahkan stadion sepak bola. Kau mungkin bukan penggila bola, namun kau sudah lama ingin tahu daya tarik sebuah stadion. Demi apa… kau bahkan belum pernah menginjak bandara! Maka kau harus pergi kali ini. Ditambah lagi kau bisa menyaksikan musim gugur. Itu juga salah satu impianmu, bukan? Nah, oleh karena itu, kau harus bersemangat!

Kau harus ke Inggris karena kau ingin bepergian. Dan kau sudah mulai berusaha dari sekarang. Walau dari hal kecil, namun ini sebuah permulaan. Bukankah kau percaya pada mukjizat dan keajaiban? Pesanku, berdoalah. Mungkin hal itu akan terjadi kali ini. Kita tidak pernah tahu, kan?

Tidak seperti yang ditulis banyak peserta, Inggris tidak menanti. Inggris berdiri angkuh karena ia tahu sedang diperjuangkan olehmu. Ia tidak perlu menunggu. Orang banyak akan datang padanya. Bahkan penduduknya sendiri tetap mengaguminya walau sudah tinggal di sana. Banyak pelancong sepertimu merasa mereka harus ke Inggris, walau sekali saja.

Dan memang kau harus ke sana. Jika kau tidak mencoba dan berhasil, baik melalui lomba ini atau kesempatan lain, kau akan menyesal. Sangat, sungguh, selalu menyesal. Kata seseorang yang lebih bijak dariku, pada akhirnya kau menyesali apa yang tidak pernah kau lakukan. Orang bijak itu benar. Dan apa kau ingin menambah “aku tidak pernah pergi ke Inggris” dalam daftar penyesalanmu? Kurasa tidak. Memang tidak. Maka kau harus ke sana.

Kau layak. Kau pantas. Apapun juga hasil yang kau terima, ketahuilah bahwa itu yang terbaik. Jika kau gagal kali ini, bersedihlah. Kau juga manusia. Namun jangan menyerah atau berpikir semua yang kau lakukan sia-sia. Sesungguhnya, cukup. Hanya saja, mungkin ada  orang-orang yang lebih memerlukannya darimu.

Mengapa kau harus ke Inggris?

Karena kau harus kesana untukku. Karena aku adalah kamu. Dan kau layak pergi ke negeri nun jauh di sana karena semua alasan yang sudah kuberitahukan di atas. Ya, semuanya. Dan lebih banyak alasan yang tak bisa kuungkapkan dalam kata-kata.

WP_20140530_18_27_43_Pro20140530183645[1]

Akun sosmed buat cek sudah follow dan like apa belum:
Twitter: @anonsibe
Facebook: Shannon Sibe Chukcha

Advertisements

One thought on “Karena Semua Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s