“Kenapa?”

Astaga… apa yang telah gue lakukan?

Tampaknya, karena hasutan seorang teman dan keisengan membuat janji (yang gue tepati, tentunya, karena gue orang yang bisa dipercaya hohoho….) gue “terpaksa” mengikuti lomba ini. Yah, yang sudah terjadi, biarkanlah.

Oke, Shan, lo harus serius. Hmm… apa temanya? Mengapa gue harus pergi ke Inggris, kan? Sip. Mari kita mulai alur pikiran yang entah kemana arahnya ini.

Alasan pertama yang terpikir adalah… gue ingin berkelana. Itu saja. Sederhana, bukan? Tapi, masalahnya tak sesederhana itu. Mungkin ini akan menjadi saluran curhat gue, dan bukan untuk mengikuti lomba. Entahlah. Gue harus mengikuti kata hati gue dan menulis mengetik apa yang ada di hati. Hahaha….

Jadi, selama 17 tahun lebih gue hidup, gue belum pernah satu kali pun menginjakkan kaki di muka bumi selain 3 provinsi; DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Naik kapal? Kapal nelayan ke Pulau Seribu, ya. Bepergian naik kapal pesiar? Ha! Dalam mimpi. Gue bahkan belum pernah masuk bandara. Sejujurnya, hidup gue oke-oke saja. Gue nggak merasa terbebani untuk mengelilingi dunia atau mencicipi budaya lain secara langsung. Tapi… akan sangat menyenangkan kalau gue bisa pergi ke Inggris.

Apalagi jika karena usaha gue sendiri, tanpa harus membebani orang tua. Kasihan mereka, sudah harus menghidupi gue yang (kadang-kadang) banyak maunya dan bayar ini-itu.

Apalagi jika usaha itu hanya memerlukan gue mencurahkan isi hati. Gue bisa melampiaskan isi pikiran dan mendapat hadiah? Kenapa tidak, Bung?

Terlebih lagi, gue memiliki alasan untuk membeli Mr. Potato. Hal itu sangat menggiurkan dan sudah menjadi hadiah pasti untuk perut gue. Hahaha!

Haduh, haduh, gue mulai melantur. Serius, Shan, serius. Gue ingin ke Inggris. Negara ini memang salah satu tempat yang ingin gue kunjungi. Sekali saja. Gue ingin “menemukan diri” gue di negara lain. Gue ingin mengelilingi tempat yang asing. Meresapi atmosfer yang berbeda. Berkenalan dengan orang-orang baru. Menghirup udara yang baunya berbeda. Memabukkan diri dengan tempat-tempat luar biasa yang akan gue kunjungi.

Dari yang sekilas gue sempat baca, tur yang direncanakan meliputi  beberapa stadion. Mungkin ini akan mengurangi kesempatan gue menang, tetapi gue bukan fans sepak bola. Gue bisa saja menikmati suasana pertandingan, atau bahkan ikut terpana hanya dengan menginjakkan kaki di atas lapangan berumput rata yang dijaga sedemikian rupa. Tetapi, lagi, gue bukan penggila sepak bola.

Tempat-tempat yang gue senangi adalah yang memiliki kualitas yang bisa membuat gue ingin bernostalgia. Seperti museum-museum dan bangunan lama. Bukan yang angker, ya! Yang membuat lo serasa ingin duduk di lantai (atau bahkan selonjoran) dan mengagumi keindahan karya manusia.

“Museum Sherlock.” Nama itu yang pertama membuat gue tertarik dan terjebak (halah, alibi!) mengetik di laptop gue saat ini. Pas satu menit lewat tengah malam. Enggak, deh, gue memang sudah berencana memulai lanturan malam hari. Cuma, yah, gue gak nyangka akan masih mengetik selarut ini. Gue kira gue akan mengetik sekitar 100 – 200 kata lalu tidur dan melanjutkan post ini nanti-nanti. Setelah sesi-sesi penangguhan. Lalu baru benar-benar selesai tanggal 30 Mei.

Tetapi memang karena gue penggila Sherlock. Koleksi cerita Sherlock gue miliki lengkap, tersimpan manis berdesakkan bersama novel-novel lainnya dalam rak buku gue yang kian hari kian sempit. Oh, ya ampun, gue mulai melantur lagi.

Bagi para pembaca, dan para juri, maaf kalian harus membaca post yang (akan menjadi) panjang ini. Sepertinya teman gue memiliki pengaruh yang besar terhadap gue. Sekarang gue benar-benar ingin pergi kesana. Artinya post ini berpeluang besar menjadi semakin tidak jelas.

Oke, mari kita coba lagi dengan pendekatan berbeda.

“Jadi, Shannon, kenapa lo harus pergi ke Inggris?”

Sesungguhnya, kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan, sesungguhnya, gue sendiri belum tahu pasti alasan gue ingin ke Inggris. Memang gue ingin melihat London Eye, Istana Buckingham, Big Ben, dan lain-lain. Tetapi… terlebih dari “pergi ke Inggris”, yang lebih gue inginkan adalah sekedar “pergi”.

“Kenapa?”

Gue ingin melihat-lihat negara orang lain. Merasakan budaya. Gue ingin mencari suasana berbeda. Gue ingin pergi ke Inggris dan mencetak satu lembar kosong dalam hidup gue yang terputus dari buku kehidupan gue selama ini tetapi bisa menjadi dasar sebuah bab baru. Bab petualangan yang tak terlupakan.

“Kenapa?”

Gue sedang dalam tahap dimana hidup ini begitu monoton dan tak terlalu banyak yang bisa gue lakukan untuk membuat perubahan. Novel-novel gue terbengkalai. Seri film yang belum gue tonton kian hari kian menumpuk. Setiap hari gue yang sedang libur ini tidur siang kalau tak pergi dengan orang tua. Lalu tak bisa tidur di malam hari. Lalu mencoba menulis sesuatu. Lalu tertidur—akhirnya—sekitar jam dua subuh setelah melakukan hal-hal tidak penting seperti menongkrongi Twitter atau mengobrol gaje di tengah malam dengan LINE. Buat gue rutinitas ini tidak buruk. Cukup. Tetapi gue ingin yang lebih. Walau hanya untuk beberapa hari.

“Kenapa?”

Karena… gue bosan. Gue ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan ini adalah salah satu caranya. Gue tahu di luar sana ada banyak hal yang bisa gue pelajari. Banyak yang bisa gue lakukan. Dan mungkin gue melihat lomba ini sebagai suatu kesempatan.

“Kenapa?”

Karena ini adalah sesuatu yang bisa gue lakukan dengan kerja keras sendiri. Tak ada orang yang bisa menghalangi. Gue nggak mau menunggu sampai perubahan itu datang dari entah berantah dan bahkan tak pernah muncul. Sekali ini, biarlah gue setidaknya mencoba melakukan sesuatu yang berarti. Demi gue sendiri. Walau hanya untuk gue sendiri.

“Kenapa?”

Ka-re-na… entahlah. Mungkin hanya untuk pembuktian diri.

“Kenapa?”

Selama ini gue merasa tak banyak dalam hidup yang telah gue lakukan. Bukannya hidup gue polos dan gelap tanpa kenangan-kenangan bahagia. Hanya saja gue tahu gue bisa melakukan hal yang lebih. Bisa jadi gue ingin membuktikan bahwa menulis bisa menghasilkan sesuatu. Bisa jadi gue ingin membuktikan gue bisa menghasilkan tulisan yang bisa menghasilkan sesuatu.

“Kenapa?”

Gue takut. Sungguh takut. Gue nggak mau saat gue tua nanti—jika gue mendapat kesempatan menjadi setua apapun gue nanti—gue melihat ke belakang dan menemukan gue membuang begitu banyak hal. Segala kemungkinan yang gue tutup untuk diri gue, padahal yang hanya perlu gue lakukan adalah menggurat di atas kertas, memijit keyboard. Lalu hidup gue tersia-siakan. Syahdan, siapa yang bisa disalahkan—siapa kalau bukan gue sendiri?

“Kenapa?”

Karena gue bertanggung jawab atas hidup gue sendiri. Apa yang gue lakukan, apa yang gue pikirkan, apa yang gue usahakan. Sekarang gue memilih untuk mengusahakan curahan hati tak jelas ini, seabstrak apapun jadinya. Kecil sekali kesempatan gue untuk terpilih, ditambah lagi dengan betapa tak topikalnya runutan ini, tetapi tak apalah.

“Kenapa?”

Hmm… apa lo tahu? Gue mempublikasikan post ini tidak langsung, tetapi saat ini—saat gue menulis kata-kata ini—sudah jam dua subuh. Gue sudah menghabiskan hampir tiga jam mengetik lebih dari seribu kata untuk sebuah lomba yang pada awalnya gue anggap selingan waktu untuk iseng menulis sekaligus menyenangkan teman. Dan selain beberapa kesalahan ejaan yang gue benarkan, hasil yang sedang lo baca sekarang ini nyaris bebas suntingan.

Sudah lama gue nggak menulis sesuatu dengan benar-benar “mentah”. Biasanya masih ada buah pikir dibalik tulisan-tulisan gue. Setelah menahan segala emosi yang pada akhirnya tertumpah indah dalam pola alfabet yang membentuk untaian kata, gue benar-benar berterima kasih pada teman gue yang bernjanji akan membelikan Mr. Potato kalau gue menulis ini. Gue yakin dia juga akan membaca ini. Terima kasih. J

Apa lo tahu? Gue sudah menemukan alasan kenapa gue layak untuk pergi ke Inggris. Lebih dari itu—alasan kenapa gue harus mulai berani melakukan hal-hal baru. Alasan gue harus mengeksplorasi diri lebih dalam lagi. Dari segi talenta, kehidupan, atau sekedar mengenal diri dengan lebih baik.

Agar gue tidak menyesal tidak pernah melakukan semuanya. Agar gue bisa mengenang masa lalu dan berbangga. Mengatakan, “Hei, gue dulu pernah mengalami itu!”

Ada alternatif yang jauh lebih sederhana.

“Kenapa lo mau ke Inggris?”

“Mau aja. Kenapa tidak?”

Vincent van Gogh pasti tak menyangka lukisan-lukisannya akan menjadi begitu terkenal saat ia sudah tiada. Demikian gue tak menyangka gue bisa menghasilkan esai sentimental seperti ini. Sejujurnya, gue akan merasa puas hanya dengan post ini tanpa harus pergi ke Inggris.

Enggak, deh. Bohong banget. Itu hanya gue yang sok-sok tegar kalau-kalau post gue ini nggak terpilih, hahaha….

Kalau memang gue bisa ke Inggris (dan gratis!), kenapa nggak?

 

 

Jakarta, di atas kasur empuk, ditemani suara air kolam dan gemuruh AC yang menembus diam.

11.20-an malam sampai 02.17 subuh, 18 – 19 Mei 2014.

 WP_20140522_12_20_52_Pro

Maaf fotonya kurang niat. Saya bukan orang narsis, hahaha…. *dijitak seluruh peserta yang fotonya artistik dan niat abis*
Akun sosmed buat cek sudah follow dan like apa belum:
Twitter: @anonsibe
Facebook: Shannon Sibe Chukcha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s